7 Likur dan Tari Gendong, Eksistensi Suku Asli Anak Rawa di Kampung Adat Penyengat

penulis-buku-alit.jpg
Alit, penulis buku Suku Asli Anak Rawa, dalam Bedah Buku Suku Asli Anak Rawa, Menjaga Jejak Budaya: Mengenal Kehidupan Suku Asli Anak Rawa, di Hotel Pangeran, Kota Pekanbaru, Kamis 6 Agustus 2026. (WINDA MAYMA TURNIP/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Suku Asli Anak Rawa hidup di Kampung Adat Asli Anak Rawa Penyengat di Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Eksistensinya merupakan sebuah perjalanan sejarah yang tersembunyi, yang kini ingin memperkenalkan diri kepada masyarakat luas dan tercatat dalam administrasi resmi pemerintah. 

Hal ini disampaikan langsung oleh Alit sebagai penulis buku "Suku Asli Anak Rawa", dalam acara Bedah Buku Suku Asli Anak Rawa, Menjaga Jejak Budaya: Mengenal Kehidupan Suku Asli Anak Rawa, di Hotel Pangeran, Kota Pekanbaru, Kamis 6 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, Suku Asli Anak Rawa telah eksis bahkan sebelum masa kolonial Belanda. Dengan mata pencaharian sebagai pencari ikan dan bertani, suku ini sangat menghormati tanah dan perairan tempat mereka tinggal, memliki pengetahuan akan bahasa alam hingga menciptakan budaya yang memperkaya keberagaman di Indonesia. 

Sayangnya, keberadaan suku ini dinilai belum dikenal luas oleh masyarakat hingga belum mendapatkan pengakuan secara administratif oleh pemerintah.

"Oleh karena inilah saya menulis buku Suku Asli Anak Rawa, saya ingin memperkenalkan dan mendeskripsikan suku saya sendiri, yang hidup di Sungai Apit, Kabupaten Siak," ujarnya. 



Dalam bukunya, Alit memperkenalkan sejumlah budaya dalam Suku Asli Anak Rawa. Diantaranya Upacara Belo Kampung, Hari Raya 7 Likur, pengobatan spiritual yang disebut Buang Talam. 

Sebagai hiburan, sejumlah tarian khas suku ini diantaranya Tari Gendong. Tarian ini sering ditampilkan dalam upacara dan acara adat. 

Menurutnya, penulisan buku ini mendapatkan tantangan pada mitos-mitos yang dipercaya oleh leluhur turun temurun. Dimana-mana ada sejarah yang seharusnya tak boleh diceritakan. 

"Menurut mitos, saya akan terkena bala jika menceritakannya dalam buku saya. Tetapi, saya meyakinkan tetua-tetua kampung, bahwa generasi muda harus tahu sejarah mereka, bahwa masyarakat luar harus mengakui keberadaan kita, akhirnya buku ini bisa selesai dan diterbitkan," jelasnya. 

Alit menjelaskan, buku ini tidak ditulis untuk menjadi pajangan. Buku ini ditulis agar masyarakat luar mengenal Suku Asli Anak Rawa. Sehingga sejarah dan eksistensinya tak akan pernah hilang sebagai bagian dari masyarakat Riau, masyarakat Indonesia. 

"Melalui buku ini, saya ingin Suku Anak Rawa bisa terekspos, terdata di Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), kami ini diakui bukan hanya di Kabupaten Siak, tapi di Indonesia," pungkasnya.