Ribuan Warga Kepung Satgas PKH Saat Kepulangan: Jangan Balik Lagi Ya Sayang

Ribuan-Warga-Kepung-Satgas-PKH-Saat-Kepulangan-Jangan-Balik-Lagi-Ya-Sayang.jpg
Warga kepung kepulangan Satgas PKH di Taman Nasional Tesso Nilo, Kamis, 17 Juli 2025. (Istimewa)

RIAU ONLINE, PELALAWAN - Suasana tegang mewarnai detik-detik kepulangan belasan anggota TNI dari Satuan Tugas Penanganan Konflik Hutan (Satgas PKH) yang selama ini bertugas di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, Kamis, 17 Juli 2025. 

Ribuan warga tampak memadati jalan perkebunan sawit di Bukit Kesuma untuk mengawal langsung iring-iringan kendaraan yang membawa Satgas PKH kembali ke markas.

Kehadiran Satgas PKH selama beberapa bulan terakhir menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mengamankan kawasan TNTN yang terus mengalami perambahan. 

Namun, keberadaan mereka juga memicu pro dan kontra di tengah masyarakat yang selama ini bermukim dan menggantungkan hidup di dalam kawasan tersebut.

“Jangan balik lagi ya, sayang. Langsung ke rumah aja.” Kalimat bernada setengah bercanda namun sarat makna itu terdengar dari mulut seorang ibu yang turut menyaksikan keberangkatan Satgas PKH. 

Seruan itu sontak mengundang tawa kecil, namun juga menegaskan harapan warga agar kondisi kembali kondusif dan tidak ada lagi tekanan relokasi yang mereka anggap sebagai pengusiran dari tanah yang telah mereka huni bertahun-tahun.


Dalam video yang beredar, terlihat belasan anggota TNI menaiki mobil taktis militer sambil dikawal warga yang berjalan kaki di sisi kiri dan kanan jalan tanah merah di tengah perkebunan sawit. 

Meski tidak terjadi bentrokan, pengawalan warga ini menjadi simbol kuat perlawanan terhadap program relokasi yang masih ditolak oleh sebagian besar masyarakat setempat.

"Kami bukan penjahat. Kami tinggal di sini sudah lebih dari 10 tahun. Kalau memang salah, ayo duduk sama-sama, cari solusi. Tapi jangan paksa kami pindah,” ujar warga di TNTN, Iskandar (49).

Kepulangan Satgas PKH disambut lega oleh warga, namun di sisi lain, ini juga menandakan bahwa konflik belum benar-benar berakhir. 

Pemerintah masih berpegang pada rencana relokasi sebagai solusi pelestarian hutan, sementara warga menginginkan legalisasi lahan dan pendekatan dialog.

Di tengah gejolak tersebut, berbagai pihak menyerukan perlunya pendekatan kemanusiaan dan dialog terbuka antara masyarakat, pemerintah daerah, dan pihak Taman Nasional Tesso Nilo. 

Sejumlah LSM lingkungan juga mulai menyuarakan bahwa pelestarian hutan tidak bisa dipisahkan dari perlindungan hak hidup warga yang telah lama berada di sana.

Hingga saat ini, ribuan warga masih bertahan di kawasan TNTN dan menolak meninggalkan lahan yang mereka anggap sebagai satu-satunya sumber penghidupan.