RIAU ONLINE, JAKARTA - Pemerintah tegaskan perekrutan siswa Sekolah Rakyat tidak menggunakan seleksi akademis. Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono, Kamis, 19 Februari 2026.
Agus Jabo menjelaskan, kriteria yang harus dipenuhi adalah siswa harus berasal dari keluarga miskin.
“Tidak ada seleksi akademis. Pokoknya ini orang miskin,” kata Agus Jabo, dikutip dari KUMPARAN.
“Kalau mereka miskin layak masuk Sekolah Rakyat, kalau (mereka) sakit, Kemensos harus obati mereka, kalau sudah sembuh masukkan ke Sekolah Rakyat,” imbuhnya.
Proses seleksi siswa Sekolah Rakyat adalah dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang berada pada desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memuliakan masyarakat prasejahtera dan memastikan proses perekrutan bebas dari praktik nepotisme.
“Pak Ketua tidak boleh titip, Pak Wakil Ketua enggak boleh titip, saya juga enggak boleh titip. Tetapi kalau di lingkugan njenengan ternyata banyak orang miskin, silakan diusulkan. Nanti yang akan menentukan Kemensos. Begitu data masuk kita akan cek lapangan benar enggak ini, itu lho,” ujarnya.
Sekolah Rakyat merupakan sekolah berasrama jenjang SD, SMP, dan SMA dengan fasilitas lengkap, mulai dari lapangan olahraga, perpustakaan, ruang kelas, hingga makan bergizi tiga kali sehari. Setiap siswa memperoleh delapan setel seragam serta fasilitas laptop untuk mendukung pembelajaran.
Agus Jabo menambahkan, jika Sekolah Rakyat berdiri di Brebes, maka siswa yang diterima harus berasal dari Brebes, guru dan kepala sekolah juga diprioritaskan dari daerah setempat.
“Kalau itu di Brebes, siswanya harus dari Brebes. dari desil 1 dan 2. Terus guru-gurunya juga kita prioritaskan dari Brebes, termasuk kepala sekolahnya kita prioritaskan dari Brebes. Jadi karena nanti masing-masing kota, kabupaten punya sendiri,” pungkasnya.

