Festival Inovasi Lestari, Ajak Anak Muda Siak Dorong Ekonomi Kreatif

peserta-Festival-Inovasi-Lestari.jpg
Mahasiswa Universitas Riau Indonesia (Unrida Siak) jadi peserta Festival Inovasi Lestari. (HENDRA DEDAFTA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, SIAK – Festival Inovasi Lestari ruang bagi anak muda untuk mendorong ekonomi kreatif sekaligus berkontribusi untuk pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Siak digelar di Gedung Daerah Siak, Selasa 18 November 2025.

Ketua Pelaksana, Noza Rahmad Alditya, menegaskan bahwa gerakan ini dirancang untuk mengumpulkan gagasan segar dari generasi muda.

“Festival Inovasi Lestari adalah gerakan yang mengundang anak-anak muda untuk memberikan ide terkait ketahanan pangan, pariwisata berkelanjutan, restorasi lahan gambut, serta pengelolaan sampah,” ujar Noza.

Selain agenda utama, festival ini juga menghadirkan pelaku UMKM kuliner, fashion, dan berbagai usaha kreatif yang telah dibina oleh tim Skelas sejak tahap awal hingga menjadi produk jadi. Seluruhnya dihadirkan untuk menunjukkan hasil pendampingan yang nyata dan mendorong ekonomi kreatif lokal.

Gerakan ini turut melibatkan berbagai pihak dalam ekosistem ramah gambut, seperti, Alam Siak Lestari fokus pada riset gambut, Sentra Kreatif Siak fokus pada inkubasi produk UMKM dan Pinaloka sebagai rumah produk turunan ramah gambut. 


Dalam rangkaian acara, panitia juga menggelar talk show menghadirkan narasumber dari NGO, perusahaan, akademisi, Pemerintah Kabupaten Siak, hingga insan pers. Sesi diskusi ini menyoroti pentingnya restorasi ekonomi dan pembangunan yang memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Tujuannya adalah menjangkau lebih banyak anak muda di Siak agar mereka ikut bergerak dan memberikan kontribusi konkret untuk daerah,” tambah Noza.

Ia juga menekankan pentingnya peran media dalam menyebarkan narasi positif mengenai gerakan ini, baik di dalam maupun luar Siak.

Talk show tersebut diikuti oleh akademisi, mahasiswa, hingga pelajar. Harapannya generasi muda dapat memahami bahwa pekerjaan masa depan harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

“Kita ingin peserta sadar bahwa ekonomi restoratif adalah masa depan. Tidak hanya pekerjaan ekstraktif yang harus berkembang, tetapi juga pekerjaan yang menjaga lingkungan. 

"Semoga peserta memahami dan mulai memberi perhatian serius pada lingkungan,” tutup Noza.