RIAU ONLINE - Grup komedi legendaris Warkop DKI pernah menghadapi risiko serius, karena lawakan mereka kerap mengkritik rezim Orde Baru. Fakta ini di balik gelak tawa itu diungkap Indro, satu-satunya personel Warkop DKI yang tersisa.
Indro, dalam perbincangan di kanal YouTube Merry Riana, menceritakan pengalaman menegangkan saat Warkop DKI berada di bawah pengawasan ketat aparat.
Indro menyebut nama Warkop DKI masuk dalam daftar khusus, karena humor mereka yang dianggap terlalu tajam. Peringatan itu bahkan datang langsung dari ajudan seorang petinggi keamanan negara saat itu.
"Katanya, kami sudah ada di map kuning. Hati-hati lo," kenang Indro, dalam video yang tayang, dikutip dari Suara.com, Selasa, 28 Oktober 2025.
Di masa itu, istilah 'map kuning' merujuk pada daftar orang-orang yang diawasi, karena dianggap kritis atau berpotensi membahayakan stabilitas.
Komedian kelahiran Purbalingga ini menambahkan, materi lawakan kritis mereka sering kali berasal dari masukan rekan-rekan aktivis mahasiswa.
"Yang memberikan semangat, yang memberikan bahan, juga teman-teman aktivis yang lain," jelas Indro.
Ia menyebut beberapa nama aktivis terkemuka yang menjadi 'kontributor' ide untuk Warkop DKI.
"Sebagai contoh, kayak Mas Nanu itu ada kedekatan dengan Dokter Hariman Siregar. Itu juga banyak memberikan masukan," tambahnya.
Kolaborasi antara seniman dan aktivis inilah yang membuat kritik Warkop DKI begitu tajam dan berbobot, namun sekaligus menempatkan mereka dalam posisi yang berbahaya di bawah rezim yang represif.

