Donald Trump Kirim Mata-mata, Yakin Covid-29 dari Laboratorium di Wuhan

Virus-Corona2.jpg
(istimewa)

RIAU ONLINE, WASHINGTON-Presiden Amerika, Donal Trump mengirimkan mata-mata untuk menguak lebih gamblang mengenai virus coroba yang diyakini Amerika berasal dari Laboratorium di kota Wuhan, China.

Sekretaris Negara Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan ada "bukti kuat" bahwa pandemi coronavirus berasal dari sebuah laboratorium di Wuhan, China.

"Ada bukti yang sangat kuat bahwa ini adalah awal mulanya," katanya di ABC.

Dilansir dari Japan Today, meski China sendiri dikiritik habis terkait penanganan masalah ini, Pompeo menolak untuk mengatakan bahwa virus ini memang sengaja dilepaskan.

Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump semakin kritis terhadap peran China dalam pandemi, yang telah menginfeksi hampir 3,5 juta orang dan menewaskan lebih dari 240.000 di seluruh dunia.

Dia bersikeras bahwa Beijing secara rahasia menyembunyikan informasi penting tentang wabah itu dan menuntut agar Beijing dianggap "bertanggung jawab."

Laporan berita mengatakan Trump telah menugaskan mata-mata AS untuk mencari tahu lebih lanjut tentang asal-usul virus yang pada awalnya diduga berasal dari pasar Wuhan yang menjual hewan-hewan eksotis seperti kelelawar.

Kini diperkirakan bahwa penyakit ini berasal dari laboratorium penelitian virus di dekatnya.

Pompeo, mantan direktur Central Intelligence Agency, mengatakan bahwa ia setuju dengan konsensus ilmiah yang luas bahwa virus Covid-19 bukan buatan manusia atau dimodifikasi secara genetis.

Tetapi dia mengaku memiliki bukti "signifikan" dan "sangat besar" bahwa virus itu berasal dari laboratorium Wuhan.

"Saya pikir seluruh dunia dapat melihat sekarang, ingat, China memiliki sejarah menginfeksi dunia dan menjalankan laboratorium di bawah standar," kata Pompeo.

Dia mengatakan upaya awal China untuk mengecilkan virus corona sama dengan "upaya disinformasi Komunis klasik. Itu menciptakan risiko yang sangat besar."

"Presiden Trump sangat jelas: kami akan meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab." Artikel ini sudah terbit di Suara.com