Jepang Bangun Rel Kereta Api Muaro-Pekanbaru Lintasi Hutan Perawan Demi Tak Terlihat Pesawat Musuh

Rel-Pekanbaru-Muaro.jpg
Para tahanan perang berjalan di atas rel kereta api Pekanbaru-Muaro Sijunjung. (Pekanbarudeathrailway.com)

Penulis: Osvian Putra

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Jalur kereta api Pakan Baroe–Moeara sepanjang 220 kilometer atau sekitar 136,7 mil, pernah direncanakan Belanda untuk menjadi penghubung penting antara pesisir timur dan barat Sumatra. Moeara (Sijunjung) bahkan sudah lebih dulu terhubung dengan Padang melalui jalur kereta Ombilin–Solok–Padang Panjang–Padang, yang dibangun pada dekade pertama 1900-an.

Pembangunan jalur kereta di Sumatra bagian barat (Westkus) kala itu menjadi pemicu utama kemajuan wilayah tersebut. Selain kereta api, Belanda juga mendirikan pabrik semen tertua di Indonesia dan membangun pelabuhan laut internasional Emma Haven (kini Teluk Bayur) untuk membuka akses perdagangan ke pasar global. Faktor-faktor inilah yang menjadikan Sumatra Barat sebagai daerah paling maju pada zamannya.

Berbeda dengan wilayah barat, kawasan timur Sumatra yang daratan elevasinya rendah dan dilintasi empat sungai besar nyaris belum dieksploitasi maksimal. Sungai Siak, misalnya, dengan kedalamannya bisa dilayari kapal hingga 800 ton. Jalur air ini menghubungkan Pakan Baroe dengan Bengkalis, yang hanya dipisahkan Selat Malaka dari pelabuhan internasional Singapura.

Jika jalur Pakan Baroe–Moeara berhasil diwujudkan, pengangkutan batu bara dari tambang Ombilin di Sawahlunto menuju Singapura akan jauh lebih mudah. Jalur ini juga berpotensi menjadi koridor strategis yang tertutup hutan lebat, sehingga sulit terdeteksi pesawat mata-mata. 


Hal itu dimanfaatkan Jepang pada masa Perang Dunia II untuk mengangkut material dan personel perang melintasi Sumatra, sementara kapal-kapal mereka bisa berlindung dari serangan Sekutu di perairan Bengkalis dan Kepulauan Riau.

Tak hanya alasan militer, faktor ekonomi juga membuat jalur Pakan Baroe–Moeara begitu penting. Tambang batu bara Sapar dan Karoe di dekat Tapoei memiliki cadangan besar yang diperkirakan mampu menghasilkan hingga 500 ribu ton per tahun. Kualitas batu baranya setara dengan yang ditambang di Cardiff, Wales, bahkan lebih unggul dibanding Ombilin. Tambang ini juga lebih mudah digarap karena posisinya dekat dengan permukaan tanah. Namun, tanpa jalur transportasi memadai, potensi emas hitam tersebut sulit dimanfaatkan, sebagaimana dilansir RIAU ONLINE dari The Sumatra Railroad: Final Destination Pakan Baroe, Rabu, 27 Agustus 2025.

Pembangunan rel melintasi Sumatra bagian tengah bukanlah perkara mudah. Alamnya dipenuhi rawa-rawa berlumpur, hutan raksasa yang selalu hijau, kawanan nyamuk, hingga jurang sungai curam yang membelah formasi batuan raksasa raksasa di jantung Sumatera bagian tengah yang praktis tak tertembus. 

Meski demikian, jalur kereta yang dikerjakan Jepang itu akhirnya menembus bentang alam liar bak “ritsleting besar” yang membuka jalan sekaligus menghubungkan pantai barat dan timur Sumatra.