Dari Pencarian Panjang Menuju Hidayah, Tiga Warga Resmi Masuk Islam di An Nur

Dari-Pencarian-Panjang-Menuju-Hidayah-Tiga-Warga-Resmi-Masuk-Islam-di-An-Nur.jpg
Tiga orang secara resmi memeluk agama Islam setelah mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan jamaah Masjid Raya An Nur Provinsi Riau usai pelaksanaan Salat Jumat, Jumat, 19 Juni 2026. (Defri Candra/Riau Online)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Suasana haru menyelimuti Masjid Raya An Nur Provinsi Riau usai pelaksanaan Salat Jumat, Jumat, 19 Juni 2026.

Tiga orang secara resmi memeluk agama Islam setelah mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan jamaah yang memadati masjid kebanggaan masyarakat Riau tersebut.

Ketiga mualaf tersebut adalah Gabe Tambunan (48), Marlena Zalukhu (26), dan Ronala M. Siahaan (33). Prosesi pengucapan syahadat dipandu langsung oleh Pembimbing Mualaf Center An Nur Riau, Rubianto.

Sebelum membimbing ketiganya mengucapkan syahadat, Rubianto terlebih dahulu memastikan bahwa keputusan memeluk Islam benar-benar lahir dari hati nurani mereka sendiri.

"Kami ingin memastikan bahwa saudara-saudara yang masuk Islam ini tidak dalam keadaan dipaksa oleh siapa pun dan tidak karena iming-iming hadiah atau keuntungan tertentu," ujar Rubianto di hadapan jamaah.

Saat ditanya, ketiganya secara tegas menyatakan bahwa keputusan menjadi mualaf merupakan pilihan pribadi yang lahir dari keyakinan masing-masing. Mereka juga menegaskan tidak ada paksaan maupun janji hadiah dari pihak mana pun.

Rubianto kemudian memberikan pesan penting kepada para mualaf agar tetap menghormati dan menjaga hubungan baik dengan kedua orang tua serta keluarga mereka, meskipun memiliki keyakinan yang berbeda.

"Orang tua tetap harus dihormati dan disayangi. Perbedaan agama jangan menjadi alasan untuk memutus silaturahmi. Kecuali jika diajak kembali kepada keyakinan yang lama, maka tetaplah berpegang pada keyakinan yang telah dipilih," pesannya.

Salah satu kisah yang paling menyentuh datang dari Ronala M. Siahaan. Di hadapan jamaah, ia menceritakan perjalanan panjang pencarian spiritual yang akhirnya membawanya kepada Islam.

Ronala mengaku mulai tertarik mengenal Islam setelah merasakan pengalaman berbeda saat mencoba berpuasa. Dari pengalaman itu, ia merasakan ketenangan dan kedamaian yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

"Saya merasakan sesuatu yang berbeda. Ada ketenangan dan kedamaian yang benar-benar menyentuh hati ketika pertama kali mencoba ikut berpuasa," ungkap Ronala.

Rasa penasaran itu kemudian mendorongnya untuk mempelajari Islam lebih dalam melalui berbagai sumber informasi. Seiring berjalannya waktu, keyakinannya semakin kuat hingga memutuskan untuk memeluk Islam. Namun, keinginannya itu tidak langsung mendapat restu keluarga.


"Keinginan untuk masuk Islam sebenarnya sudah ada sejak tahun 2017. Tetapi orang tua saya saat itu belum menyetujui. Saya terus berusaha memberikan pemahaman kepada mereka tentang pilihan dan keyakinan saya," katanya.

Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Setelah hampir sembilan tahun menunggu, orang tua Ronala akhirnya memberikan izin dan merestui keputusannya memeluk agama Islam pada tahun ini.

Marlena Temukan Jawaban atas Kebingungan Spiritual

Sementara itu, Marlena Zalukhu mengaku perjalanan spiritualnya bermula saat ia mulai beranjak dewasa dan mencoba memahami lebih dalam tentang keyakinan yang dianutnya.

Ia mengaku sempat mengalami kebingungan mengenai sosok yang seharusnya menjadi tujuan doa dan ibadah.

"Saat saya mulai dewasa dan bisa menganalisa banyak hal, saya bingung sebenarnya saya harus berdoa kepada siapa. Antara Yesus atau Tuhan Allah," ujarnya.

Kebingungan itu membuat Marlena terus mencari jawaban melalui berbagai referensi dan pembelajaran agama. Hingga akhirnya ia sampai pada keyakinan bahwa Tuhan hanya satu.

"Dari pencarian informasi yang saya lakukan, akhirnya terbuka pikiran dan hati saya bahwa Tuhan itu satu. Dari situlah saya memutuskan untuk memeluk Islam agar bisa beribadah sesuai dengan keyakinan yang saya yakini," tuturnya.

Keputusan tersebut akhirnya mengantarkannya pada momen sakral pengucapan dua kalimat syahadat di Masjid Raya An Nur.

Berbeda dengan dua mualaf lainnya, Gabe Tambunan tidak banyak menjelaskan alasan yang melatarbelakangi keputusannya masuk Islam.

Pria berusia 48 tahun itu hanya menyampaikan bahwa keinginannya memeluk Islam murni berasal dari niat pribadi.

"Saya masuk Islam karena niat dari diri sendiri," ucapnya singkat namun penuh keyakinan.

Setelah mendengarkan alasan ketiganya memeluk Islam, Rubianto kemudian membimbing satu per satu mualaf mengucapkan dua kalimat syahadat beserta artinya.

Dengan suara yang masih terbata-bata dan penuh haru, ketiganya mengikuti setiap kalimat yang diucapkan pembimbing.

Prosesi berlangsung khidmat. Begitu syahadat selesai diucapkan, gema takbir dan ucapan "Alhamdulillah" langsung menggema dari jamaah yang menyaksikan.

Momen tersebut menjadi saksi lahirnya tiga saudara baru dalam Islam yang telah melalui perjalanan panjang menuju keyakinan yang mereka pilih.

Usai prosesi syahadat, Rubianto kembali memberikan nasihat kepada para mualaf agar terus belajar memahami ajaran Islam secara bertahap.

"Jangan lupa terus belajar. Belajar wudhu, belajar salat, menghafal surat-surat pendek, dan memahami dasar-dasar agama Islam," pesannya.

Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan menjadi seorang Muslim tidak berhenti pada pengucapan syahadat semata.

"Yang paling penting adalah istiqamah. Teruslah belajar dan memperbaiki diri. Semoga Allah memudahkan langkah saudara-saudara semua dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim," tutupnya.

Sebagai bentuk perhatian dan dukungan, Mualaf Center An Nur Riau turut menyerahkan bingkisan kepada ketiga mualaf berupa perlengkapan salat lengkap untuk membantu mereka memulai kehidupan baru sebagai seorang Muslim.