Aktual, Independen dan Terpercaya


Anda Kecanduan Sosial Media? Itu Tanda Anda Idap Penyakit Kejiwaan

Pengguna-Smartphone.jpg
INTERNET
Pemakaian smartphone di monorel dengan alasan mengisi waktu kosong bisa dianggap sebagai kecanduan.

RIAU ONLINE - Aktivitas di sosial media (Sosmed) yang tak mengenal batasan umur, waktu dan ruang, ternyata menyimpan malapetaka bagi orang yang sangat aktif di wadah ini.

 

Betapa banyak orang memiliki berbagai akun sosmed dari beragam jenisnya. Ada Facebook, Path, Twitter, Instagram dan sejenis lainnya.

 

Tapi, apakah Anda tahu, jika keseringan dan telah menderita akut disertai ketergantungan dengan Sosmed, justru mendatangkan malapetaka.

 

Kadangkalan, kata dr. Karunia Ramadhan, Anggota Redaksi Medis Kedokteran Umum KlikDokter.com, ada orang-orang sangat takut dan cemas, jika tidak terhubung dengan akunnya, walau hanya beberapa menit.

 

Baca Juga: Hindari Main HP Sambil Tidur, Ini Alasannya

 

Jika itu terjadi, ini pertanda Anda harus waspada. Mungkin secara tidak sadar kita telah terkena sebuah gangguan kejiwaan disebut dengan FoMO (Fear of Missing Out).

 

Apa itu FoMO? Ini merupakan gangguan kejiwaan pertama kali dikemukakan ilmuwan Inggris, dr Andrew K. Przybylski. Menurutnya, FoMO adalah dorongan berlebihan untuk mengikuti tren untuk mengikuti status terkini milik akun orang lain secara berlebihan.

 

"Atau dengan kata lain, FoMo merupakan gangguan di mana penderitanya sangat kecanduan terhadap internet terutama jejaring media sosial," kata dr. Karunia Ramadhan. 

 

Bahkan penderita FoMO sering merasa cemas dan takut jika sesaat tidak terkoneksi dengan akunnya. Sebagian penderita gangguan kejiwaan ini tidak menyadari, jika dirinya telah mengidap penyakit tersebut. Bahkan gangguan dirasakan dianggap suatu kebiasaan yang wajar pada saat ini.

 

Penyebab pasti gangguan FoMO, kata Karunia, belum diketahui. Namun faktor sosial dan lingkungan menjadi pemicu utama FoMO.

 

"Pada dasarnya, FoMO bukanlah sebuah diagnostik medis, karena diagnosis tersebut tidak tercantum dalam PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa)," jelasnya.

 

Namun, FoMO merupakan suatu masalah sosial yang harus ditangani, karena jika tidak maka akan berdampak buruk bagi penderitanya.

 

"Beberapa teori menyebutkan amigdala dan serotonin dianggap sebagai faktor penyebab timbulnya gangguan FoMO ini," ujarnya.

 

Klik Juga: Di Kampung Ini, Wanita Jomblo Tak Boleh Punya Ponsel

 

Pada amigdala, kerja berlebihan dari bagian otak ini dapat mengakibatkan timbulnya gangguan FoMO. Amigdala sendiri merupakan bagian dari otak yang bertanggung jawab mendeteksi rasa takut dan mempersiapkan diri guna kejadian darurat.

 

"Jadi, para penderita merasa takut jika berjauhan dengan ponsel karena mereka tidak ingin terlambat mendapatkan informasi terbaru dari media sosial," katanya. 

 

Gejala Gangguan FoMO

Guna mengetahui apakah kita termasuk penderita gangguan ini, berikut beberapa gejala penderita FoMO:

1. Tidak dapat melepaskan diri dari ponsel

Takut tertinggal informasi terbaru di media sosial membuat penderita FoMO tidak dapat berpisah dari ponselnya. Ponsel harus senantiasa ada pada saat melakukan aktivitas sehari-hari. Maka apabila penderita lupa meletakkan ponsel atau meninggalkannya di rumah, maka orang tersebut seperti tertimpa musibah besar dan tidak bisa menjalankan aktivitas sehari-hari dengan normal.

 

2. Cemas dan gelisah jika belum mengecek akun media sosial

Menurut sebuah penelitian, pengidap FoMO mampu mengecek akun jejaring sosialnya setiap 30 detik sampai 10 menit sekali. Bahkan, pada saat beribadah pun penderita FoMO tidak dapat berkonsentrasi dan terburu-buru dalam beribadah, sebab yang dipikirkan hanya mengecek akun jejaring sosialnya.

 

Para penderita FoMO sangat takut dan cemas untuk didahului orang lain dalam hal mengetahui informasi dan berkomentar terhadap suatu status.

 

3. Lebih mementingkan hubungan dunia maya dibandingkan dengan dunia nyata

Orang memiliki gangguan FoMO lebih tertarik berhubungan dengan orang-orang di media sosial, dibandingkan rekan di sekitarnya. Bagi penderita FoMO, mereka lebih mementingkan berkomunikasi dengan rekan-rekannya di media sosial dibandingkan mengobrol dengan teman-teman atau pasangannya.

 

4. Terobsesi dengan status dan postingan orang lain

Penderita FoMO selalu ingin tahu mengenai keadaan terkini orang lain dengan cara mengamati wall teman jejaring sosialnya secara berlebihan. Mereka akan melakukan kegiatan tersebut secara berulang-ulang, apalagi jika penderita dihantui rasa cemburu akan status orang lain.

 

Lihat Juga: Demi Menyelamatkan iPhone5, Wanita Ini Terjun ke Danau

 

Maka frekuensi untuk melihat akun orang tersebut menjadi lebih sering. Akibat perilakunya ini, waktu orang-orang yang menderita FoMO akan habis hanya untuk melihat kehidupan orang lain.

 

5. Selalu ingin eksis

Penderita FoMO selalu men-share setiap kegiatan yang dilakukannya. Penderita akan merasa depresi jika akunnya sedikit dilihat orang, namun ia akan merasa sangat gembira jika akunnya banyak like dan dikomentari orang lain.

 

"Seperti penjelasan sebelumnya, penderita akan selalu melihat akun pribadinya secara berulang-ulang dalam waktu singkat guna melihat respon orang lain terhadap eksistensinya," katanya. 

 

Jika Anda menderita beberapa gejala tersebut, segeralah untuk mulai menjaga jarak dengan akun media sosial Anda. Jika gangguan dirasa sangat berat, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter.

 

Pada akhirnya, gangguan FoMO ini akan memberikan dampak yang sangat buruk bagi penderitanya. Penderita akan kehabisan waktu untuk menjelajah dunia maya dan mengabaikan kehidupan nyata. Meningkatnya angka perceraian dan produktivitas yang menurun pada usia produktif merupakan sebagian kecil akibat buruk dari FoMO.

 

Untuk itu, penting bagi pengguna jaringan media sosial untuk lebih bijak dalam menggunakan akunnya, agar kita dapat terhindar dari dampak negatif media sosial.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline