Ramai Isu PDIP Usung Megawati Nyapres Lagi di Pilpres 2024

megawati-soekarnoputri4.jpg
(Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat berpidato di acara Rakernas ke-2 PDI Perjuangan di Sekolah Partai PDIP, Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan,(Tangkap Layar YouTube PDI Perjuangan))

RIAU ONLINE - Sosok calon presiden (capres) dari PDIP hingga kini masih jadi misteri. Kini mencuat isu adanya kemungkinan Megawati Soekarnoputri sang Ketua Umum PDIP diusulan maju sebagai capres 2024.

Co-Founder Total Politik, Budi Adiputro, menjadi yang pertama kali memunculkan isu ini dalam acara diskusi politik. Budi menyampaikan ide untuk mendorong Megawati nyapres lagi dengan berbagai alasan.

Turut pula hadir dalam acara yang diselenggarakan Perhimpunan Orang Merdeka itu Ketua DPP NasDem Effendi Choirie, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno, Wasekjen PPP Idy Muzayyad, dan Ketua DPP PDIP Eriko Sotarduga.

Mulanya, Budi menyinggung dukungan untuk Ganjar Pranowo dan Puan Maharani sebagai capres dapat memecah belah internal PDIP. Menurutnya, ancaman ini bisa dihindari jika Megawati yang maju di Pilpres 2024.

"Ketika ada fraksi Ganjar dan ada fraksi Puan ya ini bisa membelah partai, bisa membuat partai ini ke depan bisa pincang juga karena keterbelahan," ujar Budi dalam acara di Kopi Politik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dikutip dari Suara.com, Senin, 9 Januari 2023.

"Kenapa nggak disorong ke Bu Mega? Secara umur dan secara konstitusi masih memungkinkan. Jadi, ketika menjadi opsi, maka keterbelahan pasti nggak ada. BTL semua, banteng tegak lurus," sambungnya.

Budi pun membahas negara Amerika Serikat yang calon presidennya tidak lagi muda, namun berpengalaman. Ia menggambarkan hal tersebut bisa terjadi di Indonesia jika Megawati kembali maju sebagai capres.

"Ada negara Amerika Serikat, 2024 kita nanti ketemu kakek-kakek. Presiden Joe Biden, 82 tahun nanti 2024, dan Presiden Donald Trump 78 tahun akan bertarung, berkompetisi menjadi orang paling kuat di muka bumi 2024," tutur Budi.

"Ya, Bu Mega sepantaran lah. Bu Mega kalau nggak salah tahun ini 76. Sekarang masih 75. Tahun depan 77, sama lah. 82 tahun itu apakah Amerika kita bilang nggak ada stok anak muda? Kan nggak juga. Nah itu imajinasinya, boleh dong," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua DPP PDIP, Eriko Sotarduga, menyebut usulan yang menyarankan Megawati maju capres di Pilpres 2024 itu masih masuk akal. Sebab, tidak ada yang salah jika ia diberikan kesempatan untuk memutuskan.

Eriko mengaku akan menyampaikan ide Budi Adiputro itu kepada Megawati. Namun, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Megawati. Ia kemudian meminta publik untuk menunggu hasil keputusan tersebut.


Isu ini turut ditanggapi elite politik lainnya, seperti Waketum PAN, Viva Yoga. Ia menilai jika ide untuk menyarankan Megawati kembali nyapres dapat direalisasikan bisa menjadi spektakuler. Ditambah lagi, Megawati memiliki hak untuk mencalonkan diri dan kondisinya pun masih fit.

Hal senada juga dikatakan Wakil Ketua Umum (Waketum) NasDem, Ahmad Ali. Ia menilai ide itu tidak salah. Sebab, Megawati memenuhi syarat untuk maju sebagai capres. Di sisi lain, Megawati memiliki pengalaman yang memenuhi ambang batas pencapresan.

Namun Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera, justru berpendapat lain. Ia menilai ide itu akan menjadi perjuangan berat. Karena, menurutnya Megawati adalah sosok yang terbukti berhasil membesarkan PDIP.

Menurutnya, keputusan itu merupakan hak internal PDIP. Ia kemudian menyinggung nama-nama capres yang berada di posisi tiga besar dalam survei, (Ganjar, Anies, dan Prabowo). Sehingga, ia mengatakan perjuangan akan berat jika Megawati maju sebagai capres untuk Pilpres mendatang.

Sekjen PDIP Hasto Kritiyanto sebelumnya menyampaikan bahwa partainya punya banyak nama kader potensial untuk menjadi pemimpin, terlebih untuk capres. Hasto menyebut nama Puan Maharani dan Ganjar Pranowo adalah sebagai dari figur kader potensial tersebut.

"Ya sebenarnya banyak nama di PDI Perjuangan. Karena banyak menteri-menteri juga yang diusung PDI Perjuangan mereka dipersiapkan dengan sangat baik," kata Hasto di Kantor DPP PDIP, Jakarta.

Menurutnya, Puan memiliki kapasitas pemimpin yang sudah teruji. Hal itu dibuktikan dengan suksesnya perhelatan Parliamentary 20 (P20) beberapa waktu lalu di Tanah Air.

"Jadi kalau Mbak Puan Maharani memang kapasitas kepemimpinan beliau telah teruji di internal partai legislatif partai di eksekutif partai, tidak ada yang menyangkal terkait kapasitas dan kemampuan leadership dari Mbak Puan, kemarin dalam rangka Parlemen G20 begitu banyak apresiasi," tuturnya.

Hasto juga memuji kinerja Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang dianggap sukses sebagai kader dimulai dari legislatif.

"Pak Ganjar sebagai kepala daerah itu juga berproses anggota legislatif," kata dia.

Lebih lanjut, Hasto juga menyebut nama-nama kader lainnya seperti Olly Dondokambey, Pramono Anum, Tri Rismaharini hingga Ahmad Basarah. Menurutnya, figur-figur tersebut juga potensial.

"Ada Pak Olly yang prestasi sangat baik di Gubernur di Sulawesi Utara kemudian ada pak Pramono Anum ada ibu Risma yang mampu membawa perubahan, ada Pak Anas ada Pak Ahmad Basarah yang usia begitu muda menjadi dua kali wakil ketua MPR ada Pak Djarot wali kota pernah, anggota legislatif pernah, wakil gubernur pernah, sehingga banyak Bapak Eriko, Pak Nus," tuturnya.

Ia menegaskan bahwa PDIP tidak akan kekurangan stok kader sebagai pemimpin. Menurutnya, hal itu buah dari proses kaderisasi yang terus berjalan.

"Jadi kita tidak pernah berhenti melakukan kaderisasi kepemimpinan ada pak Wayan Koster. Jadi PDIP tidam kekurangan stok pemimpin. Itu yang di persiapkan," imbuh Hasto.