Antusiasme Penonton Tinggi, Film Dokumenter "Pesta Babi" Diputar di UIN Suska

Nobar-film-pesta-babi.jpg
Nobar Film Pesta Babi di UIN Suska Riau, Rabu, 13 Mei 2026. (RAHMADI DWI PUTRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pemutaran film dokumenter "Pesta Babi" mendapatkan antusiasme tinggi dari kalangan masyarakat, saat ditayangkan dalam Nonton Bareng (Nobar) di Aula Fakultas Pertanian dan Peternakan (Fapertapet) UIN Suska Riau, Jalan HR Soebrantas, Rabu, 13 Mei 2026. 

Sempat terhenti karena pemadaman listrik, namun ratusan penonton dari kalangan mahasiswa, profesional, dan organisasi masyarakat, tetap bertahan di dalam ruangan. Padahal, hampir 30 menit pemadaman listrik terjadi dan membuat film terhenti hingga kondisi ruangan menjadi pengap.

Film "Pesta Babi" yang disutradarai oleh Dandhy Laksono mengusung kondisi masyarakat adat Papua yang terus kehilangan hutan adatnya. Hutan adat mereka terus digusur oleh negara untuk kebijakan swasembada pangan yang dicita-citakan oleh Presiden Prabowo Subianto. 

Dalam film dokumenter tersebut, sejumlah suku di Papua dipotret melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan eksistensi mereka dan lingkungan tempat mereka hidup. Namun, perlawanan mereka tak begitu berdaya.


Nobar film dokumenter ini diselenggarakan dengan kolaborasi media online, AJI Pekanbaru, NGO serta para mahasiswa. Acara ini dihadiri langsung oleh Sutradara Film Pesta Babi Dandhy Laksono, dan mantan Ketua AJI Pekanbaru Ilham Muhammad Yasir.

Dalam kesempatan ini, Dandhy mengatakan film dokumenter yang digarapnya ini merupakan pesan agar anak-anak mudah lebih peduli kepada lingkungan. 

"Masalah hari ini bukan untuk hari ini saja, ini adalah potensi dari masalah yang lebih besar di masa depan. Jadi jangan menghindar, inilah yang akan kalian hadapi dimasa depan, lakukan sesuatu saat ini juga," ujarnya.

Sementara itu, salah satu penonton yang merupakan kalangan profesional, Adhanuraya mengatakan film dokumenter ini menunjukkan keadaan Papua yang sebenarnya.

"Bahwa ada banyak perkara di Papua, bukan hanya emas (Freeport), ada juga hutan juga masih menjanjikan bagi mereka, kita sekarang dijajah oleh VOC baru, perusahaan-perusahaan itu (yang membalak hutan, red)," pungkasnya.