RIAU ONLINE, PEKANBARU — Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kota Pekanbaru pada Sabtu 26 September 2026 siang ternyata belum mampu menjaga kualitas udara tetap bersih. Memasuki sore hari, asap kembali terlihat di sejumlah kawasan setelah hujan reda.
Kemunculan asap tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Riau maupun daerah lain di Pulau Sumatera.
Kondisi ini cukup kontras dengan situasi pada pagi hari, ketika kualitas udara Pekanbaru masih berada dalam kategori baik.
Berdasarkan data pemantauan kualitas udara dari IQAir.com pada pukul 16.00 WIB, indeks kualitas udara atau AQI⁺ Pekanbaru tercatat 104, yang masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Sementara itu, polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5 dengan konsentrasi 36,7 µg/m³.
Pada waktu yang sama, suhu udara berada di angka 28 derajat Celsius, dengan kecepatan angin hanya sekitar 2 kilometer per jam dan tingkat kelembapan mencapai 78 persen.
Rendahnya kecepatan angin berpotensi membuat polutan dan asap bertahan lebih lama di udara, terutama ketika sumber asap masih berada di sekitar wilayah Riau maupun terbawa dari daerah lain.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hujan tidak selalu langsung membuat kualitas udara membaik dalam jangka waktu panjang. Setelah hujan berhenti, kondisi atmosfer dan pergerakan angin turut memengaruhi konsentrasi polutan di udara.
Masyarakat, khususnya kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan, perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Jika konsentrasi PM2.5 kembali meningkat, penggunaan masker dan pengurangan aktivitas luar ruangan dapat menjadi langkah pencegahan untuk mengurangi paparan polusi udara.

