RIAU ONLINE, PEKANBARU - Di tengah derasnya arus modernisasi yang membuat banyak tradisi perlahan terlupakan, suara alat tenun masih setia berdenting dari sebuah rumah sederhana di Jalan Inpres, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru.
Di tempat itulah Winda, seorang pengrajin songket Melayu, menenun lebih dari sekadar kain. Ia sedang merawat identitas, menjaga sejarah, dan memastikan warisan budaya tetap hidup di tangan generasi berikutnya.
Jemari Winda bergerak lincah menyusun benang demi benang. Proses yang memerlukan kesabaran tinggi itu telah menjadi bagian dari hidupnya sejak masih duduk di bangku SMK Negeri 4 Pekanbaru. Dari sana, kecintaannya terhadap seni tenun tumbuh hingga mengantarkannya bekerja selama lima tahun di Tenun Wan Fitri sebelum akhirnya membangun usaha sendiri setelah menikah.
"Keahlian ini saya pelajari sejak sekolah. Setelah bekerja beberapa tahun, akhirnya saya mencoba membuka usaha sendiri," tuturnya.
Di ruang tamunya, berbagai lembar songket tersusun rapi di dalam lemari kaca. Setiap motif dan kilauan benang emas menyimpan kisah panjang tentang budaya Melayu yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, mempertahankan tradisi bukanlah perkara mudah. Selain menghadapi kenaikan harga bahan baku impor akibat fluktuasi nilai tukar dolar, Winda juga dihadapkan pada tantangan yang lebih besar, yakni menurunnya minat generasi muda terhadap dunia tenun.
Menurutnya, banyak anak muda menganggap songket hanya identik dengan acara adat atau digunakan oleh kalangan orang tua.
Padahal, di balik setiap helai kain tersimpan filosofi kehidupan yang mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan ketekunan.
"Jangan berharap mereka langsung berminat. Yang paling penting adalah mengenalkan terlebih dahulu. Kalau mereka sudah tahu dan mengenal songket, ketertarikan itu akan tumbuh dengan sendirinya," Jelasnya.
Keyakinan itulah yang membuat Winda terus membuka ruang belajar bagi para pelajar. Melalui program Praktik Kerja Lapangan (PKL), setiap tahun siswa-siswa SMK datang ke tempat usahanya untuk mengenal lebih dekat proses pembuatan songket.
Mereka tidak hanya belajar teknik menenun, tetapi juga memahami makna di balik setiap motif, cara merangkai benang, hingga nilai budaya yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran yang tak bisa diperoleh hanya melalui buku pelajaran.
Bagi Winda, mengenalkan songket kepada generasi muda adalah investasi jangka panjang agar warisan budaya Melayu tetap lestari. Ia percaya, rasa cinta terhadap budaya akan tumbuh ketika seseorang diberi kesempatan untuk mengenalnya secara langsung.
"Saya berharap usaha songket ini bisa lebih maju, lebih dikenal, dan lebih diminati, terutama oleh anak muda. Jangan sampai berhenti di sini saja. Harus ada yang melanjutkan," katanya penuh harap.
Di tengah perkembangan teknologi dan budaya populer yang terus berubah, perjuangan Winda menjadi bukti bahwa tradisi masih memiliki tempat. Setiap helai songket yang lahir dari alat tenun bukan sekadar karya seni, melainkan simpul sejarah yang terus dirajut agar identitas Melayu tetap hidup.
"Karena sesungguhnya, warisan budaya tidak hanya disimpan di museum atau dikenakan dalam upacara adat. Ia hidup di ujung jemari para pengrajin yang dengan sabar terus menenun masa lalu untuk diwariskan kepada masa depan," tutupnya.

