Harga Minyak Goreng Sawit Naik Imbas Lonjakan Harga Plastik

Minyak-Goreng27.jpg
Minyak Goreng Kemasan di Pasar Pagi Arengka (Haslinda/Riau Online)

RIAU ONLINE, JAKARTA - Harga Minyak Goreng Sawit (MGS) ikut terdampak oleh kenaikan harga plastik. Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, Tungkot Sipayung.

Dalam periode Januari 2026 hingga minggu ketiga April 2026, harga MGS premium naik dari Rp21.166 per liter menjadi Rp21.793 per liter. Sementara itu, harga MGS curah meningkat dari Rp17.790 per liter menjadi Rp19.486 per liter.

"Harga energi fosil dunia meningkat dari sekitar USD60 per barel sebelum perang menjadi lebih dari USD110 per barel. Akibatnya, semua produk turunan dari energi fosil seperti plastik mengalami kenaikan," kata Tungkot, dikutip dari Kumparan, Senin, 27 April 2026.

Tungkot menjelaskan, penutupan Selat Hormuz turut memperparah kondisi dengan mengganggu pasokan bahan baku, sehingga harga produk turunan energi fosil seperti plastik ikut melonjak.


Selain itu, Tungkot juga mengungkapkan bahwa hal berbeda terjadi pada minyak goreng bersubsidi MinyaKita. MinyaKita mengalami penurunan harga pada periode yang sama, dari Rp16.865 menjadi Rp15.949 per liter, mendekati harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter.

"Hal yang menarik, harga MGS Minyakita pada periode yang sama justru turun dari Rp 16.865 menjadi Rp 15.949 per liter, mendekati HET Rp 15.700 per liter," ujarnya.

Menurut Tungkot, perbedaan ini terjadi karena mekanisme penentuan harga yang berbeda. Segmen premium dan curah, termasuk untuk kebutuhan industri pangan, lebih sensitif terhadap kenaikan biaya seperti kemasan plastik.

"Harga dan ketersediaan MGS MinyaKita ini dikendalikan pemerintah melalui kebijakan DMO (domestic market obligation), pengendalian penyaluran (D1, D2), dan HET (harga eceran tertinggi)," kata Tungkot.

Ia mengingatkan, keberlanjutan stabilitas harga minyak goreng, terutama di segmen subsidi, akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah ke depan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.

"Namun apakah harga MGS MinyaKita dapat dipertahankan ke depan dengan kenaikan harga kemasan plastik? Ini tergantung pemerintah apakah akan akomodatif dengan perubahan harga kemasan dalam HET," pungkasnya.