Yuk Kenali TWA Sungai Dumai, Lokasi Ibu-ibu Padamkan Karhutla

Taman-Wisata-Alam-TWA-Sungai-Dumai.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ISTIMEWA)

 


RIAU ONLINE, DUMAI - Setelah ditetapkan menjadi kawasan lindung berdasarkan SK.Gubernur KDH Tk I Riau No.85/I/1985 Tanggal 23 Januari 1985 serta penetapan kawasan berdasarkan SK.Menhut No.154/Kpts-II/1990 tanggal 10 April 1990, kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sungai Dumai secara resmi diperkenalkan kepada publik.

Dengan karakteristik hutan hujan tropis dataran rendah serta memiliki tipe hutan rawa kering sesuai dengan kriteria hutan wisata, lokasi TWA ini terbelah menjadi dua bagian yang diapit oleh beberapa desa dari bagian tengah sampai ke bagian selatan dan utara.

Di bagian timur berbatasan dengan hutan produksi tetap dan sebelah barat berbatasan dengan hutan produksi yang dapat dikonversi. Jika ditotal, TWA ini memiliki luas 4.712.50 hektare, mengerucut sebelum SK gubernur tahun 1985 dikeluarkan, yang mencapai 5.000 hektare.

Sementara untuk letaknya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memastikan bahwa secara geografis TWA ini berada di antara 1 31 derajat-1 38 derajat lintang utara dan 100 31 derajat-101 28 derajat bujur timur yang terletak di wilayah kota Dumai, provinsi Riau.

Sehingga, kawasan yang berada di pusat kota ini begitu mudah dijangkau menggunakan kendaraan jenis apapun. Baik roda empat ataupun roda dua. Dari ibu kota provinsi Riau, Pekanbaru dengan tujuan agar dapat tiba dengan cepat, RIAUONLINE.CO.ID mencoba menggunakan kendaraan roda dua. Dengan jarak tempuh 215 km, tanpa berhenti dapat memangkas waktu tiba dari biasanya 5,5 jam menjadi 5 jam dengan kecepatan normal, 60-70 kilometer per jam.

Lokasi TWA dapat dengan mudah dijumpai. Warga sekitar menyebutnya dengan daerah Bukit Jin. Sebelah kiri jika sebelum memasuki kota yang bersebelahan dengan markas Manggala Agni. TWA ini berada di bawah pengawasan Seksi Konservasi Wilayah IV Resort Dumai Bidang KSDA WIL II BBKSDA Riau yang berada di Jalan Soekarno-Hatta.

Negara menjadikan kawasan ini menjadi TWA bukan tanpa sebab. Yakni, agar mampu menampung ratusan bahkan ribuan animo masyarakat karena potensi wisata yang dimiliki, seperti perkemahan dan lokasi titik foto yang memukau. Namun telah didahului oleh ketenaran lokasi wisata lainnya yang ada di Dumai.

Seperti Pantai Teluk Makmur, Taman Bukit Gelanggang, Danau Bunga Tujuh, Hutan Wisata, Hutan Mangrove sampai Bandar Bakau. Kelebihan TWA ini justru ada pada lokasi pengamatan satwa liar dengan potensi memukau tidak kalah dengan lokasi wisata edukasi lainnya di Indonesia.

Untuk floranya, masyarakat akan dapat melihat langsung kemegahan dari hadirnya pohon kempas, baik berjenis kayu raja ataupun malaka. Dimana saat ini kehadirannya sudah dilindungi oleh negara berdasarkan peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tentang jenis tumbuhan dan satwa yang ditetapkan baru-baru ini pada 29 Juni 2018 silam dengan nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018.

Pada umumnya, kempas dapat tumbuh di segala bentuk tanah seperti tanah yang berawa, kering, tanah liat atau tanah berpasir. Kempas biasanya dapat digunakan untuk keperluan bangunan seperti lantai sampai untuk keperluan konstruksi-konstruksi berat. "TWA Sungai Dumai adalah kawasan yang diperuntukan untuk tempat wisata. Di sini ada tumbuhan keras seperti kempas," kata Kepala resort TWA Sungai Dumai, Nurjaman di awal Agustus lalu.

Nurjaman menjelaskan dengan capaian tinggi pohon mencapai 40-50 meter, pohon kempas mampu menghasilkan diameter batang dari 110 centimeter sampai 135 centimeter. Dengan ciri-ciri memiliki kulit kombinasi warna putih, kuning sampai merah kecoklatan. Sehingga, menjadikannya salah satu bahan banguna utama favorit bagi sebagian orang.

Selain itu, beberapa kayu keras lainnya juga turut dimiliki oleh TWA Sungai Dumai. Seperti durian, bintangur sampai meranti. Turut hadir juga binatang yang terancam punah tak luput dari pandangan mata. Seperti kucing hutan, burung rangkong sampai tenggiling. "Sedangkan untuk faunanya, TWA ini memiliki kucing hutan, rangkong, tupai, tenggiling sampai burung raja udang," urainya.

 

Hebatnya lagi, TWA Sungai Dumai juga memiliki ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah. Dimana, hutan ini mampu menghasilkan banyak hal termasuk keanakaragaman hayati serta memiliki peran penting untuk mencegah perubahan iklim, sumber air, makanan, energi, kesehatan, ekosistem kawasan sampai ekonomi masyarakat (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, dalam perhelatan Asia-Pacific Rainforest Summit ketiga di Hotel Alana Yogyakarta, Senin 23-24 April 2018) yang jarang sekali dimiliki oleh Kota Dumai sekalipun.

Karena sebagian besar kondisi tanah di sini berupa tanah rawa bergambut dengan kedalaman antara 0-0,5 meter dengan struktur tanah podsolik merah kuning dari batuan endapan, alluvial, tanah organosol, gley humus dalam bentuk rawa-rawa atau tanah basah, seperti dicatat dumaikota.go.id.

Kendati memiliki potensi yang begitu besar, namun tidak dapat terjaga dan diawasi dengan maksimal oleh para petugas. RIAUONLINE.CO.ID bahkan menyaksikan beberapa temuan mencengangkan saat diberi kesempatan untuk melihat sebagian kecil kondisi TWA Sungai Dumai ini.

Ditemukan pancang yang terbuat dari besi, yang dipergunakan oleh oknum yang memanfaatkan kelengahan petugas dan menjadikan kawasan hutan untuk kepentingan pribadi. Dalam area kawasan yang telah ditandai itu terdapat tanaman palawija serta tanaman bukan hutan lainnya yang sengaja dibudi dayakan dalam lokasi hutan lindung. Seperti adanya bibit-bibit yang baru ditanami dengan jenis kelapa sampai mangga.

Berpindah ke lokasi yang berbeda, kami menemukan tanaman ubi kayu yang beberapa bulan lagi sudah siap untuk di panen baik daun maupun umbinya. Hanya dengan bermodalkan kendaraan roda dua dengan ban khas motor trail, sudah cukup mampu untuk menyusuri titik-titik mana saja yang menjadi lokasi paling favorit dari para perusak hutan untuk menjalankan aksinya.

Dalam kawasan TWA ini, mereka memilih akses yang cukup sulit, terjal dengan mengandalkan jalanan setapak dan berliku serta sangat jauh dari keramaian. Sehingga membutuhkan pemandu lapangan yang handal untuk dapat menyaksikan bagaimana mereka perlahan merusak kawasan hutan.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE 

Follow Twitter @red_riauonline

Subscribe Channel Youtube Riau Online

Follow Instagram riauonline.co.id