RIAU ONLINE, PEKANBARU - Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang identik dengan pembatasan kebebasan, tumbuh hamparan hijau yang menghadirkan harapan baru. Suasana asri dan sejuk menyambut siapa saja yang memasuki area budidaya hidroponik di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru.
Deretan instalasi pipa hidroponik yang tertata rapi dipenuhi tanaman sayuran hijau yang tumbuh subur, menjadi simbol perubahan dan kesempatan kedua bagi para warga binaan.
Di antara tanaman pakcoy dan selada yang siap panen, tampak dua pria sibuk menjalankan rutinitas mereka. Dengan penuh ketelitian, mereka memeriksa aliran nutrisi, membersihkan instalasi, hingga memanen sayuran yang telah matang.
Keduanya adalah Suyoko dan Afrizal, warga binaan kasus tindak pidana korupsi (Tipikor) yang kini menemukan makna baru dalam kehidupan melalui program pembinaan kemandirian berbasis pertanian modern.
Suyoko saat ini menjalani hukuman delapan tahun penjara, sementara Afrizal hanya tinggal menghitung waktu karena dua bulan lagi akan kembali menghirup udara bebas.
Meski memiliki latar belakang berbeda, keduanya memiliki kesamaan semangat untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Setiap hari, sejak pagi hingga sore, mereka mengabdikan waktu untuk mengelola seluruh proses budidaya hidroponik. Mulai dari menyemai benih, merawat tanaman, mengontrol kadar nutrisi, hingga memanen hasil yang siap dipasarkan.
"Awalnya kami sama sekali tidak memahami cara bercocok tanam hidroponik. Namun setelah mendapatkan pembinaan dan terus belajar, perlahan-lahan kami menguasainya. Sekarang kami sudah mengerti bagaimana merawat tanaman agar tumbuh sehat dan menghasilkan panen yang baik," ujar Suyoko, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya mengisi waktu selama menjalani masa pidana, tetapi juga memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan pribadi.
"Kami sangat menyukai kegiatan ini. Berada di sini setiap hari membuat kami merasa produktif dan berguna,” ujarnya.
Ada kepuasan tersendiri ketika melihat tanaman tumbuh subur lalu bisa dipanen. Harapan kami, ilmu yang diperoleh di sini dapat menjadi bekal yang bermanfaat untuk kehidupan setelah bebas nanti," katanya.
Program hidroponik yang dijalankan Lapas Pekanbaru tidak sekadar menjadi sarana pembinaan. Kegiatan ini telah berkembang menjadi unit produksi yang mampu menghasilkan puluhan bungkus sayuran segar setiap pekannya.
Dari kebun yang berada di dalam lingkungan lapas tersebut, rata-rata dihasilkan sekitar 30 hingga 50 bungkus pakcoy dan selada segar setiap minggu. Hasil panen itu kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga binaan sekaligus dipasarkan kepada masyarakat umum.
Keberhasilan program ini tidak terlepas dari dukungan penuh jajaran Lapas Pekanbaru, khususnya Seksi Kegiatan Kerja (Giatja) yang secara konsisten melakukan pembinaan dan pendampingan kepada para warga binaan.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Yusup Gunawan, mengatakan bahwa program budidaya hidroponik telah berjalan cukup lama dan menunjukkan hasil yang sangat positif.
"Kegiatan budidaya hidroponik ini sudah berjalan lama dan terbukti sukses di Lapas Pekanbaru. Banyak warga binaan yang pada awalnya tidak memahami sama sekali tentang pertanian modern".
"Namun melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan dan ketekunan mereka sendiri, akhirnya mampu memahami teknik budidaya hidroponik dengan baik, bahkan sekarang sudah bisa mengajarkan ilmu tersebut kepada warga binaan lainnya," ujar Yusup.
Menurutnya, tujuan utama program ini bukan semata-mata menghasilkan produk pertanian, melainkan membangun karakter, meningkatkan keterampilan, dan mempersiapkan warga binaan agar memiliki bekal saat kembali ke tengah masyarakat.
"Kami ingin warga binaan memiliki kemampuan yang dapat digunakan setelah mereka bebas nanti. Dengan keterampilan ini, mereka memiliki peluang untuk membuka usaha sendiri ataupun mengembangkan budidaya hidroponik di lingkungan tempat tinggal masing-masing," jelasnya.
Untuk menjaga kualitas hasil produksi, pihak Lapas Pekanbaru juga menjalin kerja sama dengan Green Farm Pekanbaru sebagai mitra pendamping. Melalui kolaborasi tersebut, warga binaan mendapatkan pembelajaran mengenai teknik budidaya yang baik, manajemen produksi, hingga pemasaran hasil panen.
Yusup menjelaskan bahwa hasil panen yang diperoleh didistribusikan secara seimbang. Sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga binaan agar mendapatkan asupan sayuran segar, sementara sebagian lainnya dipasarkan kepada masyarakat dengan harga yang terjangkau.
"Hasil panen kami manfaatkan untuk kebutuhan warga binaan di dalam lapas agar kebutuhan nutrisi mereka terpenuhi. Sebagian lagi dijual kepada masyarakat melalui kerja sama dengan Green Farm Pekanbaru dengan harga Rp5.000 per bungkus".
"Selain memberikan manfaat kesehatan, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran ekonomi dan kewirausahaan bagi warga binaan," terangnya.
Ia berharap program tersebut dapat terus berkembang di masa mendatang dengan dukungan fasilitas dan lahan yang lebih luas sehingga semakin banyak warga binaan yang dapat terlibat.
"Harapan kami kegiatan ini dapat berjalan secara berkelanjutan. Kalau memungkinkan, lahan budidayanya bisa diperluas sehingga lebih banyak warga binaan yang memperoleh kesempatan belajar dan mengembangkan keterampilan produktif selama menjalani masa pembinaan," tambahnya.
Sementara itu, bagi Afrizal yang akan segera menyelesaikan masa hukumannya, keterampilan hidroponik menjadi modal berharga untuk memulai kehidupan baru bersama keluarga.
Pria yang hanya tinggal dua bulan lagi bebas itu mengaku telah memiliki rencana untuk mengembangkan budidaya hidroponik setelah kembali ke rumah.
"Saya tidak ingin ilmu yang diperoleh di sini hilang begitu saja. Setelah bebas nanti, saya berkomitmen untuk mempraktikkan dan mengembangkan budidaya hidroponik sebagai sumber penghasilan keluarga".
"Saya juga ingin berbagi pengetahuan kepada masyarakat di lingkungan tempat tinggal saya agar semakin banyak yang mengenal pertanian modern ini," ungkap Afrizal.
Ia menilai kegiatan hidroponik telah memberikan pengalaman berharga yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
"Di sini saya belajar tentang kesabaran, tanggung jawab, dan pentingnya bekerja secara konsisten. Tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik jika tidak dirawat setiap hari. Nilai-nilai itu juga yang ingin saya terapkan dalam kehidupan setelah bebas nanti," katanya.
Kisah Suyoko dan Afrizal menjadi gambaran nyata bahwa proses pembinaan di dalam lapas tidak hanya berfokus pada aspek hukuman, tetapi juga pada upaya membangun kembali masa depan para warga binaan.
Dari balik jeruji besi, mereka belajar keterampilan baru, menanam harapan, dan mempersiapkan diri untuk kembali menjadi bagian produktif dari masyarakat.
Di tengah keterbatasan ruang gerak, kebun hidroponik Lapas Pekanbaru membuktikan bahwa perubahan dapat tumbuh dari mana saja.
Seperti pakcoy dan selada yang menghijau di dalam instalasi hidroponik, semangat untuk memperbaiki diri juga terus bertumbuh, memberikan harapan baru bagi mereka yang ingin menebus masa lalu dan menata masa depan yang lebih baik.

