Tangisan di Tanah Serambi: Kampung Lenyap Tak Berbekas, Warga Tidur di Jalanan

Banjir-Aceh2.jpg
Foto udara kerusakan rumah warga pasca diterjang banjir bandang di Desa Kota Lintang, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu, 3 Desember 2025. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/nz)

RIAU ONLINE - Gubernur Aceh Muzakir Manaf menitikkan air mata saat mengungkap adanya kampung hingga rumah yang tersapu dahsyatnya banjir dan longsor di Tanah Serambi itu.

Muzakir bahkan menyebut bencana ini seperti tsunami kedua yang menghantam Aceh. Kedahsyatan bencana ini telah menelan empat kampung, yakni kampung di daerah Sawang, Jambo Aye di Aceh Utara hingga kampung di kawasan Peusangan, Bireuen.

"Ada beberapa kampung hilang entah ke mana, yaitu Sawang, Jambo Aye, juga Bireuen, Peusangan. Malam itu empat kampung gak tau entah ke mana. Jadi, Aceh sekarang seperti tsunami kedua," ujar Muzakir, dikutip dari Liputan6.com, Rabu, 3 Desember 2025.

Pembukaan akses darat yang cepat harus menjadi prioritas utama. Sehingga logistik bisa menjangkau masyarakat. Terutama di desa-desa yang masih terisolasi.

"Jadi, tugas kami adalah untuk melayani mereka-mereka yang terdampak dan menjadi korban," katanya.

Di sisi lain, ada Bukhari Muslim, warga Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, hanya bisa memandang tanah lapang dan bekas puing bangunan yang berserakan. Deretan rumah warga yang semula berdiri di sana, tak terlihat lagi.

Tak ada lagi yang tersisa. Semua harta benda lenyap tanpa jejak. Tak ada tempat untuk berteduh dari teriknya Matahari dan dinginnya malam. Di Kampung itu, 83 rumah warga hilang tersapu banjir bandang.

"Ada sebanyak 83 rumah warga hilang terseret banjir. Kondisi warga yang kehilangan rumah tidak memiliki apa-apa lagi akibat banjir yang melanda beberapa waktu lalu," kata Bukhari Muslim, Selasa, 2 Desember 2025.



Masih lekat diingatan Bukhari, saat arus banjir yang begitu deras melanda Desa Bunin pada Rabu 26 November 2025. Air berwarna keruh membawa material lumpur, kayu, dan bebatuan besar. Menyapu apa saja yang ada di depannya.

Puluhan rumah yang dilewati banjir roboh, sementara lainnya terseret derasnya arus hingga hanya menyisakan fondasi. Warga yang sempat menyelamatkan diri mengaku tidak menyangka banjir datang secepat itu, kata Bukhari Muslim.

"Suara banjir seperti gemuruh dari atas gunung. Tiba-tiba air besar datang membawa kayu-kayu besar, kami langsung lari menyelamatkan diri meninggalkan rumah," ucapnya.

Masih ada 13 rumah warga yang berdiri. Tapi kondisinya rusak parah. Warga menitipkan harapan pada pemerintah daerah. Karena saat ini banyak yang kelaparan dan tidur di jalan.

"Sebagian warga yang terdampak bencana sakit dan tidak ada uang untuk membeli obat," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur Ashadi mengaku masih mendata kerusakan rumah warga terdampak banjiri, terutama di wilayah pedalaman.

"Pendataan di wilayah pedalaman masih terkendala akses karena ada beberapa titik jalan terputus, jembatan rusak, dan genangan air yang belum surut," katanya.

Berdasarkan data sementara selain di Kecamatan Serbajadi, rumah dan fasilitas umum yang rusak tersebar di sejumlah kecamatan lainnya. Rinciannya, lima rumah rusak berat, empat rumah rusak sedang, dan 15 rumah lainnya rusak ringan.

Rumah rusak tersebut tersebar di Kecamatan Idi Rayeuk, Kecamatan Darul Ihsan, Kecamatan Pereulak Timur, Kecamatan Pereulak, Kecamatan Bireum Bayeun, Kecamatan Banda Alam, Kecamatan Julok, Kecamatan Madat, dan Kecamatan Simpang Ulim.

"Selain mendata, kami fokus menyalurkan bantuan kepada masyarakat di wilayah terdampak banjir serta mengevakuasi warga yang membutuhkan," tuturnya.

Dia lalu mengatakan, saat ini tugasnya adalah memastikan penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda 18 kabupaten atau kota di Aceh, harus dilakukan secara cepat, terukur, dan tanpa jeda.