Napi Asimilasi Berulah, Bongkar Toko Ponsel di Pekanbaru

napi-asimilasi.jpg
(riauonline)

RIAUONLINE, PEKANBARU - Dua narapidana asimilasi yang baru saja menghirup udara bebas kembali terlibat kejahatan dengan membobol toko elektronik di ibu kota Provinsi Riau tersebut.

Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Pekanbaru Kota Iptu Bahari Abdi mengatakan, kedua napi asimilasi itu adalah Febri Wahyudi (29) dan Rabu Gusti Chandra (27). Selain kedua pelaku, polisi juga menangkap dua orang bagian dari komplotan yang sama yakni Rio Valeri (40) dan Doni Saputra (28). Kedua nama terakhir adalah residivis.

"Keempat tersangka ditangkap setelah melakukan Curat toko Toko Aneka Ponsel yang berada di Jalan Cempaka, Kelurahan Padang Terubuk, Kecamatan Senapelan," katanya.

Abdi menjelaskan dari aksinya itu, para tersangka membawa kabur puluhan ponsel pintar, televisi LED, monitor komputer, serta komputer jinjing.

Pengungkapan berawal saat polisi menerima laporan dari pemilik toko yang kaget melihat tokonya ditemukan dalam kondisi berantakan pada pekan lalu. Polisi kemudian melakukan serangkaian penyelidikan.

Tak butuh waktu lama, kurang dari sepekan, keempat tersangka berhasil dibekuk pada Kamis (16/4) lalu. Abdi mengatakan para tersangka ditangkap di kawasan Jalan Cipta Karya Panam.

Dari tangan tersangka polisi menyita satu buah gunting besi berwarna merah, linggis ukuran sedang, satu unit laptop merk Toshiba dan 14 unit handphone berbagai merk, dua unit televisi LED, satu unit CPU komputer berserta keyboard, dua unit monitor komputer, dua unit komputer All in One, satu unit amplifier, satu buah speaker, satu paket gulungan kabel televisi dan kabel HDMI serta antena televisi.

"Dari pengakuan para pelaku sebagian BB sudah ada yang dijual. Kerugian materil yang dialami pelapor sekitar Rp50 juta," ujarnya.

Dijelaskan Abdi, para pelaku yang berhasil ditangkap tersebut, merupakan orang-orang yang sudah pernah dipenjara.

"Pelaku atas nama Febri dan Rebi ini merupakan narapidana asimilasi. Sedangkan 2 pelaku lainnya merupakan residivis," jelasnya.

Ditambahkannya, saat ini pihaknya masih memburu seorang pelaku lainnya. Pelaku yang belum tertangkap tersebut berinisial J dan telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

"Yang DPO ini merupakan narapidana asimilasi juga. Tim masih mencari keberadaannya untuk ditangkap," tambahnya.

-->