Marak Kejahatan Jalanan, Polda Riau Perkuat 244 Personel Tim RAGA

pembekalan-Tim-RAGA3.jpg
Kabag Ops Sat Brimob Polda Riau, AKBP Rivana Wahdi, memimpin pembekalan Tim RAGA di SPN Polda Riau, Selasa, 10 Februari 2026. (DEFRI CANDRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Menjamurnya geng motor, kekerasan jalanan, hingga potensi anarkisme di Kota Pekanbaru, direspon oleh Polda Riau dengan memperkuat daya pukul Tim RAGA (Riau Anti Geng dan Anarkisme). 

Sebanyak 244 personel gelombang II digembleng secara intensif agar memiliki kecepatan reaksi dan ketajaman analisis hukum dalam meredam gejolak kenakalan remaja yang kian meresahkan masyarakat.

Pembekalan yang digelar di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Riau ini menjadi jawaban atas dinamika sosial di perkotaan, saat kelompok remaja seringkali melakukan aksi kekerasan secara mendadak.

Kabag Ops Sat Brimob Polda Riau, AKBP Rivana Wahdi, menyebut bahwa Tim RAGA dibentuk khusus sebagai unit reaksi cepat untuk fenomena ini. Ia menegaskan bahwa setiap tindakan personel di lapangan harus berlandaskan aturan hukum yang jelas agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

"Perkap Nomor 1 Tahun 2009 ini menjadi landasan utama dalam setiap tindakan kepolisian. Personel harus mampu bergerak cepat dan tegas saat menghadapi gangguan kamtibmas, namun tetap menjunjung tinggi prinsip legalitas, akuntabilitas, serta pendekatan humanis kepada masyarakat," ujar AKBP Rivana Wahdi, Selasa, 10 Februari 2026.


Ia menegaskan bahwa dinamika sosial yang berkembang saat ini menuntut kehadiran aparat yang sigap namun tetap terukur. Aksi geng remaja, tawuran, hingga potensi tindakan anarkis kerap muncul secara spontan dan dapat memicu gangguan keamanan yang lebih luas jika tidak ditangani dengan tepat.

Tim RAGA, kata dia, dibentuk sebagai respons cepat terhadap fenomena tersebut. Tim ini menjadi ujung tombak Polda Riau dalam upaya pencegahan sekaligus penindakan terhadap segala bentuk aksi yang mengarah pada kekerasan dan anarkisme.

"Tim RAGA bukan sekadar tim penindak, tetapi juga tim pencegah. Mereka harus mampu membaca situasi, melakukan deteksi dini, serta mengambil langkah yang tepat sesuai koridor hukum. Profesionalisme dan kedisiplinan menjadi kunci utama," tegasnya.

Selama pembekalan yang berlangsung hingga malam hari, para peserta dihadapkan pada berbagai skenario simulasi, termasuk cara membubarkan massa geng motor tanpa harus memicu tindakan anarkis balasan. Penguatan kapasitas ini dinilai mendesak untuk menjaga stabilitas keamanan di seluruh wilayah Provinsi Riau, terutama di titik-titik rawan kekerasan jalanan.

"Melalui penguatan Tim RAGA, kami optimistis upaya pencegahan terhadap aksi geng, kenakalan remaja, dan tindak anarkisme dapat semakin optimal. Tujuan akhirnya adalah menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di seluruh wilayah Provinsi Riau," pungkas AKBP Rivana Wahdi.