Di Bawah Monumen Pahlawan Kerja Pekanbaru, Kenangan Romusha Itu Kembali Hidup

Monumen-Pahlawan-kerja9.jpg
Atase Militer Belanda untuk Indonesia, Kolonel Johannes Moerkens, meletakkan bunga penghormatan di Monumen Pahlawan Kerja, Pekanbaru. (RAHMADI DWI PUTRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Langit sore di Jalan Kaharuddin Nasution, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru, tampak teduh ketika satu karangan bunga diletakkan di bawah Monumen Pahlawan Kerja.

Di tengah suasana hening itu, terdengar lantunan lagu kebangsaan Indonesia dan Belanda mengalun berdampingan.

Sebanyak 32 warga berkebangsaan Belanda hadir di lokasi tersebut. Mereka bukan wisatawan biasa. Sebagian besar adalah cucu dan keluarga dari para korban kerja paksa romusha serta tahanan perang yang pernah terlibat dalam pembangunan jalur Kereta Api Pakanbaroe pada masa Perang Dunia II.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, orang-orang Belanda itu kerap disebut “Wong Londo”. Namun sore itu, tak ada sekat kebangsaan. Mereka bukan datang sebagai simbol masa lalu penjajahan, melainkan sebagai anak dan cucu yang mencoba menelusuri jejak penderitaan keluarganya dan mereka adalah manusia-manusia yang datang membawa duka lintas generasi.

Mereka datang membawa ingatan, cerita keluarga, dan penghormatan bagi ribuan nyawa yang hilang di tanah Riau puluhan tahun silam.

Mereka berdiri hening di bawah monumen yang menjadi simbol penderitaan ribuan pekerja paksa pembangunan jalur kereta api Pakanbaroe Railway. Beberapa di antaranya menundukkan kepala, memejamkan mata, lalu memanjatkan doa.

Ada pula yang tampak bersujud dan membungkukkan badan menyerupai gerakan rukuk dalam salat, seakan mencoba menyampaikan penghormatan terakhir kepada para korban yang tak pernah mereka temui secara langsung.

Atase Militer Belanda untuk Indonesia, Kolonel Johannes Moerkens, mengatakan peringatan semacam ini sangat penting agar sejarah kelam itu tidak hilang ditelan waktu.

“Menurut saya peringatan ini penting sekali karena ada banyak korban romusha, tetapi banyak orang sekarang tidak tahu bagaimana situasi waktu itu. Ada yang sudah lupa, jadi acara seperti ini penting terutama untuk generasi muda,” ujarnya, Kamis 14 Mei 2026.

Bagi mereka, kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Ada luka sejarah yang ingin terus diingat agar tidak hilang ditelan waktu.

Ia menjelaskan, pembangunan rel kereta api Pakanbaroe bukan hanya melibatkan tahanan perang dari luar negeri, tetapi juga ratusan ribu masyarakat Indonesia yang didatangkan dari berbagai daerah untuk bekerja secara paksa.


“Ada banyak orang dari Jawa dan Sumatera yang dipindahkan ke pedalaman untuk bekerja di sana. Mungkin jumlahnya sampai ratusan ribu. Orang muda harus belajar dari tragedi ini supaya tidak terjadi lagi perang seperti Perang Dunia,” katanya.

Bagi mereka, Pekanbaru bukan sekadar kota di Pulau Sumatera. Kota ini adalah ruang kenangan, tempat para ayah, kakek, dan leluhur mereka pernah bertahan hidup di tengah kerasnya perang dan kerja paksa.

Monumen Pahlawan kerja11Warga berkebangsaan Belanda di Monumen Pahlawan Kerja Pekanbaru memberi penghormatan untuk korban romusha. (RAHMADI DWI PURTA/RIAU ONLINE)

Johannes berharap situs sejarah seperti Monumen Pahlawan Kerja dapat terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda sebagai ruang belajar sejarah kemanusiaan.

“Mungkin satu atau dua tahun lagi ada upacara lagi di sini. Saya berharap tempat seperti ini bisa menjadi tempat belajar tentang situasi masa lalu,” tuturnya.

Bagi Johannes, hubungan sejarah Indonesia dan Belanda hari ini juga tidak bisa dilepaskan dari ikatan panjang kedua negara di masa lalu.

“Sekarang banyak orang Belanda masih punya hubungan dengan Indonesia. Kami seperti saudara. Karena itu penting juga mengenang orang Indonesia yang meninggal di sini,” ucapnya.

Suasana haru juga terasa ketika Eric dari The Burma-Siam Railway and Pakan Baroe Railway Commemoration Foundation menyampaikan alasan kedatangan mereka ke ibukota Provinsi Riau.

Monumen Pahlawan kerja12Rombongan warga kebangsaan Belanda napak tilas di Monumen Pahlawan Kerja Pekanbaru. (RAHMADI DWI PUTRA/RIAU ONLINE)

Ia mengatakan, rombongan tersebut sedang melakukan perjalanan untuk mengenang para tahanan perang dan korban kerja paksa yang meninggal selama pembangunan jalur kereta api pada masa pendudukan Jepang.

“Kami berada di sini bersama keluarga yang ayah atau kakeknya bekerja di Pakanbaroe Railway. Kami ingin menghormati semua korban yang meninggal di sini selama Perang Dunia Kedua,” kata Eric.

Menurutnya, masih banyak masyarakat, baik di Belanda maupun Indonesia, yang belum mengetahui sejarah kelam pembangunan jalur kereta api tersebut.

“Banyak orang di Belanda tidak tahu tentang Pakanbaroe Railway. Saya pikir di Indonesia juga sama. Ketika saya bertanya kepada beberapa orang, mereka tidak tahu apa yang terjadi di sini,” ujarnya.

Eric menyebut, sedikitnya sekitar 18 ribu tahanan perang pernah terlibat dalam proyek pembangunan rel kereta api tersebut. Namun kisah penderitaan mereka perlahan mulai terlupakan.

“Karena itu penting untuk terus menceritakan kisah ini dan menghormati penderitaan mereka,” katanya.

Di bawah bayang-bayang Monumen Pahlawan Kerja sore itu, sejarah yang nyaris terlupakan kembali dipanggil pulang. Tidak dengan kemarahan, tetapi melalui doa, bunga, dan ingatan yang diwariskan lintas generasi.

Bagi mereka yang datang dari negeri jauh, Pekanbaru bukan sekadar kota di peta. Kota ini adalah saksi bisu tentang kerja paksa, penderitaan, dan ribuan manusia yang pernah kehilangan hidupnya di rel kereta api yang dibangun di tengah perang.