Penulis: Osvian Putra
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pada tulisan terdahulu dikisahkan seorang Tukang Jam, Jos Van Arcken yang terpaksa ikut wajib militer karena keadaan. Ternyata kemahirannya dalam “bertukang” jam tersebut membawa keuntungan tersendiri baginya ketika berada di kamp tahanan militer selama bekerja pada proyek pembangunan jalur kereta api maut Jepang pada tahun 1944-1945 dulu.
Jos yang semula ditempatkan di Kamp 1, wilayah yang sekarang diyakini berada di pinggir sungai Siak, sejajar antara Jalan Tanjung Rhu dan pinggiran sungai jantan itu. Karena dia sejatinya adalah “tukang jam,” dan ketika diberangkatkan dari Batavia menuju Emma Haven dengan kapal Chuka Maru dulu.
Dia membawa serta kotak peralatan bertukangnya. Hal tersebut ternyata menimbulkan perhatian serta catatan bagi para tentara Jepang. Bahwa di antara para tahanan perang yang mereka bawa ternyata ada seorang yang mahir dalam memperbaiki jam.
Di satu sisi, orang atau khususnya tentara-tentara Jepang tersebut tergila-gila dengan jam. Jam (tangan) dianggap sebagai benda yang menjadi teman setia, tidak boleh lepas dan tinggal kemanapun mereka pergi.
Mungkin jam tangan kala itu bisa dibandingkan dengan kecintaan orang atau menganggap bahwa handphone adalah benda penting yang harus dibawa kemanapun pergi.
Maka, dengan keahliannya tersebut, berbanding dengan sifat dan pandangan tentara Jepang terhadap benda bernama jam tersebut, maka boleh dikata selalu saja ada tentara Jepang yang mencarinya untuk kepentingan mereparasi atau menservice jam tangan-jam tangan milik mereka. Maka, nama Jos Van Arcken sudah diketahui dan beredar luas di kalangan tentara Jepang kala itu.
Hal itu, ternyata memberikan keuntungan tersendiri bagi Jos. Yang pertama, tak lama setelah ditempatkan di Kamp 1, Jos dipindahkan ke Kamp 2 yang berlokasi di Tengkirang.
Kamp yang lokasinya lebih ketinggian, kering (berbeda dengan Kamp 1 di Tanjung Rhu yang berada di tanah berawa-rawa yang lembek dan senantiasa basah.) Begitu juga, di Kamp 2, nyamuk tidak sebanyak di Kamp 1, walaupun memang selalu ada nyamuk.
Kemudian, Kamp 2 ini lebih besar, lebih luas da nada fasilitas untuk berobat termasuk klinik gigi walaupun dengan kondisi yang amat sederhana, primitive dan peralatan yang juga sangat terbatas.
Obat-obatan jangan ditanya, seadanya saja! Tapi Jos, tetap lebih beruntung berada di Kamp 2 dibanding di pinggir sungai yang airnya kerap meluap dan banjir ketika pasang tinggi serta di saat musim hujan itu.
Yang kedua, kerap Jos tidak jadi diberangkatkan ke situs tempat kerja karena pada hari yang sama dengan penugasannya dia mendapatkan order memperbaiki arloji salah satu tentara Jepang, apalagi jika pemilik jam tersebut berpangkat tinggi. Hal, lain, pernah Jos didera sakit yang lumayan parah.
Setelah diperiksa oleh dokter barat yang bertugas di Kamp 2 tersebut dijelaskan penyakitnya. Namun, masalahnya tidak ada obat yang tersedia. Nah, atas persoalan tersebut, dengan modal kenal dengan beberapa petinggi tentara Jepang, di melapor sekaligus melobi tentara Jepang yang dikenalnya sehingga akhirnya dia mendapatkan obat dari pihak Jepang tersebut.
Jos adalah salah satu contoh orang yang beruntung karena kemahirannya diperlukan oleh orang Jepang. Namun jangan dikira Jos tidak pernah bekerja sama sekali. Tetap.
Begitu juga, bahkan sampai hari pembebasan tiba, sampai saat ini pun Jos masih merasakan nyeri di bagian punggung, bahkan tidurnya pun kerap terganggu oleh rasa nyeri tersebut karena dia pernah dipukuli secara kasar di bagian punggung dengan popor senjata pada waktu penahanannya dulu.

