DPRD Pekanbaru Jajaki Teknologi Jepang Ubah Sampah Jadi Energi, Diklaim Tanpa Bebani APBD

audiensi-di-dprd-pekanbaru.jpg
Audiensi di Ruang Rapat Banmus DPRD Kota Pekanbaru, Rabu 29 Juli 2026. (HERIANTO WIBOWO/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Upaya mencari solusi jangka panjang terhadap persoalan sampah di Kota Pekanbaru terus dilakukan. Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru mulai menjajaki peluang kerja sama dengan perusahaan teknologi asal Jepang, Biotechworks, yang menawarkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi baru dengan skema pembiayaan yang diklaim tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Peluang kerja sama tersebut mengemuka dalam audiensi yang digelar di Ruang Rapat Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Kota Pekanbaru, Rabu 29 Juli 2026.

Pertemuan dipimpin Sekretaris Komisi IV DPRD Pekanbaru Roni Amriel, didampingi Ketua Komisi IV Rois, serta dihadiri anggota Komisi IV lainnya, yakni Sovia Septiana, Roni Pasla, Pangkat Purba, Zulkardi, dan Zulfan Hafiz.

Dalam kesempatan itu, CEO Biotechworks, Akihide Nishikawa, memaparkan teknologi yang telah diterapkan di Jepang dan sejumlah negara lain. Teknologi tersebut diklaim mampu mengolah sampah menjadi hidrogen, energi baru, hingga bahan bakar tanpa menyisakan limbah.

"Kami ingin mengubah sampah menjadi sumber energi baru. Kami ingin melakukan ini demi masyarakat Pekanbaru," kata Akihide.

Menurutnya, persoalan penumpukan sampah di Pekanbaru memerlukan solusi yang lebih modern dan berkelanjutan. Jika tidak ditangani dengan pendekatan baru, persoalan tersebut dikhawatirkan akan terus menjadi beban bagi daerah.

"Yang saya ketahui, penumpukan sampah di Pekanbaru kalau tidak diselesaikan, sampai 50 tahun ke depan pun tidak akan selesai," ujarnya.

Akihide menilai Pekanbaru memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan berbasis sampah. Energi yang dihasilkan nantinya dapat disalurkan kepada perusahaan-perusahaan energi sehingga memberikan nilai ekonomi sekaligus manfaat bagi masyarakat.

"Pekanbaru memiliki banyak potensi sumber energi. Kami ingin memberikan solusi melalui teknologi pengolahan sampah menjadi energi baru yang nantinya bisa disuplai ke perusahaan energi dan memberikan manfaat bagi masyarakat Pekanbaru," jelasnya.



Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru, Rois, mengatakan audiensi tersebut merupakan tindak lanjut setelah Biotechworks mengaku telah menjalin komunikasi awal dengan Pemerintah Kota Pekanbaru terkait rencana kerja sama pengelolaan sampah.

"Kami ingin mendengar langsung seperti apa konsep yang mereka tawarkan dan apakah bisa diterapkan dengan kondisi di Pekanbaru," kata Rois.

Setelah mendengarkan pemaparan awal, Rois menilai konsep yang ditawarkan cukup menjanjikan dan layak untuk dikaji lebih mendalam.

"Walaupun baru sebatas pemaparan awal, menurut kami ini bisa direkomendasikan untuk dikaji lebih lanjut," ujarnya.

Menurut Rois, salah satu aspek yang paling menarik perhatian Komisi IV adalah skema pembiayaan yang ditawarkan tidak menggunakan APBD Kota Pekanbaru.

"Yang menarik, konsep yang mereka tawarkan menggunakan skema non-APBD. Jadi kalau benar bisa direalisasikan, anggaran daerah yang selama ini cukup besar untuk pengelolaan sampah bisa dialihkan ke program pembangunan lainnya," jelas politisi PKS tersebut.

Meski demikian, DPRD belum mengambil keputusan terkait rencana kerja sama tersebut. Dalam waktu dekat, Komisi IV akan memanggil Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru untuk membahas lebih rinci aspek teknis maupun mekanisme penerapan teknologi tersebut.

"Nanti masih ada pertemuan lanjutan. Mereka akan memaparkan secara lebih detail bagaimana tahapan kerja samanya, bagaimana mekanismenya, dan apakah teknologi ini benar-benar memungkinkan diterapkan di Pekanbaru," paparnya.

Rois mengungkapkan, berdasarkan pemaparan awal, teknologi Biotechworks mampu mengolah sampah organik menjadi pupuk dan pelet, sementara sampah anorganik dapat dikonversi menjadi bahan bakar dan sumber energi.

Namun demikian, ia menilai masih ada tantangan mendasar yang harus dijawab sebelum teknologi tersebut dapat diterapkan di Pekanbaru, yakni kondisi sampah yang hingga kini belum dipilah sejak dari sumbernya.

"Yang kami minta nanti adalah penjelasan bagaimana penerapannya di Pekanbaru. Di Jepang dan daerah lain, sampah yang mereka olah sudah dipilah. Sementara di Pekanbaru kondisinya masih bercampur. Ini yang akan kami dalami lebih lanjut," tutup Rois.

Apabila hasil kajian menunjukkan teknologi tersebut layak diterapkan, kerja sama ini berpotensi menjadi salah satu terobosan dalam penanganan sampah di Pekanbaru. Selain mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, teknologi itu juga diharapkan mampu menghasilkan energi bernilai ekonomi tanpa menambah beban keuangan daerah.