RIAU ONLINE, PEKANBARU – Di tengah gempuran produksi kain tenun berbasis mesin, tenun songket tradisional yang dibuat menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) masih tetap eksis dan mampu bersaing.
Bahkan, hasil karya tenun songket ini diminati hingga ke negara tetangga seperti Malaysia.
Rumah produksi kain tenun songket tersebut berlokasi di Jalan Kayu Manis, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru. Berdiri sejak 1969, usaha ini dijalankan secara turun-temurun.
Sejumlah perempuan tampak sibuk merangkai benang berwarna-warni di atas alat tenun tradisional. Motif khas songket perlahan muncul dari helai demi helai benang yang ditenun dengan penuh ketelitian.
Untuk menyelesaikan sehelai kain tenun songket berukuran dua meter, para pekerja membutuhkan waktu hingga satu minggu. Hal ini menunjukkan proses pembuatan yang tidak hanya memerlukan keterampilan, tetapi juga kesabaran tinggi.
Pemilik rumah produksi, Wan Fitri Handayani mengatakan, kunci keberlangsungan usahanya terletak pada kualitas. Menurutnya, kain songket hasil ATBM memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan produk berbasis mesin.
“Kami tetap bertahan karena kualitas dan keunikan motif songket tradisional. Itu yang membuat banyak orang masih memilih karya tenun ini,” ujar Wan Fitri.
Motif yang dihasilkan pun beragam, mulai dari pucuk rebung, tampuk manggis, siku keluang, hingga motif khas Melayu Riau lainnya. Kain songket ini dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga mancanegara.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Salah satunya terkait sumber daya manusia yang harus memiliki kesabaran dan ketelitian dalam menenun. Dari sisi harga, kain tenun songket ATBM dihargai lebih tinggi dibandingkan produk mesin, yakni mulai Rp400 ribu hingga jutaan rupiah per helai.

