Kisah Bocah Korban Kabut Asap di Pekanbaru

Kartun-Presiden-Jokowi-Blusukan-Asap.jpg
(RIAUONLINE.CO,ID)

RIAUONLINE, PEKANBARU - Bocah berusia 13 bulan, Gibran Doktora Deysra, terbaring lemah di ruang perawatan anak Rumah Sakit Santa Maria Pekanbaru. Mulut dan hidungnya dipasang alat bantu pernapasan sedangkan tangannya terpasang infus. Gibran didiagnosa menderita radang paru akibat terpapar asap sisa kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti kota itu sejak dua bulan terakhir.

 

"Kondisi lingkungan yang buruk akibat asap boleh jadi pemicu penyakitnya," kata ayah sang bocah, Yusra Afdal Kahar, saat ditemui Tempo, di Rumah Sakit Santa Maria, Pekanbaru, Selasa, 29 September 2015. Sebagaimana dikutip RIAUONLINE.CO.ID. (KLIK: Jokowi Sebut Perlu Waktu 3 Tahun Atasi Kabut Asap)

 

Yusra sadar betul kabut asap pekat menyelimuti Riau sejak dua bulan terakhir ini berdampak buruk terhadap kesehatan. Ia khawatir kesehatan tiga buah hatinya terganggu akibat paparan asap. (BACA: Mahasiswa Tuntut Trio Rachman Diperiksa)

 

Namun apa yang ditakutkan akhirnya terjadi, anak bungsunya mengalami demam tinggi dan sesak nafas. Meski segala upaya telah dilakukan, mulai dari menutup rapat pintu rumah, memasang kipas angin bahkan menyalakan AC sekalipun. Asap tetap saja masuk melalui celah rumah. "Tidak semua fentilasi bisa kita tutup," katanya. (LIHAT: Selamat Jalan Hanum, Gadis Kecil Korban Ganasnya Asap Riau

 

Ahad, 20 September 2015 lalu, Gibran sang anak mengalami demam tinggi disertai batuk. Yusra sempat memberikan obat penurun panas untuk anaknya. Namun setelah tiga hari berselang suhu panas badannya tidak kunjung turun, kondisinya kian memburuk diiringi batuk dan sesaf nafas. "Lalu saya bawa ke rumah sakit," kata warga Jalan Garuda Sakti, KM 3 Pekanbaru ini. (INFO: Hanum Disebut Meninggal Karena Asap, Ini Kata Dokternya

 

Setiba di Rumah Sakit kata Yusra, dokter meminta Gibran harus dirawat inap. Hasil pemeriksaan dokter menyebutkan Gibran mengalami peradangan pada paru-paru sebelah kirinya. Yusra menduga lingkungan yang buruk membuat anaknya jatuh sakit akibat terpapar asap. "Kami di rumah tidak ada yang merokok, kami juga tidak ada riwayat penyakit sesak nafas, tapi lingkungan di sekitar rumah sangat buruk akibat asap memicu kesehatannya tergganggu," jelas Yusra. (KLIK: Ini Dia 16 Perusahaan Diusut Polda Riau)

 

Dokter Sepsialis anak Santa Maria Susprawitasari yang merawat Gibran menuturkan, pasien tiba di rumah sakit dalam kondisi demam tinggi disertai batuk dan sesak nafas. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik dan foto rongga dada (rongen), menunjukkan terjadi infeksi saluran pernafasan menengah atau radang paru-paru. "Infeksinya sudah sampai ke cabang broncus," katanya.

 

Susprawitasari mengatakan kondisi pasien sudah mulai membaik setelah dilakukan penangangan sistem penguapan untuk membantu pernafasannya. "Pasien berangsur pulih dan sudah mau makan," ujarnya.

 

Susprawitasari mengaku kabut asap menyelimuti Pekanbaru memperburuk kesehatan anak mengingat daya tahan tubuh anak dibawah umur belum sempurna. "Sistem imun anak belum sempurna sehingga mudah sakit," jelasnya.