Samsung Dukung Generasi Muda Hadapi Tantangan Global dengan Teknologi

Samsung-Dukung-Generasi-Muda-Hadapi-Tantangan-Global-dengan-Teknologi.jpg
Samsung Solve for Tomorrow (SFT) dan Samsung Innovation Campus (SIC) (Defri Candra/Riau Online)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Lewat Samsung Solve for Tomorrow (SFT) dan Samsung Innovation Campus (SIC), perusahaan teknologi global ini membuktikan komitmennya dalam mendorong anak muda Indonesia mengubah ide menjadi solusi nyata lewat sentuhan teknologi.

Samsung tidak hanya dikenal sebagai pemimpin teknologi, tetapi juga aktif membentuk masa depan generasi muda. Melalui dua program Corporate Social Responsibility (CSR) unggulannya,

Program ini menyasar pelajar SMA/SMK/MA hingga mahasiswa D3/D4/S1, dengan fokus utama pada penguasaan teknologi masa depan seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), coding, dan pemrograman.

Bukan sekadar pelatihan, kedua program ini menjadi wadah inkubasi gagasan inovatif yang mampu menjawab tantangan nyata di tengah masyarakat.

"Samsung terus konsisten mendampingi perjalanan Indonesia menuju masyarakat digital. Kami bangga program Samsung Innovation Campus dan Samsung Solve for Tomorrow telah menjangkau ribuan pelajar dan mahasiswa memberi pengalaman langsung bagaimana teknologi bisa membawa perubahan positif," ujar Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Bagus Erlangga, Rabu, 22 Oktober 2025.

"Ke depan, kami berkomitmen terus mendukung lahirnya talenta digital baru yang akan menjadi motor penggerak masa depan Indonesia," tambahnya.

Diluncurkan pertama kali pada 2023, Solve for Tomorrow hadir sebagai kompetisi inovatif yang mendorong peserta menggunakan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) untuk menjawab permasalahan sosial di sekitar mereka.

Pada tahun pertama, SFT berhasil menjaring 309 tim dengan 1.087 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Keberhasilan ini bahkan membawa Samsung meraih Platinum Award dalam kategori Best Provision of Literacy and Education di ajang Global CSR & ESG Summit 2024 sebuah pengakuan internasional atas dampak positif program ini. Memasuki tahun 2025, antusiasme meningkat pesat. Sebanyak 2.603 pendaftar mengikuti seleksi, dengan 2.274 peserta berhasil lolos ke babak penyisihan.


Dua tema besar yang diangkat yakni Environmental Sustainability via Technology (1.439 peserta) dan Social Change Through Sport & Tech (835 peserta), melahirkan ide-ide brilian seperti:

Konversi limbah plastik menjadi listrik, Inovasi sport-tech inklusif untuk perempuan dan penyandang disabilitas, Aplikasi pendeteksi gejala demensia hingga penerjemah bahasa isyarat digital yang kompatibel dengan platform seperti WhatsApp dan Google Meet.

Jika SFT mendorong eksplorasi ide, maka Samsung Innovation Campus (SIC) menjadi pusat pelatihan keterampilan teknologi mendalam. Sejak diluncurkan pada 2019, SIC telah membekali ribuan generasi muda dengan keahlian di bidang coding, programming, IoT, dan AI.

SIC menggabungkan pembelajaran teori, praktik langsung, studi kasus, dan mentoring profesional yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja digital saat ini. Tidak hanya ditujukan bagi pelajar dan mahasiswa, program ini juga menyasar para pendidik melalui inisiatif training of trainers untuk memperkuat kapasitas pengajaran digital di sekolah dan kampus.

"SIC bukan hanya tentang menguasai teknologi, tapi tentang bagaimana menggunakan teknologi untuk menciptakan dampak nyata di lingkungan sekitar," terang Rizka Amelia, salah satu fasilitator SIC Batch 6.

Hingga 2025, lebih dari 20.000 pelajar dan mahasiswa, serta ratusan guru telah mengikuti program ini. Pendaftaran untuk SIC Batch 6 bahkan meningkat sebesar 40% dibandingkan batch sebelumnya sebuah bukti antusiasme dan kebutuhan akan pelatihan digital yang relevan dan terstruktur.

Kiprah para peserta dari kedua program ini telah menghasilkan karya-karya yang tidak hanya solutif, tetapi juga kompetitif di kancah internasional. Portable Kit D-Dimer Level Detector dari tim Solyd Ias Universitas Brawijaya, yang memanfaatkan AI untuk mendeteksi risiko sudden cardiac death.

Dentalint, aplikasi pendeteksi karies gigi dari tim Cemerlang Universitas Gadjah Mada. HandsTalk, aplikasi penerjemah bahasa isyarat berbasis AI karya SMAN 1 Sidoarjo. Detektor gejala demensia dari tim Masetasia, MAN Insan Cendekia Serpong. Sementara itu, dari SIC, lahir ide-ide visioner yang telah mencuri perhatian internasional:

Daely, sistem deteksi kantuk berbasis AI dan IoT untuk pengemudi dari Universitas Bina Nusantara, meraih Merit Award di Asia Pacific ICT Alliance Awards (APICTA) 2024. PawPal, perangkat berbasis gamifikasi dari tim BINUS University yang membantu anak-anak mengurangi waktu layar secara sehat.

Program Solve for Tomorrow dan Samsung Innovation Campus tidak hanya memberikan pelatihan teknologi, tetapi juga membangun karakter sebagai pemecah masalah (problem-solver) dan agen perubahan. Dengan mendekatkan teknologi pada anak muda Indonesia, Samsung percaya bahwa masa depan digital yang inklusif dan berkelanjutan bisa tercapai bersama.

Sebagaimana yang tertuang dalam visi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), program ini juga dirancang untuk mencetak inovator muda yang siap menghadapi tantangan global.

"Riset internal Samsung mengungkapkan bahwa 78% generasi muda di Asia Tenggara telah memanfaatkan AI untuk pembelajaran. Potensi besar ini kini diarahkan untuk menciptakan solusi berdampak bagi masyarakat Indonesia melalui pendidikan teknologi yang tepat guna," pungkasnya.