Oleh Khairunnisa & Muhammad Aiza Maulana (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNISKA Muhammad Arsyad Al Banjari – Banjarmasin)
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Banjir yang kerap terjadi di sepanjang Jalan Negara–Kandangan bukan lagi sekadar peristiwa musiman, melainkan telah menjadi persoalan serius yang terus berulang dari tahun ke tahun. Sebagai jalur penghubung vital antarwilayah, Jalan Negara– Kandangan memiliki peran strategis dalam pergerakan ekonomi dan mobilitas warga.
Sayangnya, kondisi drainase yang tidak optimal, sedimentasi saluran air, serta alih fungsi lahan di sekitar jalan diduga menjadi faktor utama penyebab banjir. Air hujan yang seharusnya mengalir dengan lancar justru meluap ke badan jalan, memperparah keadaan. Dampak banjir ini dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pengendara terpaksa melambat atau mencari jalur alternatif, pelaku usaha mengalami penurunan aktivitas, dan warga sekitar harus berhadapan dengan genangan yang berpotensi merusak lingkungan serta kesehatan.
Ironisnya, kondisi ini seolah dianggap biasa, padahal kerugian yang ditimbulkan tidaklah kecil. Pemerintah daerah seharusnya tidak hanya fokus pada penanganan darurat saat banjir terjadi, tetapi juga melakukan langkah konkret dan berkelanjutan.
Normalisasi drainase, perbaikan sistem saluran air, serta penataan lingkungan sekitar jalan harus menjadi prioritas. Banjir di Jalan Negara–Kandangan adalah cerminan dari lemahnya pengelolaan infrastruktur dan lingkungan. Jika tidak segera ditangani secara serius dan menyeluruh, masalah ini akan terus berulang dan semakin merugikan banyak pihak.
Sudah saatnya semua elemen pemerintah dan masyarakat bersinergi agar jalan utama ini kembali aman, nyaman, dan bebas dari banjir yang terjadi di wilayah Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan merupakan peristiwa yang berulang dan dipengaruhi oleh faktor alamiah wilayah serta kondisi cuaca dengan intensitas hujan yang cukup tinggi.
Selain curah hujan lokal, peningkatan debit air juga dipicu oleh adanya air kiriman dari kecamatan lain di Kabupaten Hulu Sungai Selatan maupun dari wilayah hulu sungai, sehingga menyebabkan genangan meluas di kawasan pemukiman warga.
Berdasarkan hasil monitoring yang dilaksanakan oleh Polsek Daha Selatan pada hari Selasa, 06 Januari 2026, sekitar pukul 07.00 WITA, diketahui bahwa dampak banjir telah menjangkau 16 desa di Kecamatan Daha Selatan.
Secara keseluruhan, tercatat sebanyak 967 rumah terdampak, 1.267 Kepala Keluarga, dan 3.582 jiwa yang terkena dampak langsung dari kejadian tersebut. Desa dengan jumlah terdampak terbesar antara lain Desa Baruh Jaya, Desa Pihanin Raya, Desa Tambangan, dan Desa Samuda, yang menunjukkan bahwa sebaran genangan air cukup merata di wilayah kecamatan.
Selain pemukiman warga, banjir juga berdampak pada fasilitas umum dan objek vital, seperti SDN 1 Bayanan, SMPN 1 Daha Selatan, Koramil 1003-08 Daha Selatan, kantor PDAM, kantor Pos, SPBU di Muning, serta halaman Kantor Polsek Daha Selatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa banjir tidak hanya berdampak pada kehidupan rumah tangga masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu pelayanan publik dan aktivitas pemerintahan.
Dari sisi infrastruktur jalan, genangan air terjadi di beberapa ruas jalan utama, di antaranya Jalan Negara Kandangan di Desa Muning Baru, Jalan Lingkar Utara Desa Pihanin Raya, Jalan Lingkar Selatan Desa Tumbukan Banyu, serta sejumlah jalan desa di wilayah Kecamatan Daha Selatan.
Kondisi pemukiman warga terdampak menunjukkan variasi ketinggian air. Sebagian rumah mengalami genangan di pelataran dan dapur, sementara sebagian lainnya air telah masuk ke dalam rumah dengan ketinggian yang berbeda-beda, bergantung pada konstruksi bangunan.
Wilayah Daha Selatan yang dikelilingi rawa secara geografis berfungsi sebagai daerah penampungan air alami, sehingga memperpanjang durasi genangan dan memperbesar dampak banjir.
Akibat dampak kejadian ini warga tidak ada sampai mengungsi ke rumah keluarga maupun tetangga namun biasanya akan membuat struktur bangunan baru di dalam rumah yang lebih tinggi dengan bahan kayu agar air meskipun air sudah memasuki rumah karena mayoritas bangunan rumah terbuat dari kayu dan sebagian lagi masih bertahan di rumah yang mana kejadian ini berlangsung berbulan bulan.
Meski banjir berlangsung cukup lama dan berpotensi berbulan-bulan, hingga saat ini tidak terdapat warga yang mengungsi ke rumah keluarga maupun tetangga. Mayoritas warga memilih bertahan di rumah dengan melakukan penyesuaian, seperti membangun struktur lantai sementara yang lebih tinggi dari kayu di dalam rumah agar aktivitas sehari-hari tetap dapat dilakukan meskipun air telah memasuki bangunan.
Hal ini sejalan dengan karakteristik bangunan rumah warga yang sebagian besar terbuat dari kayu dan telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan rawa.

