Ekonomi Venezuela Lumpuh, Nelayan Tukar Ikan Dengan Makanan

nelayan-venezuela.jpg
(voa)

RIAUONLINE - Perekonomian Venezuela telah benar-benar runtuh, dengan inflasi melangit yang diperkirakan mencapai 10 juta persen tahun ini, menurut IMF. Juga kekurangan makanan dan obat-obatan menyebabkan krisis kemanusiaan besar-besaran dengan proporsi yang menyolok.

Situasi itu sangat mengerikan di negara yang dulu menjadi negara terkaya di Amerika Latin, sehingga orang-orang menyerah untuk menggunakan mata uang yang didevaluasi, dan sebaliknya beralih dengan cara barter untuk barang dan jasa agar bertahan hidup.

Nelayan di pasar lokal di negara bagian Vargas menukar ikan hasil tangkapan mereka dengan makanan.

Nelayan Roger Rodriguez mengatakan, “Kami menerima bahan-bahan pangan seperti beras, terigu dan gula, karena orang tidak punya uang tunai sama sekali.”

Rodriguez mengatakan, sebagian pelanggannya menukarkan sekotak makanan yang disediakan oleh pemerintah, yang berisi sedikit protein hewani dengan ikan hasil tangkapannya.

"Bagaimana kami menukarkan ini? Kilogram ini dengan kilogram itu?," keluhnya.

Seringnya listrik mati, membuat kulkas tidak berfungsi dengan baik sehingga memaksa para nelayan menjual hasil tangkapannya secepat mungkin. Kalau tidak, ikan-ikan itu akan busuk.

Nelayan lainnya, Roy Zabala mengatakan, “Segalanya tergantung pada jenis ikan. Anda bisa membeli satu kilogram ikan termahal dan ditukar dengan dua kilogram beras.”

Pasar terbuka bukan satu-satunya tempat di mana ada barter. Orang Venezuela menggunakan media sosial untuk menukarkan barang seperti produk sanitasi pribadi dan obat-obatan.

Kementerian Pertanian Venezuela mempromosikan bisnis semacam ini.

Maria Garcia, dari Institut Penelitian Pertanian mengatakan, “Petani-petani dari seluruh negeri datang untuk menukarkan benih-benih tanaman mereka dengan produk-produk lain.”

Tetapi pakar ekonomi mengatakan, jenis perdagangan barter seperti jaman kuno itu merupakan pertanda yang jelas bahwa ekonomi telah runtuh.

Rakyat meninggalkan Venezuela sewaktu kondisi politik, ekonomi, dan HAM memburuk. Badan pengungsi PBB melaporkan sekitar 3,7 juta orang telah meninggalkan negara itu. Sebagian besar pergi ke negara-negara Kolombia, Ekuador, Peru, Brasil dan Karibia.

Badan itu mengatakan, pada akhir tahun lalu sekitar 460.000 warga Venezuela secara resmi mencari suaka. Tetapi mengingat kondisi mengerikan di tanah air, juru bicara UNHCR Liz Throssell mengatakan mayoritas dari jutaan orang yang telah pergi itu jelas membutuhkan perlindungan internasional bagi pengungsi.

Throssell mengatakan kepada VOA, sejauh ini pengungsi Venezuela tidak dideportasi. Namun, Throssell memperingatkan, hal itu mungkin berubah sewaktu lebih banyak orang melarikan diri dan beban pengungsi memberatkan negara penampung.

Artikel ini lebih dulu tayang di VOAindonesia dengan judul: Perekonomian Venezuela Runtuh, Warga Kembali ke Sistem Barter