RIAU ONLINE, PEKANBARU - Ulama kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) menyampaikan kesaksian yang sarat emosi saat hadir sebagai saksi meringankan dalam persidangan Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid.
Dalam keterangannya di hadapan majelis hakim, UAS mengaku menjadi sasaran hujatan dan perundungan publik dari berbagai daerah di Indonesia setelah memberikan klarifikasi terkait kabar operasi tangkap tangan (OTT) yang menyeret nama Abdul Wahid.
Di hadapan tim penasihat hukum, UAS menceritakan bahwa dirinya memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Abdul Wahid sejak masa kampanye Pilkada. Bahkan, ia mengaku turut mengawal Abdul Wahid saat proses pendaftaran ke KPU.
"Saya sudah lama kenal. Beberapa hari setelah itu saya kawal ke KPU, saya sendiri yang menyetir mobil Jeep ke KPU," ujar UAS di persidangan, Kamis, 18 Juni 2016.
Menurut UAS, kedekatannya dengan Abdul Wahid berawal dari harapan agar sejumlah program pembangunan yang pernah dijanjikan kepada masyarakat dapat terealisasi, termasuk pembangunan Islamic Center yang menurutnya sudah beberapa kali dipresentasikan.
Namun harapan tersebut terhenti setelah Abdul Wahid tersandung perkara hukum.
"Semua program hilang semenjak Abdul Wahid tertangkap," katanya.
Dalam kesaksiannya, UAS juga mengungkapkan bahwa Abdul Wahid pernah mengadukan kepadanya adanya ancaman yang diterima dari pihak tertentu. Bahkan, ancaman itu disebut-sebut membawa nama KPK.
"Wahid mengadu kepada saya, dia mendapat ancaman dan ada suara menyebut KPK, 'jangan macam-macam'," ungkap UAS.
Mendengar hal itu, UAS mengaku berusaha mencari jalan damai. Ia menyebut sejumlah tokoh, termasuk mantan Bupati Siak Arwin dan Asri Auzar, pernah mencoba mempertemukan pihak-pihak yang berselisih.
"Saya tidak menemukan titik temu. Arwin tidak bisa mendamaikan dan kami tidak menemukan solusi," ujarnya.
UAS menegaskan bahwa dirinya juga pernah menyampaikan langsung kepada Abdul Wahid agar tidak takut menghadapi intimidasi.
"Saya sampaikan ke AW, tidak bisa diancam orang," katanya.
Momen paling emosional terjadi ketika UAS menjelaskan kronologi munculnya video yang menyebut adanya OTT terhadap Gubernur Riau pada 3 November 2025.
Menurutnya, menjelang Magrib pada hari itu dirinya menerima kabar mengenai dugaan OTT. Ia kemudian langsung menuju kediaman Abdul Wahid untuk memastikan informasi yang beredar.
"Saya bertolak dari Rimbo Panjang. Saya sampai dan bertemu langsung dengan AW. Beliau menyatakan tidak ada OTT di kediaman," ujar UAS.
Tak puas dengan jawaban tersebut, UAS mengaku sampai tiga kali menanyakan hal yang sama kepada Abdul Wahid.
"Setelah saya tanya, tidak ada. Saya tanya tiga kali," katanya.
Karena banyaknya video dan informasi yang beredar di masyarakat mengenai OTT Gubernur Riau, UAS akhirnya memberikan penjelasan kepada publik berdasarkan apa yang diketahuinya saat itu.
"Banyak video yang mempertanyakan. Saya menyatakan video OTT Gubernur Riau, dan saya jawab yang OTT itu Kadis PUPR," tutur UAS.
Namun pernyataan tersebut justru menjadi bumerang bagi dirinya. UAS mengaku menerima gelombang kritik, hujatan, hingga perundungan dari masyarakat luas.
"Sampai hari ini tidak ada OTT. Saya dibully se-Indonesia," tegas UAS di hadapan majelis hakim.
Pernyataan itu sontak menyita perhatian ruang sidang. UAS menilai dirinya menjadi sasaran kritik karena berusaha menyampaikan informasi yang menurutnya sesuai dengan fakta yang ia ketahui saat itu.
Dalam kesempatan yang sama, tim kuasa hukum juga menanyakan pandangan UAS mengenai integritas Abdul Wahid selama menjabat sebagai kepala daerah.
UAS mengaku pernah menerima berbagai laporan dari masyarakat dan beberapa kali berkomunikasi langsung dengan Abdul Wahid terkait praktik pungutan liar.
Menurutnya, Abdul Wahid menunjukkan sikap tegas terhadap tindakan yang melanggar aturan.
"Beliau mengirimkan pesan dan menunjukkan screenshot tentang WA grup, jangan ada pungli. AW memecat orang yang melakukan pengutipan," ungkapnya.
UAS juga menjelaskan alasan dirinya mendukung Abdul Wahid sejak awal. Sebagai seorang dai, ia meyakini perubahan tidak cukup hanya dilakukan melalui ceramah.
"Saya berpikir tidak bisa merubah hanya dengan ceramah. Dakwah akan bisa berubah dengan kekuasaan, sehingga saya memilih sahabat saya untuk duduk," katanya.
Ketika ditanya apakah dirinya mengawasi Abdul Wahid selama menjabat, UAS menjawab bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan setiap saat.
"Saya tidak bisa mengawasi 24 jam. Kalau ada masukan dari masyarakat saya sampaikan. Setiap Rabu Subuh saya membuka pertanyaan dan segala sesuatu bisa dilaporkan kepada saya. Selama itu tidak ada yang mengadukan kejelekan beliau," ujarnya.
Menjelang akhir kesaksiannya, UAS menyampaikan pernyataan yang paling menyentuh dan memancing reaksi pengunjung sidang.
Saat ditanya apa yang ingin disampaikan terkait perkara yang menjerat Abdul Wahid, UAS memberikan jawaban tegas.
"Sampai saat ini saya tidak melihat satu pun bukti hingga saat ini," katanya.
Bahkan UAS mengaku pembelaannya terhadap Abdul Wahid melebihi pembelaannya terhadap keluarga sendiri.
"Saya tidak pernah membela saudara kandung saya seperti membela Abdul Wahid," ujar UAS.
Ia kemudian menegaskan komitmennya untuk terus memberikan dukungan kepada sahabatnya tersebut.
"Aku tetap akan membela Abdul Wahid," tegasnya.
Pernyataan itu langsung disambut takbir dari para pengunjung sidang yang sebagian besar merupakan simpatisan dan pendukung Abdul Wahid.
Suasana ruang sidang berubah haru. Sejumlah pengunjung tampak menitikkan air mata mendengar pernyataan UAS yang tetap berdiri di belakang sahabatnya meski mengaku harus menerima hujatan dan dibuli oleh masyarakat di seluruh Indonesia.

