Duh Dek, Bayi 14 Minggu Terpaksa Ikut Ayah Narik Angkot, Ibu Meninggal 3 Bulan Lalu

Bilqis-Khoirun-Nisa-dan-sang-ayah.jpg
(Suara.com)

RIAU ONLINE, SEMARANG-Bilqis Khoirun Nisa (3,5 bulan) dan kakaknya Baqis Khoirun Najwa, murid kelas 4 SD harus merasakan getirnya hidup saat masih berusia belia.

Mereka harus kehilangan kasih sayang sang ibu sekaligus hidup kekurangan secara ekonomi. Keduanya pun terpaksa bersama sang ayah keliling kota Semarang di angkot  yang disupiri sang ayah.

Lelaki berusia 46 tahun itu sehari-hari bekerja sebagai supir angkutan kota jurusan Mangkang – Johar.

Terjepit kondisi perekonomian dan sang bunda Ariyani Dwi Styowani (32) yang meninggal dunia tiga bulan lalu, Nurul terpaksa membawa Bilqis dan Najwa saat bekerja.

 

Bilqis Khoirun Nisa dan kakaknya Baqis Khoirun Najwa [Suara.com/Dafi Yusuf]

Setiap hari, sejak pukul 06.00 – 23.00 WIB, Bilqis dan sang kakak selalu berada di mobil angkutan. Bilqis ditaruh di jok depan sebelah sang ayah.

"Sebenarnya tidak tega mengajak Bilqis dan Najwa. Namun mau bagaimana lagi, keadaan mendesak saya untuk melakukan hal tersebut. Daripada saya tinggal di rumah, lebih baik saya ajak ngompreng (ngangkut penumpang) karena bisa langsung saya pantau," kata Nurul saat ditemui Suara.com di rumahnya, Sabtu 8 Februari 2020.

Susu formula dan popok selalu ia siapkan sebelum berangkat kerja. Karena selalu berada di samping Bilqis, ia paham betul tanda-tanda buah hatinya itu akan buang air kecil atau air besar.

Namun, ia mengaku sempat sesekali kerepotan karena saat sedang menyupir, tiba-tiba anaknya nangis kepanasan atau minta minum susu.

Kala buah hatinya menangis, Nurul menepikan angkot untuk membuat susu atau memeriksa popok. Menurutnya, kebanyakan penumpang sudah memahami kondisinya. Bahkan ada juga yang membantu untuk mengasuh Bilqis.

"Biasanya kalau menangis saya bilang ke penumpang 'maaf ada iklan' begitu. Kebanyakan penumpang sudah memahami kondisi saya. Penumpang malah banyak yang membantu.”

Ia menyadari banyak penumpang merasa kasihan, sehingga memberikan uang melebihi standar ongkos. Uang itu, ia simpan untuk dibelikan makanan buah hati.

Bahkan, lanjutnya, banyak juga penumpang yang kaget ketika tiba-tiba ada suara bayi di dalam mobil. Setelah melihat buah hatinya, banyak yang menanyakan keberadaan sang ibu lantas iba.

"Banyak yang kaget juga, kok tiba-tiba ada suara bayi menangis di dalam mobil. Saat penumpang tanya di mana ibunya, saya cuma bilang ibunya sedang pulang.”

Perjuangan Nurul tidak sampai di situ. Ketika siang, ia harus bergegas menjemput anaknya yang pertama Baqis Khoirun Najwa di SD Pancasila Semarang. Aktivitas seperti itu, ia lakukan hampir setiap hari.

Setelah ia menjemput Najwa, putri tertuanya langsung diajak mengangkut penumpang bersama Bilqis. Kalau sudah ada Najwa, beban Nurul agak ringan. Sebab, anak pertamanya itu sudah terbiasa merawat Bilqis meski umurnya baru 7 tahun.

"Mau bagaimana lagi, saya sebenarnya tidak tega. Hidup anak-anak saya habis di angkutan dan terminal. Saya bersyukur mereka bisa menerima dan tidak rewel.”

Hanya cukup untuk susu dan popok

Kisah pilu Bilqis sempat viral di media-media sosial. Selain terpaksa harus menghabiskan hari-harinya dalam angkot, Nurul mengakui dirinya kesulitan ekonomi.

Dari hasil kerja, Nurul hanya sanggup membelikan susu dan popok untuk Bilqis. Semetara untuk kebutuhan lain seperti pakaian, sandal, sepeda bayi hasil sumbangan tetangga.

"Bagaimana ya, pengahasilan sebagai sopir angkot setiap harinya hanya dapat Rp 70 ribu. Cuma cukup untuk membelikan susu dan pempers Bilqis," kata Nurul.

Sebelumnya, Ia sempat menitipkan Bilqis ke tetangganya. Namun, lama kelamaan Nurul merasa tak enak hati.

Sebab, dia mengakui tak bisa memberikan uang ataupun yang lain kepada tetangga pengasuh Bilqis.

"Tidak enak, saya tidak bisa memberi apa-apa kepada tetangga saya itu. Apalagi yang mengasuh dia sudah tua ya, akhirnya saya nekat membawa Bilqis pergi kerja meski umurnya baru 3,5 bulan."

Orang yang biasa mengasuh Bilqis, Sawi (60) kerap kali sedih ketika melihat Bilqis diajak ayahnya bekerja. Ia kerap kali menangis karena tidak tega Bilqis yang masih balita diajak berpanas-panasan.

"Bilqis itu sudah seperti cucu saya sendiri. Saya kerap menangis, kalau melihat dia diajak bekerja ayahnya. Biasanya saya ngemong dia sambil jualan pecel," katanya.

Apalagi, lanjutnya, dulunya Bilqis lahir secara prematur. Kali pertama menggendong Bilqis, ukurannya hanya sebesar botol air mineral dan pernah mempunyai penyakit kekuningan.

Menurutnya, tidak hanya dia, tetanggaya juga kerap was-was ketika melihat Bilqis diajak bekerja ayahnya.

"Sudah seperti keluarga sendiri. Kasihan ayahnya, dia mempunyai dua anak yang masih kecil-kecil namun sudah menghadapi cobaan yang besar."

Artikel ini sudah terbit di Suara.com