Bambang Hero, Guru Besar IPB Raih Penghargaan John Maddox 2019

Bambang-Hero.jpg
(Azhar)

Laporan: NURHAYATI PAKPAHAN 

RIAU ONLINE - Pakar Gambut dan Ilmu Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), Bambang Hero Saharjo, menerima penghargaan John Maddox Prize 2019 atas dedikasinya yang gigih gunakan data penelitian dimilikinya sebagai bukti melawan pandangan salah terkait kebakaran hutan di Indonesia.

Bambang Hero sering didengarkan kesaksian atas keahliannya di berbagai sidang pengadilan dalam kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di tanah air dengan pelaku perusahaan.  

Atas kesaksiannya di pengadilan dalam mengungkap kebenaran di kasus Karhutla, Bambang Hero tak jarang harus menerima ancaman, pelecehan, intimidasi bahkan digugat di pengadilan. 

Bambang Hero Saharjo merupakan Guru Besar IPB dengan spesialisisasi forensik kebakaran hutan dan lahan. Ia mengumpulkan bukti-bukti kejahatan dilakukan beberapa perusahaan yang dituduh menggunakan metode ilegal berupa tebang-bakar saat membuka lahan gambut.

Lahan yang dibuka menggunakan cara membakar tersebut, seperti dilansir dari The Guardian, setelah padam, kemudian ditanam dengan tanaman seperti kelapa sawit, akasia untuk industri kertas dan bubur kertas serta karet. 

Sebagai ahli saksi, Bambang Hero banyak menerima ancaman pembunuhan dan telepon mengancam keluarganya, anak dan istri akan mendapat kekerasan fisik, jika ia tetap bekerja dan bersaksi. 

Termasuk, orang-orang suruhan datang ke kampusnya, IPB, untuk mencarinya. Akibatnya, staf di Kampus IPB terganggu serta diliputi rasa takut. 

“Rekan kerja saya memberitahu saya, sekarang saya menjadi ‘buronan’ bagi beberapa perusahaan terlibat dalam kasus kebakaran. Mereka berpikir, bisa melakukan apa saja mereka inginkan terhadap saya, keluarga dan bahkan pekerjaan saya,” ucap Saharjo kepada The Guardian.

Ia kemudian menjelaskan, tentu saja cemas, tapi sebagai seorang ilmuwan, ia harus menceritakan kebenaran diyakininya. Jika ia berhenti berjuang, maka dirinya sama saja dengan mereka.

"Saya harus menjadi bagian dari solusi kasus tersebut, bukan menjadi si pembuat masalahnya,” tuturnya. 

Kebakaran hutan terjadi tiap tahunnya di Pulau Sumatera dan Kalimantan menyebabkan asap menyelimuti kedua pulau tersebut, bahkan hingga negara tetangga, Singapura dan Malaysia.

Dampaknya, terganggunya pernapasan penduduk terdampak asap Karhutla. Berdasarkan data dari Unicef, setidaknya 10 juta warga terancam kesehatannya akibat asap kebakaran hutan dan lahan tersebut. 

Selain berdampak terhadap kesehatan, asap ditimbulkan membuat sekolah dan bandara di beberapa wilayah akhirnya ditutup. Secara keseluruhan, biaya ekonomi harus ditanggung Indonesia bisa mencapai lebih dari Rp 10 triliun tiap tahunnya.

Walaupun beberapa kasus kebakaran hutan terjadi secara alami karena mulainya musim kemarau, sebagian besar kebakaran tersebut diatur dengan sengaja oleh perusahaan-perusahaan dengan membakarnya.

Cara membakar itu termudah dilakukan perusahaan di lahan gambut. Ketika api menyulut lapisan gambut, nyala api tersebut tidak akan bisa padam hingga musim hujan tiba.

Di luar efek kesehatan, pendidikan, dan ekonomi bisnis, kebakaran hutan juga mengeluarkan lebih dari 1 miliar ton karbondioksida tiap musimnya.

Bambang Hero telah memberikan kesaksian terhadap 500 kasus Karhutal menggunakan metode ilmiah untuk menyelidiki dimana dan kapan kebakaran tersebut dimulai, metode apa mereka pakai dan berapa banyak jumlah asap serta gas rumah kaca dikeluarkan.

Informasi tersebut kemudian dipresentasikan di pengadilan. Pada 2015, kesaksian Bambang Hero membantu dalam menyelamatkan tuduhan bersalah terhadap perusahaan sawit JJP.

Kemudian di 2018, perusahaan tersebut mengajukan gugatan Rp 472 miliar terhadap Bambang Hero dengan menyatakan bahwa kesaksiannya banyak cacat di dalamnya, namun kemudian membatalkan gugatan tersebut.

“Saya sangat terkejut bisa mendapatkan penghargaan tersebut. Saya berpikir orang-orang di luar sana tidak melihat apa saya lakukan di lapangan,” tutur Bambang Hero.

Dengan menanyakan apakah penghargaan tersebut dapat membantu pekerjaannya, Bambang Hero mengatakan, hal tersebut bisa membantunya mendapatkan wewenang menghadapi perusahaan terus membakar hutan saat membuka lahan.

Penghargaan John Maddox 2019 ini merupakan penghargaan kedua dalam karirnya sebagai peneliti. Sebelumnya, penghargaan serupa diberikan kepada Olivier Bernard, seorang apoteker di Quebec, Kanada, mengklaim advokasi alternatif bidang kesehatan sempat melobi pemerintahan untuk memberikan izin dan membayar kembali injeksi vitamin C dalam dosis tinggi untuk para pasien penyakit kanker.

Sejauh ini tidak ada bukti adanya keberhasilan dalam injeksi tersebut. Akibatnya Bernard menjadi target dan sering mendapatkan ancaman pembunuhan.

Namun setelah memberitakan skandal tersebut, pemerintah membentuk satgas melindungi pakar ilmiah tersebut atas keberaniannya berbicara mengenai topik sensitif.

Penghargaan ini diberikan secara bersama oleh donasi Sense about Science dan jurnal Nature, dimana John Maddox sebagai seorang editor sebelumnya.

“Apa dilakukan Bambang dan Olivier, kita bisa lihat orang-orang berani berbicara di depan publik untuk mendapatkan haknya sebagai seorang warga negara dan menjunjung tinggi nilai dari suatu ilmu pengetahuan kepada kita semua. Mereka juga melihat dengan tidak mengambil tindakan apapun adalah perbuatan salah. Sebaliknya lebih memilih bertanggung jawab dalam mengkomunikasikan bukti-bukti yang ada," kata Direktur Sense About Science, Tracey Brown.