Jokowi: Menteri LHK dan Pemda Harus Evaluasi Izin di Gambut

Presiden-Jokowi-Kunjungi-Kalsel-dan-Kalteng1.jpg
(FANPAGE PRESIDEN JOKO WIDODO)

RIAU ONLINE - Kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan untuk melihat langsung seperti apa kebakaran hutan dan lahan, Rabu-Kamis (23-24/9/2015), menimbulkan kesan tersendiri bagi Joko Widodo. 

 

"Saya menyaksikan langsung kebakaran lahan dan hutan di lahan gambut di Kalimantan Selatan dan Tengah. Api bermunculan dari bawah permukaan tanah hanya dalam waktu lima menit," tulis Presiden Jokowi, Sabtu (26/9/2015) di akun lini masa Fanpage Facebook-nya. (Baca Juga: Eksploitasi Gambut Sebabkan Riau Merana 18 Tahun

 

Sumber api, tuturnya, muncul di area terbuka dan tersedia cukup oksigen di permukaan lahan. "Saya perintahkan diambil langkah sesegera mungkin agar kebakaran tidak meluas," kata Jokowi menginstruksikan. 

 

Satu-satunya cara, tutur mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, untuk mengatasi persoalan kebakaran di lahan gambut hanya dengan pencegahan berupa menjaga ekosistem gambut. (Klik Juga: Adakah Kapolda Seperti Sutjiptadi Mampu Atasi Asap Riau

 

Jokowi Tinjau Kebakaran lahan di Kalteng dan Kalsel

 

"Dalam rapat di tengah medan berat tersebut, saya menegaskan secepat-cepatnya memadamkan api dengan pembasahan (rewetting) gambut, yang merupakan bagian dari langkah tata kelola ekosistem," jelasnya. 

 

Selain membasahi gambut, harus dilakukan tata kelola air kawasan hutan dan lahan dalam gambut agar re-wetting lahan gambut sedang terbakar mudah dilakukan. (Lihat Juga: Tagih Janji Jokowi Blusukan Asap ke Riau

 

"Saya instruksikan kepada Menteri LHK dan pemerintah daerah untuk mengevaluasi pemberian izin konsensi di lahan gambut serta mewajibkan perusahan membuat embung-embung air di areal konsensinya," tegasnya. 

 

Selain itu, Jokowi juga telah memerintahkan Menko Polhukam, Menteri LHK, Kepala BNPB, Kapolri dan Panglima TNI untuk sesegera mungkin melakukan pembasahan lahan gambut yang sedang terbakar dengan dukungan operasi bakti TNI. (Baca: Digertak Jakarta, Tokoh Riau Lari Terbirit-birit

 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Scale Up, Harry Oktavian mengatakan, apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo untuk mengatasi kebakaran lahan gambut dan asap saban tahun terjadi, sudah tepat. 

 

Jokowi Kunjungi Kalteng dan Kalsel

 

"Pertanyaan saya, pada kemana suara-suara pakar gambut yang menggadang-gadangkan pengelolaan water management mampu atasi kebakaran hutan dan lahan? Sawit dipaksakan, akasia juga. Kenapa dulu nenek moyang kita di Riau menanam karet dan lainnya. Itulah keseimbangan," tutur Harry. (Klik: Perusahaan Malaysia dan Singapura Ternyata Bakar Lahan

 

Kenapa tiga hari ini hujan mengguyur beberapa daerah di Riau justru tak mampu mengurangi asap? karena material gambut itu semuanya sudah terbakar akibat kering. Selain itu, tidak tuntasnya api dipadamkan justru menimbulkan asap tebal. Itulah ciri khas gambut. 

 

"Gambut harus basah itu karakteristiknya. Jika gambut kering, apalagi dengan cara membuat kanal-kanal, sehingga airnya langsung ke sungai atau laut, itu membuat material-material gambut cepat terbakar dan sulit dipadamkan," kata Harry kepada RIAUONLINE.CO.ID

 

Lalu, kapan gambut itu bisa dipadamkan? Hingga material kering itu habis dan api menemui material yang basah. Kenapa dikeringkan, perusahaan ingin investasi di lahan gambut. Itu sebenarnya lawan alam. (Lihat: Azlaini Agus Menangis Negara Gagal Atasi Asap

 

"Alam terkembang jadi guru. Itu seharusnya digunakan. Buruk rupa cermin dibelah. Bagaimana memanfaatkan gambut secara lestari dengan mempertahankan fungsi-fungsi gambut itu sendirinya," ujarnya.

 



Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline