Karhutla Masuk Hari ke-11 di Riau, Api Masih Berkobar di Tengah Akasia Liar

Karhutla-Masuk-Hari-ke-11-di-Riau-Api-Masih-Berkobar-di-Tengah-Akasia-Liar.jpg
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau. (ANTARA FOTO)

RIAU ONLINE, PELALAWAN - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau, masih terus dilakukan. 

Hingga memasuki hari ke-11 penanganan, api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Total luas lahan yang terbakar mencapai 64 hektare.

Kondisi medan yang sulit menjadi salah satu kendala utama bagi tim pemadam. 

Titik api berada cukup jauh dari akses kendaraan dan berada di tengah tanaman akasia liar yang membuat proses pemadaman membutuhkan waktu serta tenaga ekstra.

Kepala Daops Manggala Agni Rengat, Muhammad Sodik, mengatakan tim masih berjibaku untuk menjangkau lokasi kepala api yang berada di area dengan vegetasi cukup rapat.

“Posisi kepala api berada di dalam tanaman akasia liar sehingga dibutuhkan usaha ekstra untuk mencapainya,” ujar Sodik dikutip dari Antara, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurutnya, akses menuju lokasi kebakaran menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengangkut peralatan pemadaman menggunakan kendaraan roda dua, petugas membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Sementara jika harus ditempuh dengan berjalan kaki, jaraknya mencapai sekitar 1,5 kilometer.

“Untuk mengangkut peralatan menggunakan kendaraan roda dua membutuhkan waktu 1,5 jam, dan jika berjalan kaki jaraknya adalah 1,5 kilometer,” katanya.

Kondisi tersebut membuat strategi pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan satu metode. Manggala Agni mengoptimalkan berbagai upaya, baik melalui jalur darat maupun dukungan udara, untuk mempercepat proses penanganan dan mencegah api meluas ke area lainnya.



Salah satu langkah yang dilakukan adalah membangun waduk sebagai sumber air alternatif di sekitar lokasi kebakaran.

Pembuatan waduk dinilai penting mengingat lokasi titik api berada jauh dari sumber air alami. Dengan adanya waduk, tim diharapkan dapat lebih mudah mendapatkan pasokan air untuk mendukung proses pemadaman di lapangan.

Upaya tersebut dilakukan secara maksimal karena kondisi lahan yang terbakar memiliki potensi membuat api kembali menyala apabila tidak benar-benar dipadamkan hingga ke bagian bawah permukaan.

Tim juga harus memperhitungkan kondisi cuaca, arah angin, serta karakteristik bahan bakar di lokasi. Perubahan arah angin dapat membuat api dengan cepat menjalar dan menyulitkan petugas yang sedang melakukan pemadaman.

Selain fokus di Kerumutan, Manggala Agni Daops Rengat juga melakukan penanganan Karhutla di wilayah Sungai Guntung Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu.

Di lokasi tersebut, luas lahan yang terbakar diperkirakan telah mencapai sekitar 50 hektare. Namun, luasan tersebut masih berpotensi bertambah karena proses penanganan dan pemantauan terhadap titik api masih berlangsung.

Penanganan Karhutla di Sungai Guntung Hilir kini telah memasuki hari ketujuh. Meski demikian, status kebakaran di wilayah tersebut hingga kini belum diumumkan secara resmi.

Sodik mengatakan kondisi medan di Sungai Guntung Hilir juga menjadi tantangan serius bagi tim pemadam. Selain bahan bakar yang cukup padat, petugas harus bekerja dalam kondisi asap tebal dan angin yang cukup kencang.

“Saat ini sudah hari ke-7 penanganan dan statusnya belum diumumkan. Tantangan di lapangan adalah kondisi bahan bakar padat, asap tebal, dan kondisi angin kencang,” kata Sodik.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman harus dilakukan secara hati-hati dan terukur. Petugas tidak hanya berupaya memadamkan api yang terlihat di permukaan, tetapi juga melakukan penanganan terhadap area yang berpotensi menjadi sumber munculnya kembali titik api.

Karhutla yang terjadi di dua wilayah tersebut menjadi perhatian serius karena selain berpotensi memperluas area terdampak, asap yang dihasilkan juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan kualitas udara.

Tim Manggala Agni terus melakukan pemantauan dan penanganan di lapangan dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia. Strategi pemadaman dari darat dipadukan dengan dukungan udara untuk menjangkau titik-titik yang sulit diakses.

Dengan kondisi medan yang berat, proses pemadaman Karhutla di Kerumutan maupun Sungai Guntung Hilir diperkirakan membutuhkan waktu. Petugas pun dituntut untuk terus menjaga titik-titik yang telah berhasil dipadamkan agar tidak kembali terbakar.

Manggala Agni memastikan penanganan terus dilakukan hingga api benar-benar dapat dikendalikan dan seluruh titik yang berpotensi menimbulkan kebakaran susulan dapat diamankan.