RIAU ONLINE, SIAK - Pemanfaatan dana Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) Buantan Besar, Kecamatan Siak, untuk pengembangan agrowisata petik melon mulai menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Melalui kerja sama pengelolaan dengan petani lokal, usaha budidaya melon tersebut telah menghasilkan pendapatan ratusan juta rupiah hanya dalam dua kali masa panen.
Pengelola Agro Siak Farm, Siswanto, menjelaskan bahwa pengembangan kebun melon dilakukan melalui kerjasama dengan BUMKam Buantan Besar dengan nilai investasi sebesar Rp163 juta.
Dalam kesepakatan tersebut, keuntungan usaha dibagi dengan skema 20 persen untuk BUMKam dan 80 persen untuk pengelola, sementara pengembalian modal dilakukan dalam jangka waktu satu tahun.
“Dana BUMKam sebesar Rp163 juta itu akan dihitung kembali setelah satu tahun berjalan. Setelah modal dikembalikan, baru keuntungan dibagi sesuai kesepakatan," kata Siswanto, Selasa, 16 Juni 2026.
"Karena usaha ini berbentuk fisik dan membutuhkan modal besar, tentu tidak bisa langsung mengembalikan modal dalam waktu singkat,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, budidaya melon mulai dilakukan pada April 2026 dan hingga kini telah memasuki panen kedua.
Pada panen pertama dari tiga greenhouse, pihaknya berhasil memanen sekitar 2,6 ton melon atau sekitar 1.120 buah, dengan nilai penjualan hampir Rp50 juta. Saat itu hasil panen dijual kepada pemasok yang dijual lagi ke sejumlah supermarket bahkan hingga Pekanbaru.
Sementara pada panen kedua yang saat ini sedang berlangsung, hasil produksi diperkirakan jauh lebih besar. Setiap greenhouse mampu menghasilkan sekitar 1,3 hingga 1,5 ton melon dengan nilai penjualan mencapai Rp40 juta hingga Rp45 juta per greenhouse.
“Kalau ditotal, panen pertama hampir Rp50 juta dan panen kedua diperkirakan sekitar Rp135 juta. Jadi dari dua kali panen sudah menghasilkan sekitar Rp185 juta. Dalam setahun targetnya bisa empat kali panen,” ujarnya.
Selain menjual kepada pemasok, pada penen kedua Agro Siak Farm juga mengembangkan konsep menjadi agrowisata petik melon yang terbuka untuk masyarakat. Pengunjung dapat masuk secara gratis tanpa biaya parkir, menikmati fasilitas edukasi budidaya melon, mencicipi buah secara langsung, hingga berfoto di area perkebunan.
“Yang dibayar hanya buah yang dipetik. Setelah dipetik, buah ditimbang lalu dibayar sesuai beratnya,” jelas Siswanto.
Saat ini terdapat lima varietas melon yang dibudidayakan, yakni Sweet Honey, Sweet Lavender, Honey Club, Delmensen Segitro, dan Retaroma. Harga jual melon bervariasi, mulai dari Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram, tergantung jenis dan kualitas buah.
Keberhasilan usaha tersebut mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Siak. Pada panen kedua yang digelar di Agro Siak Farm, Minggu 14 Juni 2026 hadir Bupati Siak Afni Zulkifli, Anggota DPRD Siak Sujarwo, serta Camat Siak.
Bupati Siak Afni Zulkifli mengapresiasi BUMKam dan kelompok tani yang berhasil mengembangkan budidaya melon hingga menjadi salah satu sumber pendapatan kampung.
“Alhamdulillah, ini salah satu bukti bahwa dana desa jika dikelola dengan baik dan tepat peruntukannya mampu menambah pendapatan asli kampung,” kata Afni.
Menurutnya, keberhasilan Agro Siak Farm dapat menjadi contoh bagi kampung lain dalam mengoptimalkan potensi lokal yang dimiliki.
“Kampung-kampung kita masing-masing memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatan asli desa. Tinggal bagaimana penghulu bersama masyarakat mampu bergerak dan menangkap peluang yang bisa dikembangkan,” tutupnya.

