Tentang Kamp I (2)

Rel-Pekanbaru-Muaro.jpg
Para tahanan perang berjalan di atas rel kereta api Pekanbaru-Muaro Sijunjung. (Pekanbarudeathrailway.com)

Penulis: OSVIAN PUTERA 

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Karena berada di pinggir aliran sungai, pada saat musim air pasang, atau ketika musim hujan, dapat dipastikan akan terendam air. Bila hujannya tidak lama dan tidak deras, mungkin tidak sampai membasahi lantai. Akan tetapi seringkali yang terjadi adalah air hujan atau air luapan sungai merendam kawasan kamp hingga sepaha, bahkan sepinggang. 

Masalahnya adalah tanah pinggir sungai yang lokasinya saat ini diperkirakan berseberangan dengan titik, dimana terdapat Boom lama di utara sungai, tempat bongkar muat material milik Caltex/Chevron dulu. Jadi di seberang sebelah selatan, terdapat semacam workshop. Karena bekas tempat kerja, tentu saja ini memang sudah kumuh dari awalnya. Penuh dengan bekas-bekas oli, minyak mentah, besi dan peralatan untuk keperluan perusahaan minyak dan sejenisnya. Singkat cerita, kotor!

Ketika rombongan tahanan perang berkebangsaan Eropa mulai datang ke Pekanbaru, pertama kali mereka ditempatkan di kamp ini. Waktu itu Mei 1944. Akan tetapi, meskipun baru saja menempati kamp ini, bukan berarti kamp ini sama sekali baru. 

Laporan dari para penyintas perang, menyebutkan bahwa ketika pertama kali sampai di lokasi, mereka menemukan kamp ini seperti sebuah kamp yang sebelumnya pernah berpenghuni. Masih terdapat sisa-sisa keberadaan mereka, walaupun kamp itu sendiri sudah terlihat kotor, tidak terurus, penuh sarang laba-laba, kecoa serta tikus.

Balai-balai yang terbuat dari kayu dan bambu yang disusun terlihat reot, sama sekali tidak kokoh, apalagi untuk menampung tubuh para tahanan perang berkebangsaan Eropa yang bobot tubuhnya besar dan berat. Maka, ketika pertama kali tiba itu lah mereka terpaksa membenahi dahulu tempat mereka berdiam tersebut, baik membersihkan, memperkuat ataupun menyisip atap yang sebagiannya sudah bolong atau tipis karena ada dahan rumbia yang lepas. 

Begitu juga dengan pekerjaan-pekerjaan membuat dapur, membuat kakus, mempersiapkan dan membenahi area buat tentara Jepang serta para penjaga. Tentu saja bangunan untuk Jepang lebih bagus kondisinya dibanding yang diperuntukkan bagi para tahanan perang itu.



Di sekeliling area dipasang ulang kawat berduri. Jadi ada pembatas antara lahan kosong dengan tanaman perdu serta pohon-pohon karet yang bercampur dengan pohon alam yang tumbuh di luar area. Artinya dengan itu, sekurang-kurangnya para tahanan perang ini akan sedikit aman dari ancaman serangan binatang.

Jarak antar bedeng, yang berukuran sekitar 8-12 meter itu sekitar 4-5 meter. Nah, kelak, lahan kosong diantara bedeng itu nantinya dipergunakan oleh para tahanan perang untuk menanam berbagai jenis tanaman serta sayuran yang bisa dimakan. 

Panjang juga ke seluruh komplek bedeng-bedeng yang kita sebut kamp tersebut, apalagi jika ditambah dengan bangunan-bangunan lain mulai dari asrama buat tentara Jepang, asrama buat tentara penjaga berkebangsaan non Jepang (Korea-Taiwan), menara pengintai, dapur, dapur untuk Jepang, kebun sayur untuk tentara Jepang serta ruang yang mungkin juga dipergunakan sebagai kantor atau ruang komando. 

Tentu saja kakus yang bentuknya hanyalah galian tanah yang memanjang, mungkin lebih dari 20 meter dimana diatasnya diberi papan untuk duduk mencangkung buat buang hajat. Penampungan air nya juga begitu. 

Jika buat militer Jepang tersedia drum-drum bekas dengan air yang lebih bersih, maka untuk tahanan perang sumber air hanyalah dari kolam galian yang airnya berasal dari Sungai Siak, bersisian dengan toilet panjang tadi. 

Satu-satunya kemewahan buat tahanan perang adalah bahwa pimpinan tahanan perang dipersilakan membuat pondok buat mereka sendiri. Sederhana sekali, juga terbuat dari kayu serta beratap dan berdinding rumbia. 

Cuma perlu diketahui, bahwa saat rombongan pertama datang, ditetapkan yang menjadi kepala kamp 1 (tahanan perang) adalah Letnan Kolonel W.C.M. Slabbekoorn. Akan tetapi karena sudah tua, dan shock menghadapi kenyataan menjadi tahanan perang dengan kondisi yang mengenaskan dia jadi pikun. Maka pimpinan sehari-hari diserahkan kepada yang lebih muda, Letnan H.C.P. Vennik. 

Usianya baru 28 tahun, berkebangsaan Belanda, rambutnya panjang, tapi kelebihannya, dia tegas sehingga dipercaya oleh rekan-rekannya sesama tahanan, meskipun umurnya masih muda.