RIAU ONLINE, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto batal menghadiri ASEAN-Russia Commemorative Summit di Kazan, Rusia yang dilaksanakan pada 17–18 Juni 2026.
Menteri Sekretaris Negara yang juga Juru Bicara Presiden Prasetyo Hadi mengatakan, ada sejumlah pertimbangan yang menjadi alasan Prabowo tidak menghadiri pertemuan tersebut.
Beberapa diantaranya adalah Presiden Prabowo belum lama telah bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, khususnya di Moskow pada 13 April 2026, kemudian juga telah bertemu sejumlah pemimpin negara-negara anggota ASEAN saat KTT ASEAN di Cebu, Filipina, pada 7–8 Mei 2026.
"Beliau (Presiden, red.) memiliki pertimbangan tersendiri karena memang masih banyak hal yang beliau ingin fokus untuk diselesaikan di dalam negeri," kata Prasetyo, dikutip dari ANTARA, Rabu, 17 Juni 2026.
"Yang kedua, juga dengan para pimpinan tinggi di negara-negara ASEAN beberapa waktu yang lalu, juga beliau hadir di Filipina, banyak juga yang sudah didiskusikan, termasuk hubungan bilateral dengan negara sahabat terutama Rusia. Beberapa waktu yang lalu juga beliau sudah bertemu dengan Presiden Putin dan membicarakan banyak hal," imbuhnya.
Prasetyo menambahkan, beberapa kerja sama dengan Rusia pun saat ini telah masuk pembahasan teknis.
Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan bilateral di Moskow pada 13 April 2026 secara langsung mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk kembali ke Rusia menghadiri KTT ASEAN-Rusia di Kota Kazan, Tatarstan.
Menteri Luar Negeri Sugiono dalam tayangan video yang direkam di Moskow, Rusia, dan disiarkan oleh Sekretariat Presiden RI, menjelaskan undangan itu diberikan Presiden Putin kepada Presiden Prabowo saat keduanya bertemu di Istana Kremlin.
"Presiden Putin juga menyampaikan undangan bagi Presiden Prabowo untuk menghadiri acara di Kazan, yang akan diselenggarakan pada bulan Mei, dan juga pameran industri besar yang akan dilaksanakan pada bulan Juli yang akan datang," kata Sugiono dalam tayangan resmi Sekretariat Presiden RI.
Undangan tersebut merupakan bagian dari memperkuat hubungan kedua negara yang diharapkan bisa semakin intensif dan membawa kebaikan bagi kedua belah pihak. (ANTARA)

