Karhutla Kian Parah, 62 Sekolah di Pelalawan Diliburkan akibat Kabut Asap

Karhutla-Masuk-Hari-ke-11-di-Riau-Api-Masih-Berkobar-di-Tengah-Akasia-Liar.jpg
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau. (ANTARA FOTO)

RIAU ONLINE, PELALAWAN - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Pelalawan, Riau, semakin mengganggu aktivitas masyarakat. 

Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah mengambil langkah antisipasi dengan meliburkan sementara kegiatan belajar mengajar di puluhan sekolah.

Bupati Pelalawan Zukri mengatakan, sedikitnya 62 sekolah tingkat TK, SD, hingga SMP diliburkan akibat kondisi udara yang terdampak kabut asap. Kebijakan tersebut diterapkan untuk melindungi para siswa dari paparan asap dalam waktu lama.

"Total ada 62 sekolah, mulai dari TK, SD dan SMP. Sedangkan SMA, karena kewenangan provinsi, tak berani kita memerintahkannya, paling imbauan saja," kata Zukri dikutip dari kumparan, Minggu, 23 Agustus 2026.

Menurut Zukri, sekolah-sekolah yang diliburkan tersebar di tiga kecamatan yang terdampak kabut asap cukup pekat, yakni Kerumutan, Ukui, dan Pangkalan Lesung.

"Di Kecamatan Kerumutan, Ukui, dan Pangkalan Lesung, total desa ada sembilan dan dua kelurahan," ujarnya.



Keputusan tersebut diambil seiring kondisi kabut asap yang dinilai mulai mengganggu aktivitas warga.

Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat, khususnya anak-anak dan orang tua, untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan selama kualitas udara masih terdampak asap.

Zukri meminta warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah untuk menggunakan masker sebagai upaya mengurangi risiko paparan asap.

Selain itu, masyarakat kembali diingatkan agar tidak melakukan pembakaran lahan, baik dalam skala besar maupun kecil.

"Kami mengimbau masyarakat jangan membakar lahan, baik dalam ukuran besar maupun kecil," tegas Zukri.

Di sisi lain, petugas gabungan masih berjibaku menangani titik-titik karhutla di wilayah Pelalawan. Pemadaman dan pendinginan terus dilakukan untuk mencegah api kembali membesar dan meluas.

Upaya tersebut juga menjadi bagian dari penanganan dampak kabut asap yang kini mulai dirasakan masyarakat, termasuk terganggunya kegiatan pendidikan.

Dengan kondisi asap yang belum sepenuhnya mereda, pemerintah daerah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengutamakan keselamatan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak.