RIAU ONLINE, PEKANBARU - Semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia turut diwujudkan jajaran Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Riau melalui berbagai kegiatan positif di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru.
Di sela-sela rangkaian kegiatan menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Kakanwil Ditjenpas Riau, Rudi F Sianturi, didampingi Kalapas Kelas IIA Pekanbaru, Yuniarto, serta Kabid Pembimbingan Kemasyarakatan (PK), Yusup Gunawan melaksanakan panen ikan patin sekaligus menebarkan ribuan bibit ikan lele di area Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Rudi F Sianturi mengatakan, kegiatan budidaya ikan tersebut merupakan bentuk pemanfaatan lahan yang ada di lingkungan Lapas agar dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai dan memberikan manfaat.
“Di sela-sela kita menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, hari ini kita melaksanakan panen ikan patin sebanyak 1,5 Ton. Kemudian kita juga menaburkan sekitar 2.000 ekor bibit lele,” ujar Rudi.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 1,5 Ton patin berhasil dipanen dari kolam budidaya yang dikelola di lingkungan Lapas Pekanbaru. Setelah panen, kegiatan dilanjutkan dengan penebaran sekitar 2.000 ekor bibit ikan lele ke kolam yang telah disiapkan.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari semarak peringatan HUT Kemerdekaan RI, tetapi juga menjadi langkah konkret jajaran pemasyarakatan dalam mendukung program ketahanan pangan. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan sekaligus sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
“Kegiatan menaburkan bibit lele dan panen ikan patin tadi adalah untuk mendukung ketahanan pangan serta Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto,” jelasnya.
Selain itu, program tersebut juga diarahkan untuk mendukung program aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Pemanfaatan lahan di dalam Lapas dinilai dapat menjadi salah satu bentuk pembinaan sekaligus pemberdayaan yang memberikan hasil nyata.
Rudi menyebut, sektor perikanan bukan satu-satunya program ketahanan pangan yang dikembangkan di Lapas Kelas IIA Pekanbaru. Jajaran Lapas juga mengelola sektor peternakan dan pertanian dengan memanfaatkan lahan yang tersedia.
“Selain peternakan ikan lele, di sini kita juga mengelola ayam petelur sekitar 1.000 ekor,” tambahnya.
Keberadaan peternakan ayam petelur tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap ketersediaan pangan sekaligus menjadi bagian dari pengembangan kemandirian warga binaan.
Tak hanya itu, sejumlah lahan kosong di lingkungan Lapas juga mulai dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Lahan yang sebelumnya tidak produktif disulap menjadi area budidaya berbagai tanaman pangan dan hortikultura.
Beberapa jenis tanaman yang dikembangkan antara lain kangkung, pakcoy, cabai dan berbagai jenis tanaman lainnya.
Menurut Rudi, pemanfaatan lahan kosong menjadi lahan produktif merupakan langkah sederhana namun memiliki manfaat besar apabila dilakukan secara konsisten dan dikelola dengan baik.
“Kita harapkan ini dapat membantu ketahanan pangan. Lahan-lahan kosong yang ada juga kita manfaatkan dan kita sulap menjadi lahan pertanian, seperti kangkung, pakcoy, cabai dan lain sebagainya,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan berbagai kegiatan produktif di Lapas bukan semata-mata mengejar hasil panen, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan bagi warga binaan.
Dengan adanya kegiatan perikanan, peternakan dan pertanian, warga binaan diharapkan dapat memperoleh keterampilan yang nantinya bisa dimanfaatkan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.
Rangkaian kegiatan dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapas Kelas IIA Pekanbaru juga diisi dengan pertandingan tenis lapangan. Kegiatan olahraga tersebut menjadi sarana untuk mempererat kebersamaan sekaligus menjaga kebugaran jajaran pemasyarakatan.
Rudi menilai, kegiatan olahraga dan kegiatan produktif seperti budidaya ikan, peternakan serta pertanian memiliki nilai penting dalam membangun lingkungan pemasyarakatan yang sehat, produktif dan humanis.
Ia berharap seluruh program yang telah berjalan dapat terus dikembangkan dan memberikan hasil yang lebih maksimal ke depannya.
Namun demikian, Rudi juga membuka ruang bagi masyarakat maupun pihak lain untuk memberikan kritik dan masukan terhadap pelaksanaan program di lingkungan pemasyarakatan.
“Kita mohon kritikan dan mohon masukannya, biar ada yang memantau kita dan kita dapat melaksanakan tugas dengan baik sesuai dengan aturan yang ada,” pungkasnya.
Menurutnya, kritik dan masukan dari berbagai pihak merupakan bagian penting dalam upaya melakukan evaluasi sekaligus memastikan seluruh jajaran pemasyarakatan bekerja sesuai ketentuan.

