Wamenkomdigi Ingatkan Bahaya Konten Manipulasi AI di Media Sosial

Wamenkomdigi-Ingatkan-Bahaya-Konten-Manipulasi-AI-di-Media-Sosial.jpg
Wamenkomdigi Angga Raka Prabowo dan Kepala PCO Hasan Nasbi. (ANTARA/HO-Tim Media Presiden Prabowo Subianto)

RIAU ONLINE - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Angga Raka Prabowo ingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap konten-konten bernuansa provokatif hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI) di media sosial.

Angga Raka menuturkan, konten-konten buatan kecerdasan buatan tersebut merupakan hoaks dan tidak menggambarkan kejadian yang nyata.

"Fenomena DFK (disinformasi, fitnah, kebencian) ini akhirnya merusak sendi-sendi demokrasi," kata Angga Raka, dikutip dari ANTARA, Rabu, 27 Agustus 2025.

"Misalnya, teman-teman yang tadinya mau menyampaikan aspirasi, mau menyampaikan unek-uneknya, akhirnya menjadi bias ketika sebuah gerakan itu di-engineering oleh hal-hal yang mohon maaf ya, yang DFK tadi," imbuhnya.

Angga Raka juga menilai beredarnya konten-konten yang di-generate oleh AI itu, misalnya beberapa yang terkait aksi unjuk rasa di depan Kompleks MPR, DPR, DPD RI, Jakarta, Senin, 25 Agustus 2025 lalu.

Angga menambahkan, kedatangannya ke Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) pada Selasa, 26 Agustus 2025 lalu untuk membahas strategi pemerintah menjaga ruang digital agar menjadi ruang yang aman.


Sehingga, ruang didgital diharapkan tidak menjadi wadah konten-konten hoaks hasil manipulasi AI yang provokatif dan bisa mengadu domba, dan juga tidak dikuasai oleh kelompok tertentu yang ingin menyebarkan kabar fitnah dan disinformasi yang sarat kebencian.

"Diskusi kami dengan Kepala PCO (Hasan Nasbi) dengan Pak Dirjen di situ, di situlah keprihatinan kita. Kita nggak mau masyarakat disesatkan dengan informasi-informasi yang tidak benar, dan negara mempunyai instrumen hukum untuk menegakkan itu," tuturnya.

Dia kemudian menyebut pemerintah telah mendorong pengelola aplikasi media sosial terutama yang selama ini menjadi platform tersebarnya konten-konten manipulatif buatan AI itu untuk lebih proaktif.

"Harusnya dengan sistem mereka, mereka juga sudah bisa lihat, oh ini by AI, oh ini nggak bener, oh ini palsu, harusnya sudah bisa langsung by system mereka udah langsung di-take down," kata Wamenkomdigi Angga.

Dia kemudian menekankan take down itu bukan artinya pemerintah membungkam atau membatasi kebebasan berekspresi, tetapi take down yang dimaksud itu ditujukan kepada konten-konten manipulasi AI yang tidak nyata, dan sarat dengan nuansa kebencian.

"Di sini kita tekankan sekali lagi kepada platform untuk juga memiliki sistem untuk menindak ini. Kita nggak mau demokrasi kita diciderai dengan hal-hal yang palsu, dibilangnya tadi misalnya ada bakar di sini, ternyata real-nya tidak ada kan. Itu kadang-kadang mungkin gerakan yang di tahun kapan dibikin terus dinarasikan (seolah-olah kejadian baru, red.)," ujar Angga.

Dalam kesempatan yang sama, Angga Raka menyebut pemerintahan Presiden Prabowo dan Presiden Prabowo berkomitmen penuh menjaga dan menegakkan demokrasi.

"Pak Prabowo sudah melalui pemilu berapa kali. Saya pribadi menjadi pelaku di dunia sosial media bareng teman-teman media sudah berapa tahun. Nggak ada saya pernah melaporkan siapa atas tuduhan apa. Enggak. Bagi kami ya, kritik itu kita terima, dan itu menjadi sebuah koreksi, dan masukan buat kami," kata Angga Raka. (ANTARA)