Penulis: Osvian Putra
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Masalah timbul ketika musim hujan tiba ketika mendekati akhir tahun 1944. Curah hujan yang besar dan dalam durasi yang lama menyebabkan debit air menjadi lebih tinggi, lebih besar dengan arus yang tentu saja deras.
Kontan saja debit air yang besar itu menyebabkan jembatan kayu yang relatif baru itu sontak menjadi goyah. Bisa dimaklumi, karena fondasinya tidaklah dalam dan tidak dipasang dengan menggunakan alat yang semestinya dan juga tidak menggunakan bahan yang semestinya.
Cuma kayu, walaupun keras, namun kalau tidak menancap dalam ke tanah keras pasti akan goyah kena terjangan air.
Hari-hari pertama hujan, keadaan masih terkendali. Tapi hari berikutnya ketika hujan tak kunjung reda, walaupun tidak deras, namun dari hulu telah terserap banyak air karena hujan merata di seantero Sumatera.
Apa lagi waktu itu semua masih hutan belantara, sehingga air tertahan di tanah dan secara alami mengalir ke tempat yang rendah, dan tentu saja ke aliran batang Kampar. Minggu pertama musim hujan itu sudah mulai terdengar jembatan itu berderak pertanda sambungan antar kayunya terguncang tekanan air.
Bunyi derak seperti itu kian terasa kian hari, apalagi ketika hujan deras turun disertai dengan angin kencang.
Masalah lagi, ada seringkali batang-batang serta ranting pohon yang hanyut terbawa arus melintang di antara tiang jembatan sehingga tekanan air menjadi lebih berat karena tak pelak, selain kayu dan ranting, selalu saja ada rumput, dedaunan serta berbagai jenis benda lainnya yang tersangkut merintangi tiang-tiang itu.
Maka, kali ini selain berderak, jembatan mulao oyong dan tidaknya sudah mulai tidak lurus lagi, mering ke hilir karena di hulu selalu kena hantaman air dan benda-benda lainnya.
Tercatat pada suatu malam di penghujung tahun (bulannya tidak tercatat), curah hujan yang begitu besar dan deras diiringi oleh suara petir serta tiupan angin terasa kencang saat malam mulai telah menyelimuti Teratak Buluh. Air sungai telah sampai di permukaan.
Para tahanan perang sudah mulai gelisah. Semua yang berada di tempat kerendahan telah dijangkau air. Permukaan dan lantai barak di kamp mereka pun sudah basah.
Kayu yang tadinya dibakar untuk dijadikan unggun, bahan penerangan sekaligus pengusir nyamuk juga basah dan apinya langsung padam. Gelap gulita. Air terus naik.
Tentara penjaga Korea dan Jepang mulai gelisah dan panic memikirkan jembatan akan roboh. Maka bergegaslah mereka ke kamp pekerja dengan berteriak sembari menyuruh 5-6 orang yang dirasa mampu dan cukup kuat untuk naik ke atas kayu jembatan dengan membawa galah kayu untuk menyingkirkan apapun yang merintangi jalannya air di antara kayu-kayu fondasi jembatan.
Maka, dengan rasa takut, menahan marabahaya, takut karena pasti akan didera dengan tamparan, pukulan bahkan hantaman popor senjata, mau tidak mau para tahanan yang disuruh bertugas itu melangkah diantara derasnya air hujan bercahayakan obor dari getah karet dan berbekal kayu perancah yang akan digunakan sebagai galah pengais sampah di permukaan air.
Kuyup, basah, mendebarkan sekaligus menakutkan sekali malam itu bagi mereka. Dengan tidak menggunakan alat pengaman sama sekali mereka disuruh mengerjakan tugas maha berat tersebut.
Hanya berbekal peralatan primitive dengan modal keberanian menantang bahaya, akhirnya lewat tengah malam, pekerjaan mereka baru tuntas ketika terlihat arus air menjadi lebih laju dan lancar karena benda-benda penghalang telah disingkirkan.
Namun, konon, pada saat mau kembali, karena mungkin sudah kelelahan, tiga orang diantaranya, satu romusha Jawa dan dua tahanan perang Eropa, tergelincir dari atas jembatan dan kontan saja dimangsa derasnya air. Teriakan mereka hilang begitu saja ditelan derasnya air di malam yang kelam itu.
Begitulah mereka korban perang itu. Mereka tidak mati akibat timah panas atau peluru musuh. Akan tetapi tewas karena kejamnya perlakuan terhadap mereka.

