Merawat Harapan Lewat Imunisasi di Posyandu

imunisasi.jpg
Pelaksanaan imunisasi di Posyandu Geliga Hati, RW 05, Kelurahan Air Putih, Kecamatan Tuah Madani, Kota Pekanbaru. (Anggun Rosita Alifah/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - "Masak ini ada yang bilang imunisasi itu bahan-bahannya haram," celetuk Delviza, salah satu kader di Posyandu Harapan Bunda yang terletak di di RW 03, Kelurahan Air Putih, Kecamatan Tuah Madani, Kota Pekanbaru.

Namun di lapangan, yang mereka hadapi bukan hanya anak-anak, melainkan benturan budaya, misinformasi digital, hingga ketidakpercayaan orang tua terhadap vaksin. 

“Ada yang bilang, masak anak sehat malah disuntik penyakit,” ujar Delviza.

Demikian pula yang dirasakan oleh Elly Kartika, Ketua Kader Posyandu Harapan Bunda. Saat ponsel pintar mudah digenggam, Elly merasakan langsung bagaimana media sosial memperdalam jurang antara kader dan masyarakat.

“Zaman sekarang gadget canggih, tapi justru lebih susah menghadapi warga,” ujarnya.

Pengalaman Elly selama delapan tahun mengajarkannya betapa sulit menjangkau masyarakat di tingkat tapak untuk memberi imunisasi pada anaknya.

"Kalau kita turun ke lapangan itu sedihnya luar biasa. Sering dicaci maki, difoto, katanya mau dilaporkan,” ungkapnya lirih.

Di era digital ini, tantangan Posyandu bukan hanya persoalan anggaran atau fasilitas. Lebih dalam dari itu adalah jurang kepercayaan antara petugas dan masyarakat semakin menganga.

Fani (23), ibu dari si kembar Yasmin dan Yaslin (5 bulan) rutin datang ke Posyandu Harapan Bunda karena percaya imunisasi adalah langkah awal menjaga masa depan anak. 

“Yang penting kita mengusahakan kesehatan anak,” ucapnya.

Merawat Harapan Lewat Imunisasi di Posyandu 2

Bahu-membahu Bangun Posyandu

Hanya berjarak 800 meter dari Posyandu Harapan Bunda, suasana berbeda terasa di Posyandu Geliga Hati berada di RW 05, Kelurahan Air Putih, Kecamatan Tuah Madani, Kota Pekanbaru. 

Ketua Kader, Jarmainis menyambut anak-anak dengan senyum kecil. Kader-kader lainnya tampak sibuk dengan berbagai kegiatan. Ada yang bertugas di meja pendaftaran, kader lainnya sibuk mengukur berat badan dan tinggi bayi di meja sebelahnya.

Beberapa ibu yang bersiap meninggalkan posyandu, tampak memegang bingkisan terbungkus kertas coklat. 

"Kami tahu, masyarakat perlu dorongan. Jadi kami beri doorprize, makanan tambahan, penyuluhan. Setelah mereka bisa jawab pertanyaan dari materi, baru dapat hadiah,” kata Jarmainis, saat pelaksanaan posyandu pada Senin, 7 Juli 2025.

"Bangunannya dari warga, dananya sukarela. Tapi masyarakat cukup antusias," imbuhnya.

Jarmainis mengatakan, capaian imunisasi di wilayahnya tembus 50 persen. Bagi ukuran daerah urban padat dan dinamis, itu angka yang lumayan. Namun, untuk mencapai angka ini tentu bukan tanpa hambatan.

"Ada yang bilang, dulu kita gak imunisasi sehat-sehat saja. Tapi ya itu, pentingnya penyuluhan. Kalau tidak dijelaskan, orang tidak tahu manfaatnya," ujarnya.

Untuk mereka yang tidak sempat datang, kader siap menjemput dan mengantar pulang. Mereka tak hanya sekadar petugas lapangan, tapi jembatan antara ilmu dan kepercayaan.

Susanti menjadi salah satu ibu yang merasakan kehangatan perhatian kader-kader ini. Dirinya kerap dijemput ke rumah, saat suaminya bekerja. Penyuluhan yang diberikan kader posyandu juga membuatnya merasa tenang dan percaya.

“Namanya anak demam itu wajar, karena disuntik. Tapi demi kebaikan anak,” ujarnya.

Bidan Ria Enjelita, petugas kesehatan yang bertugas menyebut mayoritas masyarakat di wilayah tugasnya sudah cukup paham pentingnya imunisasi. Namun, tentu tak lepas dari tantangan.

“Kadang datang ke posyandu, tapi gak mau imunisasi. Alasannya takut anak demam, atau dilarang suami. Kadang gara-gara hoaks di media sosial,” ujarnya.

Ria dan para bidan lainnya berperan aktif memberi edukasi sebelum penyuntikan. Ia berharap semua anak bisa mendapat hak imunisasi. 


“Ini bukan soal tren. Ini soal generasi. Anak yang sehat bisa belajar maksimal, jadi pintar, jadi pemimpin kelak,” ujarnya.

Merawat Harapan Lewat Imunisasi di Posyandu 3

Dari Donat Hingga Grup WhatsApp

Di hari yang sama, pelayanan di Posyandu Kasih Ibu juga dibuka. Posyandu terbaik di Provinsi Riau tahun 2024 lalu ini mengusung sejumlah inovasi. Salah satu inovasi yang dilaksanakan adalah Dongeng Anak Sehat (Donat). Saat balita sudah berkumpul di pagi hari, sembari menunggu giliran pemeriksaan kesehatan dan imunisasi, seorang kader akan mendongeng di hadapan anak-anak. 

“Di sini setiap balita yang imunisasi lengkap kita beri sertifikat. Namanya juga ditulis di media ‘Rumah Imunisasi’. Edukasi jalan, inovasi jalan,” ungkapnya

Kepada orang tua, mereka juga melakukan pendekatan berbeda. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membuat grup percakapan di WhatsApp. Para kader akan mengingatkan jadwal imunisasi sesuai usia anak, hingga menjadikannya sarana edukasi dan meluruskan informasi-informasi yang beredar.

“Kami sebagai kader, menjelaskan sesuai ilmu yang kami dapat. terus bidannya juga menjelaskan,” tutur Sari, kader lainnya di Posyandu Kasih Ibu.

Di balik kesuksesan Posyandu ini, ada kerja sama lintas sektor yang solid. Baik dari RT, RW, kelurahan, hingga donatur masyarakat. Hal ini seperti yang disampaikan Sari Rulita, Kader Posyandu Kasih Ibu.

“Kami punya gedung sendiri, itu jarang di tempat lain,” ujar Novel Irawan, Ketua RW 07, Kelurahan Tangkerang Timur, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru, yang ditemui saat pelaksanaan posyandu, Senin, 7 Juli 2025.

Merawat Harapan Lewat Imunisasi di Posyandu 4

Kolaborasi dan Kader Berprestasi 

Masih di Tangkerang Timur, Posyandu Kartika Sari berlokasi di belakang Taman Wisata Alam Mayang. Konsep Posyandu Wisata mereka kembangkan bersama pemilik taman, Nurmaliza atau Ocha, lewat program CSR.

“Karena di RW 02 ini jumlah bayi/balita kita sangat banyak, masyarakat sangat membutuhkan fasilitas berupa bangunan. Sehingga kita berikan bangunan ini dan di pos pintu belakang, supaya mudah dicapai masyarakat setempat,” tutur Ocha.

Kader Posyandu Kartika Sari, Gustina Afridawati yang merupakan Kader Posyandu terbaik di Tingkat Kota Pekanbaru pada 2024, menjadi motor penggerak bagi rekan-rekanya.

Tina terus melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui berbagai sarana informasi, seperti flyer, penyuluhan saat arisan PKK, kunjungan rumah, bahkan lewat grup masjid. 

"Setiap info dari Puskesmas dan pemerintah, kami bagikan. Kader meneruskan ke grup-grup mereka," ujar Tina.

Tantangan yang dihadapi tak beda jauh dari Posyandu lainnya. Meski demikian, mereka membentuk barisan lintas sektor saat menghadapi tantangan. 

“Saat isu polio ramai, kita turun sebulan penuh. Tapi capaian tetap rendah karena masyarakat takut. Ada yang menolak, bilang vaksin haram atau bikin anak sakit,” kenang Tina.

Namun semangat Tina dan kader lainnya tidak surut. Mereka terus turun dari rumah ke rumah, menerangkan dengan sabar, meyakinkan dengan teladan.

“Alangkah lebih baiknya jika pemerintah kita juga bisa mengusahakan kebijakan, misalnya menetapkan imunisasi atau sertifikat imunisasi lengkap untuk masuk sekolah. Kalau imunisasi diwajibkan oleh pemerintah, niscaya masyarakat akan merasa perlu dan mereka akan datang ke kami tanpa kami harus turun ke bawah,” tandasnya. 

Zulmida, Ketua Pembina Posyandu Kelurahan Tangkerang Timur, menyebut semangat kader sebagai fondasi utama keberhasilan capaian imunisasi di Posyandu.

“Kami punya 10 posyandu. Empat di antaranya belum punya bangunan tetap. Tapi kader kami luar biasa. Mau belajar, mau bekerja. Itu yang buat capaian bisa bagus. Kami jemput bola. Kalau tidak, sulit mencapai target,” kata Zulmida.

Posyandu Tak Sekadar Tempat Timbang Bayi

Di tengah tantangan capaian imunisasi di Pekanbaru yang masih rendah, kualitas fasilitas posyandu menjadi faktor kunci yang kerap luput dari sorotan. Menurut Ardenny, SKep., Ners., M.Kep, Wakil Direktur I Poltekkes Kemenkes Riau, kelengkapan sarana dan prasarana posyandu memiliki korelasi yang kuat terhadap kedatangan ibu dan bayi ke posyandu yang pada akhirnya memengaruhi cakupan imunisasi dasar lengkap.

“Sarana dan prasarana posyandu merupakan salah satu faktor enabling yang mempengaruhi kedatangan ibu ke posyandu. Di Pekanbaru, kondisi fasilitas posyandu masih belum optimal,” tutur Ardenny kepada Riau Online, Selasa, 15 Juli 2025.

Ardenny mengungkapkan, evaluasi di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya menunjukkan bahwa pelaksanaan posyandu belum maksimal karena kurangnya sumber daya manusia, keterbatasan anggaran, dan sarana prasarana yang belum lengkap. 

Survei menunjukkan bahwa hanya 53,6% responden menilai sarana prasarana posyandu dalam kondisi baik, sementara 46,4% menilai masih kurang.

“Kondisi ini menciptakan siklus negatif di mana fasilitas yang kurang memadai menyebabkan masyarakat enggan datang ke posyandu, yang pada akhirnya berdampak pada rendahnya capaian imunisasi,” tuturnya.

Ardenny menekankan perlunya intervensi lintas sektor untuk memperkuat infrastruktur posyandu. Investasi tidak harus selalu besar, namun tepat guna yang meliputi ruang pelayanan yang permanen, ventilasi dan pencahayaan yang cukup, alat imunisasi standar, serta ruang menyusui yang layak.

“Program pelatihan berkelanjutan untuk tenaga kesehatan dan kader posyandu perlu diperkuat. Fokus tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada kemampuan komunikasi dan edukasi masyarakat. Penanganan keraguan tenaga kesehatan terhadap imunisasi ganda juga perlu mendapat perhatian khusus,” ungkapnya.

Menurut Ardenny, Pekanbaru perlu memprioritaskan implementasi program Indonesia Nutrition Early Years (INEY) sebagai kerangka kerja komprehensif untuk mengatasi tantangan imunisasi. Koordinasi yang kuat antara berbagai stakeholder, termasuk Poltekkes, Dinas Kesehatan, dan organisasi masyarakat, menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Sistem monitoring dan evaluasi yang robust perlu dikembangkan untuk memantau progress implementasi program dan mengidentifikasi hambatan secara real-time. Hal ini memungkinkan penyesuaian strategi yang cepat dan tepat sasaran,” pungkasnya.

Merawat Harapan Lewat Imunisasi di Posyandu 5

Anak Sehat, Ladang Pahala

Sempat terjadi penurunan capaian imunisasi di posyandu, pasca COVID-19. Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, dr. Fira Septiyanti, saat ditemui pada Kamis, 10 Juli 2025. 

“Memang di tahun 2023–2024 sempat turun, karena banyak posyandu tidak berjalan pasca pandemi COVID-19. Tapi di setengah tahun 2025 ini, trennya naik,” ujar Fira, Kamis, 10 Juli 2025.

Mengenai tantangan utama, Fira menyebut dua hal. Bertambahnya jenis imunisasi rutin, dan rendahnya literasi digital masyarakat menjadi tantangan yang harus dihadapi pelaksana imunisasi. 

“Dulu hanya imunisasi dasar lengkap. Sekarang ada tambahan seperti rubella, HPV, pneumokokus. Tapi masyarakat belum semuanya paham pentingnya,” jelasnya.

“Hoaks di media sosial sangat mempengaruhi. Misalnya soal halal-haram, efek samping, atau ketakutan berlebihan. Penolakan bisa dari ibu, dari ayah, bahkan dari nenek karena alasan adat. Itu semua karena pemahaman yang belum pas. Makanya penting buat kami untuk terus edukasi lewat media, lewat PKK, posyandu, dan kolaborasi lintas sektor,” papar Fira.

Ia menekankan bahwa Kota Pekanbaru saat ini berada di peringkat lima dari 12 kabupaten/kota di Riau untuk capaian imunisasi bayi lengkap. Hingga pertengahan tahun 2025, capaian imunisasi dasar lengkap di kota ini berada di angka 28,8 persen. 

Beberapa puskesmas seperti Muara Fajar, Harapan Raya, Tenayan Raya, dan Rejosari bahkan sudah mencapai lebih dari 40 persen. 

“Kelihatan, masyarakat pinggiran itu lebih terbuka. Di kota, targetnya tinggi tapi jumlah bayi di lapangan bisa lebih sedikit, dan mobilitas warga juga tinggi. Kadang sudah pindah tapi datanya masih tercatat,” jelasnya.

Untuk itu, ia menegaskan pentingnya memanfaatkan berbagai saluran layanan imunisasi. 

“Posyandu memang buka sebulan sekali. Tapi imunisasi bisa juga di puskesmas yang buka setiap hari, atau di mal vaksinasi, rumah sakit, dan klinik. Banyak opsi,” ujarnya.

dr. Fira menegaskan bahwa imunisasi adalah hak anak yang dilindungi oleh undang-undang. 

“Orang tua punya kewajiban memenuhi hak itu. Anak belum bisa menentukan sendiri apa yang terbaik untuk mereka. Karena itu kami kampanyekan melalui tagline: Anak Sehat, Ladang Pahala. Kita berkolaborasi dengan MUI, Kemenag, Dinas Pendidikan, PKK, dan seluruh lintas sektor untuk memastikan semua anak mendapatkan perlindungan yang layak.”

Di lorong-lorong kecil, di bawah tenda darurat, atau di balai RW yang disulap jadi ruang timbang, para kader posyandu terus bekerja. Bukan karena mereka digaji besar. Tapi karena mereka tahu, kesehatan adalah tanggung jawab kolektif.

Imunisasi bukan hanya soal jarum suntik. Tapi tentang menanam harapan, tentang menolak pasrah, dan tentang merawat masa depan bersama.