RIAU ONLINE, JAKARTA - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa Indonesia masih mengalami kekurangan dokter spesialis terutama Spesialis Obstetri dan Ginekologi (OBGYN), terutama di luar Pulau Jawa.
Budi menuturkan, hal ini mengakibatkan maraknya kasus kematian ibu dan bayi ketika hendak melahirkan.
"Jadi memang kekurangan dokter spesialis, dalam hal ini OBGYN dan anestesi, itu masif terjadi di luar Jawa," kata Budi, dikutip dari KUMPARAN, Kamis, 27 November 2025.
"Jadi kasihan, kejadian-kejadian ini menimpa saudara-saudara kita yang ada di luar Jawa," imbuhnya.
Budi mengatakan, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah telah membangun sistem pendidikan hospital based untuk merekrut para dokter spesialis dari berbagai daerah.
Diketahui, Prabowo menargetkan pembangunan 500 rumah sakit pendidikan untuk mencetak para dokter spesialis.
"Agar kemudian mereka bisa menjadi dokter spesialis, belajar menjadi dokter spesialis, di daerah asal mereka berada. Itu yang penting menurut saya dan itu harus diakselerasi," ujar Budi.
Direktur Sumber Daya Manusia Kementerian Kesehatan, Yuli Farianti mengungkapkan, baru ada 68 dokter spesialis OBGYN di Papua dan hanya 50 persen yang berstatus sebagai pegawai tetap di rumah sakit.
"Bahwa rasio sekarang sudah ada 68 OBGYN di Papua. Rasio kalau kita lihat jumlah penduduknya 5,8 juta. Rata-rata sekarang 0,012 per 1.000 penduduk," ujar dia.
"Seharusnya idealnya itu adalah 0,024. Kalau 0,024, kita butuhnya 144 dokter. Tahu 68 dokter? Yang PNS hanya 50 persen. Yang lainnya kontrak gitu. Kalau kontrak bisa balik lagi (keluar dari Papua)" pungkasnya.

