Kisah di Balik Syahadat 5 Warga di Pekanbaru: Cinta hingga Pencarian Keyakinan

5-warga-masuk-islam-di-annur.jpg
Lima orang warga bersyahada di Masjid Raya An-Nur (DEFRI CANDRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Lima orang warga dari berbagai daerah memutuskan untuk memeluk agama Islam di Masjid Raya An-Nur Provinsi Riau usai Salat Jumat, Jumat, 11 September 2026.

Prosesi persyahadatan tersebut berlangsung di hadapan Pembimbing Mualaf Center An-Nur Riau Ustaz Rubianto, dua orang saksi, serta disaksikan sejumlah jamaah.

Menariknya, mereka berasal dari berbagai profesi, mulai dari dokter gigi, pengemudi, mahasiswa baru Universitas Riau (Unri), hingga ibu rumah tangga.

Sebelum prosesi pembacaan dua kalimat syahadat dimulai, Ustaz Rubianto bersama dua orang saksi terlebih dahulu berbincang dengan kelima calon mualaf. Mereka ditanya mengenai alasan dan keyakinan masing-masing dalam mengambil keputusan untuk memeluk agama Islam.

Hal tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil benar-benar lahir dari keyakinan dan kesadaran pribadi.

Christian Stevanus (24), seorang dokter gigi, mengaku memutuskan memeluk Islam karena ingin menikahi perempuan yang menjadi pujaan hatinya. Sang calon pasangan juga hadir menyaksikan calon suami bersyahadat tersebut.

Meski sebelumnya telah mempelajari Islam dan mendapatkan bimbingan, Christian tampak masih terbata-bata ketika melafalkan dua kalimat syahadat. Namun, dengan penuh kesungguhan ia mengikuti setiap kalimat yang dibimbingkan Ustaz Rubianto hingga akhirnya dinyatakan telah bersyahadat.

Keputusan serupa juga diambil Alex Sandro Gultom (26), seorang pengemudi. Ia tertarik memeluk Islam karena ingin melanjutkan hubungannya dengan perempuan yang dicintainya ke jenjang pernikahan.

Sang pujaan hati juga hadir di Masjid Raya An-Nur untuk menyaksikan Alex mengucapkan dua kalimat syahadat. Di hadapan Ustaz Rubianto, Alex mengikuti setiap lafaz syahadat dengan penuh kesungguhan.

Berbeda dengan Christian dan Alex, keputusan Davin Federico untuk memeluk Islam lebih banyak dipengaruhi oleh ketertarikannya terhadap kajian Islam. Davin merupakan mahasiswa baru Universitas Riau dari Fakultas Pertanian.

Di usianya yang masih muda, Davin mengaku telah cukup sering mendengarkan ceramah dan kajian Islam melalui media sosial, salah satunya pengajian Ustaz Felix Siauw yang ia ikuti melalui kanal YouTube.

Dari berbagai kajian yang didengarnya, ketertarikan Davin terhadap Islam semakin tumbuh hingga akhirnya ia memutuskan untuk bersyahadat. Keputusan tersebut juga telah mendapatkan restu dari sang ibu. 



Davin mengaku telah menyampaikan keinginannya kepada sang ibu untuk memeluk Islam dan mendapatkan izin untuk menentukan jalan hidupnya.

Davin kemudian mantap datang ke Masjid Raya An-Nur untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

Sementara itu, Shania Maria Panjaitan (26) datang dengan mengenakan mukena putih. Kedatangannya ke Mualaf Center An-Nur Riau menjadi momentum yang telah lama dinantikannya.

Maria mengaku sejak kecil telah mengenal dan mempelajari ajaran Islam. Ia bahkan telah mempelajari tata cara salat dan berpuasa.

Pengetahuan dan ketertarikannya terhadap Islam tersebut akhirnya membawanya pada keputusan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat secara resmi. Maria mengikuti prosesi persyahadatan dengan penuh ketenangan.

Kisah berbeda datang dari Choeriah Rohimi (54), seorang ibu rumah tangga asal Majalengka. Choeriah mengaku sebenarnya pernah memeluk agama Islam. 

Namun, karena suatu alasan, ia sempat keluar dari Islam. Kini, setelah melalui perjalanan hidupnya, Choeriah memutuskan untuk kembali memeluk agama Islam. 

Momen tersebut berlangsung penuh haru. Dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca, Choeriah tampak menahan tangis saat berada di hadapan Ustaz Rubianto.

Suasana semakin emosional ketika Choeriah mulai melafalkan dua kalimat syahadat dengan tersedu-sedu. Tangis haru mengiringi setiap lafaz yang diucapkannya hingga akhirnya ia kembali menyatakan keislamannya.

Kelimanya secara bergantian menyelesaikan prosesi pembacaan dua kalimat syahadat. Sejumlah jamaah yang menyaksikan prosesi tersebut turut menjadi saksi atas keputusan besar yang diambil kelimanya.

Kepada kelimyan, Ustaz Rubianto berpesan agar mereka tidak menjadikan agama sebagai sesuatu yang sementara atau sekadar mengikuti kepentingan tertentu.

Ia menegaskan keputusan memeluk Islam harus disertai dengan komitmen untuk terus belajar dan menjalankan ajaran agama secara istiqamah.

"Agama ini bukan mainan. Jadi jangan karena ingin menikah masuk Islam lalu keluar lagi. Jangan," pesan Rubianto.

Ia mengingatkan, pernikahan memang dapat menjadi salah satu jalan seseorang mengenal Islam, tetapi setelah memeluk agama Islam, keyakinan tersebut harus terus dipelihara dan diperkuat.

Rubianto juga berpesan agar kelima mualaf tetap menjaga hubungan baik dengan orang tua dan keluarga, meskipun terdapat perbedaan keyakinan.

"Jaga hubungan baik dengan kedua orang tua. Walaupun berbeda keyakinan, orang tua tetap harus dihormati dan hubungan kekeluargaan harus tetap dijaga," pesannya.

Selain itu, para mualaf juga diberikan sejumlah arahan mengenai kewajiban yang perlu dilakukan setelah bersyahadat. 

Mereka juga diminta mempelajari ajaran Islam secara bertahap. Mulai dari belajar membaca bacaan salat, menghafal ayat-ayat pendek Alquran, memahami tata cara berwudu, hingga mempelajari dan mengamalkan Rukun Islam serta Rukun Iman.

Rubianto menekankan bahwa proses belajar tersebut tidak harus dilakukan sekaligus. Yang terpenting, para mualaf terus belajar, memahami ajaran Islam dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

"Belajar secara bertahap. Mulai dari bacaan salat, ayat-ayat pendek, tata cara berwudu, kemudian memahami dan mengamalkan Rukun Islam serta Rukun Iman," pungkasnya.

Sebagai bentuk dukungan setelah mereka memeluk Islam, Mualaf Center An-Nur Riau juga memberikan bingkisan kepada kelima mualaf. Bingkisan tersebut berisi perlengkapan salat lengkap yang diharapkan dapat membantu mereka dalam menjalankan ibadah sehari-hari.