Merah Putih Berkibar di Tengah Kabut Asap Pekanbaru, Warga: Asap Saja Punya Arah

Merah-Putih-Berkibar-di-Tengah-Kabut-Asap-Pekanbaru-Warga-Asap-Saja-Punya-Arah.jpg
Video yang memperlihatkan Merah Putih berkibar di tengah langit Pekanbaru yang tampak kelabu. (Instagram @fachrezardian)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pemandangan berbeda terlihat di Kota Pekanbaru, Riau, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin, 17 Agustus 2026.

Di tengah suasana perayaan kemerdekaan, bendera pusaka Merah Putih tampak berkibar di sebuah gedung. Namun, suasana khidmat tersebut justru dibalut kondisi langit yang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Momen tersebut direkam dan dibagikan warga melalui media sosial. Salah satunya akun @fachrezardian yang membagikan video berdurasi sekitar 23 detik yang memperlihatkan Merah Putih berkibar di tengah langit Pekanbaru yang tampak kelabu.

Video tersebut mendapat 2000 tanda suka dan dibagikan sebanyak 132 kali dan diposting ulang sebanyak 221 kali. Dalam unggahannya, warga tersebut menegaskan bahwa kondisi yang terlihat dalam video bukan hasil penyuntingan maupun efek kamera.

"Video ini direkam hari ini, 17 Agustus 2026, di Pekanbaru. Bukan filter, bukan efek kamera," tulisnya dalam keterangan video.

Kabut asap yang menyelimuti langit Pekanbaru tersebut seolah menjadi kontras dengan semangat kemerdekaan yang tengah dirayakan masyarakat.

Di satu sisi, Merah Putih tetap berkibar sebagai simbol kemerdekaan dan perjuangan bangsa. Di sisi lain, masyarakat masih harus berhadapan dengan persoalan karhutla yang kembali menghantui Riau.

Unggahan tersebut juga menyampaikan kritik bernada reflektif mengenai kondisi kabut asap yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi.

"Kita masih berperang melawan asap yang entah dari mana," tulisnya.



Menurutnya, persoalan kabut asap bukan hanya tentang udara yang semakin pekat dan jarak pandang yang berkurang. Lebih jauh, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai sumber persoalan dan siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab.

"Ibarat asap, mereka saja punya arah. Kita?" lanjutnya.

"Bahkan tak tahu sedang dibawa ke mana."

Kabut asap yang semakin tebal juga disebut membuat masyarakat semakin sulit bernapas sekaligus semakin sulit melihat persoalan secara jelas.

"Semakin tebal, semakin sesak. Semakin lama, semakin tak jelas: ini kabut, atau memang sengaja dibuat agar kita tak bisa melihat siapa yang sedang bermain di baliknya?" tulisnya.

Kalimat tersebut menggambarkan keresahan masyarakat terhadap persoalan karhutla yang berulang setiap tahun. Kabut asap bukan hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas dan kenyamanan masyarakat.

Terlebih, momen tersebut terjadi tepat pada hari peringatan kemerdekaan Indonesia. Ketika masyarakat mengibarkan Merah Putih dan merayakan kemerdekaan, sebagian warga Riau justru masih harus berhadapan dengan udara yang tercemar asap.

"Dan mungkin, yang paling menakutkan bukan asapnya, tapi ketidakjelasan tentang dari mana semuanya bermula," tulisnya.

Kondisi ini menjadi gambaran bahwa persoalan karhutla di Riau belum sepenuhnya selesai. Hingga kini, kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Riau.

Asap yang muncul dari titik-titik kebakaran di sejumlah wilayah dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di daerah lain. 

Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan pemadaman api, tetapi juga upaya pencegahan, penegakan hukum, serta pengawasan terhadap wilayah rawan kebakaran.

Pemandangan Merah Putih yang berkibar di tengah kabut asap pada Hari Kemerdekaan akhirnya menjadi simbol paradoks bagi masyarakat Riau. Bendera tetap berkibar. Semangat kemerdekaan tetap menyala.

Namun, di baliknya masih ada perjuangan lain yang belum selesai, perjuangan mendapatkan udara bersih dan terbebas dari ancaman karhutla.

Kemerdekaan juga berarti dapat hidup dengan aman, menghirup udara bersih, dan tidak setiap tahun harus kembali bertanya dari mana asap berasal serta kapan mereka bisa kembali melihat langit biru kembali.