RIAU ONLINE, PEKANBARU - Momen haru perdamaian yang mempertemukan Gubernur Riau non aktif Abdul Wahid dengan Wakilnya, SF Hariyanto terjadi di kediaman Kapolda Riau, Kamis, 30 Oktober 2025 sempat menjadi perhatian publik.
Pertemuan yang difasilitasi oleh Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, bersama Ustaz Abdul Somad (UAS) yang video call, diharapkan mampu mengakhiri berbagai spekulasi mengenai keretakan hubungan kedua pemimpin Provinsi Riau tersebut.
Namun, suasana damai yang ditampilkan kepada publik itu justru diikuti peristiwa yang mengejutkan.
Hanya berselang tiga hari setelah pertemuan tersebut, Abdul Wahid dikabarkan terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Sebelum peristiwa OTT itu terjadi, hubungan antara Abdul Wahid dan SF Hariyanto memang menjadi sorotan.
Berbagai isu berkembang terkait adanya ketidakharmonisan dalam kepemimpinan pasangan kepala daerah yang baru beberapa bulan menjalankan roda pemerintahan Provinsi Riau.
Untuk meredam berbagai spekulasi dan menjaga stabilitas pemerintahan daerah, UAS bersama Kapolda Riau mengambil inisiatif mempertemukan kedua tokoh tersebut di kediaman resmi Kapolda. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Dalam kesempatan itu, Abdul Wahid dan SF Hariyanto tampak berbincang santai, saling berjabat tangan erat, bahkan beberapa kali terlihat bercanda.
Momen tersebut kemudian dianggap sebagai simbol berakhirnya berbagai isu perpecahan yang selama ini beredar.
"Kami satu visi, yaitu membangun Riau yang lebih baik, sejahtera, dan berdaya saing. Tidak ada perbedaan, semua kami lakukan untuk rakyat," ujar Abdul Wahid dalam pertemuan tersebut.
Pernyataan itu diperkuat oleh SF Hariyanto yang menegaskan bahwa hubungan kerja antara dirinya dan gubernur tetap berjalan baik demi kepentingan masyarakat Riau.
"Saya dan Pak Gubernur selalu berdiskusi dalam setiap kebijakan penting. Kolaborasi yang kuat adalah kunci untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan di Riau," kata SF Hariyanto.
Keduanya juga menyatakan komitmen untuk terus bersinergi dalam menjalankan program pembangunan daerah, meningkatkan pelayanan publik, mempercepat pembangunan infrastruktur, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Kehadiran UAS dan Kapolda Riau dalam pertemuan itu dinilai memiliki makna penting.
Selain sebagai tokoh yang dihormati masyarakat, keduanya berupaya menjaga kondusifitas daerah agar tidak terganggu oleh isu-isu politik maupun persoalan internal pemerintahan.
Publik saat itu berharap perdamaian tersebut menjadi titik awal semakin solidnya hubungan antara gubernur dan wakil gubernur dalam memimpin Riau. Namun harapan itu tidak berlangsung lama.
Tiga hari setelah momen yang disebut-sebut sebagai rekonsiliasi politik tersebut, publik kembali dikejutkan dengan kabar Abdul Wahid terjaring OTT KPK.
Peristiwa itu langsung mengubah arah perhatian masyarakat yang sebelumnya fokus pada isu hubungan gubernur dan wakil gubernur.
Momen berjabat tangan yang sempat menjadi simbol persatuan dan soliditas kepemimpinan Riau mendadak menjadi sorotan kembali setelah penangkapan tersebut.
Banyak pihak kemudian mengingat bagaimana hanya beberapa hari sebelumnya Abdul Wahid dan SF Hariyanto tampil bersama dalam suasana penuh keakraban di hadapan tokoh masyarakat dan aparat penegak hukum.
Terlepas dari perkembangan kasus hukum yang kemudian muncul, pertemuan yang dimediasi UAS dan Kapolda Riau itu tercatat sebagai salah satu peristiwa penting menjelang OTT KPK terhadap Abdul Wahid.
Pertemuan tersebut menunjukkan upaya rekonsiliasi dan penyatuan langkah kepemimpinan daerah, meski akhirnya dibayangi peristiwa hukum yang terjadi hanya tiga hari kemudian.
Peristiwa itu pun menjadi catatan tersendiri dalam dinamika politik Riau, ketika upaya perdamaian yang disaksikan banyak pihak berujung pada babak baru yang sama sekali tidak diperkirakan sebelumnya.

