RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat luasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau telah mencapai 15.738,9 hektare pada periode Januari hingga Juli 2026.
Berdasarkan data tersebut, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kemenhut RI, Ferdian Krisnanto, menyampaikan kebakaran paling parah terjadi di ekosistem lahan gambut yang menghanguskan area seluas 14.423,5 ha. Sedangkan area lahan mineral yang terbakar tercatat seluas 1.315,5 ha.
"Tentunya ini bukan masalah capaian, ini adalah peringatan penting, kondisi cuaca, iklim dan El Nino yang kuat perlu kita waspadai ke depan. Eskalasi bisa jadi akan terus naik seiring dengan puncak musim kemarau," katanya dalam keterangan diterima di Pekanbaru, Rabu, 12 Agustus 2026.
Dia mengatakan data tersebut berdasarkan hasil analisa citra satelit atas kerjasama Kemenhut, Badan Riset dan Inovasi Nasional dan Kementrian Lingkungan Hidup. Berdasarkan rincian wilayah, Kabupaten Bengkalis menjadi daerah terdampak paling parah dengan total kebakaran mencapai 8.316,0 ha.
Daerah terparah berikutnya adalah Kabupaten Pelalawan dengan total luas 4.591,3 ha. Selanjutnya, Kabupaten Indragiri Hilir mencatatkan kebakaran seluas 997,8 ha diikuti Kota Dumai seluas 607,1 ha.
Setelah itu ada Kabupaten Rokan Hilir (392,5 ha), Siak (281,2 ha), Kepulauan Meranti (199,3 ha), Kuantan Singingi (104,4 ha). Daerah dengan luasan di bawah seratus hektare meliputi Kabupaten Indragiri Hulu (98,3 ha), Kampar (90,1 ha), Rokan Hulu (51,6 ha) serta Kota Pekanbaru dengan luasan terkecil yaitu 9,4 ha.
Saat ini, seluruh personel Manggala Agni beserta satuan tugas (satgas) terkait terus dikerahkan secara optimal untuk melakukan penanganan dan pencegahan agar kebakaran tidak semakin meluas seiring meningkatnya ancaman musim kemarau.
Saat ini Manggala Agni melakukan operasi pemadaman darat di Kabupaten Kampar oleh Daerah Operasi Pekanbaru. Lalu Manggala Agni Daops Dumai dan Siak di Bengkalis dan Rokan Hilir, serta Daops Rengat di Inderagiri Hulu.(ANTARA)

