Sederet Menu MBG Ini Diduga Bikin Ribuan Anak Keracunan

Program-Makan-Bergizi-Gratis-MBG-di-Kota-Pekanbaru.jpg
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Pekanbaru. (LARAS OLIVIA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE - Publik saat ini menyoroti kasus dugaan keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia.

Kualitas pengelolaan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi salah satu pemicu kekhawatiran publik.

Dihimpun dari berbagai peristiwa, berikut menu MBG yang membuat ribuan anak sekolah keracunan, seperti dilansir dari Liputan6.com, Minggu, 28 September 2025:

  1. Kasus dugaan keracunan di MA Syarif Hidayatullah, Cipongkor, menu MBG yang disajikan berupa: nasi, ayam, tahu goreng, sambal, sayuran dan buah strawbery.
  2. Kasus dugaan keracunan di Garut, di mana saat itu menu MBG yang disajikan berupa: nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, dan buah strawbery.
  3. Kasus dugaan keracunan di Tasikmalaya, menu MBG yang disajikan berupa: mie, ayam semur cincang, krupuk pangsit, dan sawi hijau.
  4. Kasus dugaan keracunan di SDN Taruna Bakti di Desa Cianjur, menu MBG yang disajikan berupa: kentang goreng, tempe, ayam katsu, dan buncis.
  5. Kasus dugaan keracunan di SMPN 1 Kragan, Rembang, Jateng, menu MBG yang disajikan: mie ayam, tahu rebus, serta buah potong melon.
  6. Kasus dugaan keracunan di SD Kecamatan Benua Kayong, Ketapang, Kalbar, menu MBG yang disajikan berupa: nasi, ikan hiu filet saus tomat, oseng kol dan wortel.
  7. Kasus dugaan keracunan di SDN 178 Palembang, menu MBG yang disajikan berupa: nasi, ayam katsu, tahu, salad, serta buah pisang.
  8. Kasus dugaan keracunan di SDN 1 Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar, menu MBG yang disajikan berupa: nasi, ayam kecap, oseng kol, tempe goreng, dan puding.
  9. Kasus dugaan keracunan di SDN 1 Way Jaha, Kecamatan Pugung, menu MBG yang disajikan berupa: nasi, tahu goreng, ikan lele goreng, dan buah salak.
  10. Kasus dugaan keracunan di SMKN Palang, Tuban, Jawa Timur, menu MBG yang disajikan berupa: nasi goreng.
  11. Kasus dugaan keracunan di SDN Liliba Kota Kupang, NTT, menu MBG yang disajikan berupa: nasi, sayur, telur, tahu, dan susu.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan, pihaknya kini tengah melakukan pendalaman. Tim di lapangan masih bekerja memeriksa satu per satu kejadian yang dilaporkan di berbagai daerah.

"Ya, Polri saat ini sedang melakukan pendalaman, turun ke lapangan untuk melaksanakan pendalaman satu per-satu," ujar dia kepada wartawan di Mabes Polri, Jumat, 26 September 2025.

Listyo belum bicara gamblang terkait proses pendalaman yang dimaksud. Namun, Dia memastikan temuannya akan disampaikan ke publik.

"Tentunya secara resmi nanti akan kita informasikan," ucap dia.


Sementara itu, Kepala Staf Presiden (KSP) M. Qodari mengungkap fakta mengejutkan soal masifnya kasus keracunan program MBG di berbagai wilayah Indonesia.

Berdasarkan Berdasarkan data yang dikumpulkan dari Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), total korban keracunan mencapai lebih dari 5.000 siswa. Mayoritas kasus ditemukan di Provinsi Jawa Barat.

"BGN mencatat 46 kasus dengan 5.080 penderita per 17 September. Kemenkes mencatat 60 kasus dengan 5.207 korban per 16 September. BPOM mencatat 55 kasus dengan 5.320 korban per 10 September," kata Qodari saat konferensi pers di Istana Negara, Senin, 22 September 2025.

Meski terdapat perbedaan angka secara statistik, Qodari menyebut ketiga lembaga tersebut menunjukkan tren yang sama. Dia juga menyoroti data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang mencatat lebih tinggi lagi, yaitu 5.360 siswa terdampak keracunan MBG.

"Puncak kasus terjadi pada Agustus 2025 dan paling banyak tersebar di Jawa Barat," jelasnya.

Penyebab utama keracunan, menurut asesmen BPOM, antara lain disebabkan oleh buruknya higienitas makanan, penyimpangan suhu makanan, pengolahan pangan yang tidak sesuai standar, serta kemungkinan kontaminasi silang dari petugas penyaji.

Selain itu, sejumlah kasus juga dipicu oleh alergi makanan pada anak-anak penerima manfaat. Qodari menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup mata atas kejadian ini.

"Pemerintah tidak tone deaf. Pak Mensesneg juga sudah merespons, mengakui adanya kasus dan menyampaikan permintaan maaf serta komitmen untuk mengevaluasi program MBG secara menyeluruh," tegasnya.