Pemerintah Optimistis Capai Swasembada Gula Lima Tahun ke Depan

Gudang-gula.jpg
Gula pasir (Kompas.com)

RIAU ONLINE - Pemerintah menargetkan swasembada gula konsumsi pada 2028 dan gula industri pada 2030. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman optimis bahwa target ini akan tercapai pada. Menurutnya, swasembada akan tercapai dalam empat hingga lima tahun mendatang.

Meski demikian, produksi gula nasional tahun 2025 diproyeksikan sebesar 2,9 juta ton. Sementara itu, kebutuhan gula nasional terus meningkat. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, kebutuhan gula konsumsi dan industri tahun 2025 diproyeksikan mencapai 9,1 juta ton, terdiri atas 3,4 juta ton untuk konsumsi rumah tangga dan 5,7 juta ton untuk kebutuhan industri.

Dikutip dari ANTARA, Selasa, 5 Agustus 2025, Langkah strategis pemerintah untuk memperkecil kesenjangan ini antara lain adalah modernisasi dan peningkatan kapasitas giling pabrik gula eksisting. 

Sebab, sebagian besar pabrik gula di Indonesia berumur tua, dengan teknologi yang jauh tertinggal dari negara produsen lain.

PTPN III (Persero) melalui anak perusahaannya tengah mempersiapkan pengaktifan Kembali sejumlah pabrik gula yang telah lama tidak beroperasi. 

Persiapan tersebut antara lain adalah penataan sumber daya manusia, kesiapan fasilitas pabrik, hingga koordinasi terkait distribusi bahan baku tebu yang akan digiling.

Pabrik gula yang akan diaktifkan pada 2025 adalah Pabrik Gula Bone di Sulawesi. Pada 2026 direncanakan menghidupkan Pabrik Gula Sei Semayang, Medan, Sumatera Utara. Kemudian pada 2027, Pabrik Gula Tasikmadu di Karanganyar, Jawa Tengah, dan Pabrik Gula Pangka, Tegal, Jawa Tengah, pada 2028.

Langkah besar lainnya adalah perluasan areal tanam tebu. Pemerintah menargetkan tambahan lahan tebu baru seluas 200.000 hektare hingga 500.000 hektare. Untuk merealisasikan ini, anggaran besar disiapkan sekitar Rp10 triliun hingga Rp40 triliun.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan tren positif dalam perluasan lahan tebu. Pada 2022, luas lahan tebu mencapai 490.008 hektare, sedikit turun menjadi 489.338 hektare pada 2023, lalu melonjak ke 520.823 hektare pada 2024.


Hingga Maret 2025 luasnya tercatat naik menjadi 529.266 hektar. Pada 2025, target luasan lahan tebu sebesar 538.168 hektare.

Peningkatan Produksi Tebu

Salah satu yang menjadi perhatian pemerintah dalam target swasembada gula ini adalh produksi tebu. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyederhanakan aturan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk petani tebu dengan plafon hingga Rp500 juta.

Kini, petani tebu dapat mengakses pembiayaan hingga batas tersebut secara berulang tanpa harus beralih ke kredit komersial setelah mencapai batas awal. Sebelumnya, plafon kredit KUR bersifat akumulatif hingga Rp500 juta.

Hal ini bertujuan agar petani memiliki modal yang cukup untuk mengolah lahan, membeli bibit unggul, dan mengakses pupuk serta alat mekanisasi.

Pemerintah menargetkan peningkatan produktivitas tebu yang saat ini sekitar 4 ton per hektare menjadi 14 ton. Untuk itu, pemerintah juga berkomitmen untuk melakukan distribusi pupuk subsidi yang lebih tepat sasaran serta penyediaan bibit unggul berkualitas tinggi.

Untuk memaksimalkan hasil panen, pendekatan teknologi juga dilakukan dalam pertanian tebu. Yaitu lewat intensifikasi berbasis data geospasial dan digitalisasi lahan. Hal ini memungkinkan pendekatan presisi dalam pemupukan, irigasi, dan penanaman.

Pemerintah juga menegaskan akan mencabut izin pengecer pupuk subsidi yang terbukti melakukan kecurangan, termasuk menaikkan harga seenaknya. 

Rintangan Menuju Swasembada

Harga gula di pasar global yang fluktuatif menjadi satu dari berbagai tantangan yang harus dihadapi pemerintah. Pasalnya, hal ini sering kali mempengaruhi daya saing gula lokal.

Perubahan iklim yang berpengaruh pada kondisi cuaca yang tak menentu di Indonesia juga menjadi tantangan bagi para petani untuk memproduksi tebu berkualitas.

Program swasembada gula melibatkan banyak pihak, mulai dari Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, hingga pemerintah daerah. Sinkronisasi yang kurang optimal bisa menghambat pencapaian target.

Modal penting untuk mencapai target swasembada ini juga termasuk modernisasi mesin, pelatihan petani, dan keterlibatan masyarakat sekitar.

Dengan konsistensi kebijakan, dukungan anggaran, serta komitmen dari semua pihak, bukan tidak mungkin Indonesia bisa lepas dari kebergantungan pada gula impor.

Swasembada gula bukan sekadar soal angka produksi, tetapi juga tentang kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani. Ketika lahan tebu terus hijau dan mesin pabrik terus berputar, Indonesia sedang menulis babak baru dalam perjalanan panjang menuju kemandirian. (ANTARA)