Energi Alternatif Karya Warga Pekanbaru: Cerita Aldi Sulap Sampah Jadi Solar

Sampah-jadi-Solar4.jpg
Aldi menunjukkan solar yang dihasilkan dari sampah (RAHMADI DWI PUTRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Di sudut Kota Pekanbaru, tepatnya di Kelurahan Agrowisata, Kecamatan Rumbai Barat, asap hitam sesekali mengepul dari cerobong asap.

Di sana, Aldi seorang operator, berdiri di depan satu unit mesin berwarna hitam dan kecoklatan yang menjadi kunci transformasi luar biasa, mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif.

“Ide awalnya kita melihat situasi sampah di Kota Pekanbaru yang makin parah,” tutur Aldi sambil mengingat kembali awal perjalanan usahanya.

“Bersama pengurus yang lain, kami berpikir bagaimana caranya mengurangi sampah plastik. Dari situ, muncullah ide mendatangkan mesin pirolisis,” sebut Aldi, Jumat, 8 Agustus 2025.

Mesin pirolisis yang kini menjadi jantung produksi ini mereka dapatkan dari sebuah bank sampah di Banjarnegara, Jawa Tengah. Dari hubungan kemitraan itulah, akhirnya mesin ini dipasang dan dioperasikan di Pekanbaru.

Proses Mengolah Plastik Jadi Bahan Bakar

Tidak semua plastik bisa diolah. Aldi menjelaskan, hanya plastik kering seperti botol, kantong plastik, atau bahkan styrofoam yang dapat diproses. Plastik berlapis aluminium foil, seperti bungkus makanan ringan harus disisihkan.

Tahapan pengolahan dimulai dengan memasukkan plastik ke dalam reaktor, bukan dibakar langsung. Proses ini berlangsung bertahap, 30 kilogram di tahap pertama, 30 kilogram tahap kedua, dan 40 kilogram terakhir, menyesuaikan kapasitas mesin yang mencapai 100 kilogram per hari.

“Dari 100 kilogram plastik, kami bisa dapat 80 sampai 85 liter bahan bakar, tergantung kadar airnya, sisanya adalah residu dan air yang tak terhindarkan,” jelas Aldi.

Sampah jadi Solar3Proses pengolahan sampah plastik menjadi solar. (RAHMADI DWI PUTRA/RIAU ONLINE)


Bahan bakar yang dihasilkan diberi nama Petasol. Petasol dapat digunakan untuk mesin diesel, seperti traktor pertanian hingga mobil pribadi. Hasil uji laboratorium BRIN dan Migas menunjukkan kualitasnya setara dengan solar dari Pertamina, dengan cetane number 54,2 dan kandungan sulfur 23,6.

Aldi kemudian menunjukkan uji coba Petasol dari sampah itu digunakan pada mobil pikap. Hasilnya, mobil menyala dan melaju dengan lancar tanpa gangguan maupun hambatan. 

Harga Terjangkau, Manfaat Nyata

Dengan harga Rp10.000 per liter, Petasol menjadi alternatif terjangkau bagi petani. 

“Petani tidak perlu lagi jauh-jauh membeli solar di luar, apalagi kalau sedang musim tanam,” ujar Aldi.

Dalam sebulan, mereka mampu memproduksi sekitar 1,2 ton petasol. Pasokan bahan baku sebagian besar datang dari bank-bank sampah di Pekanbaru. 

Sampah jadi Solar2Petasol, energi alternatif dari sampah. (RAHMADI DWI PUTRA/RIAU ONLINE)

 

Aldi berharap ke depan, lebih banyak Lembaga Pengelola Sampah (LPS) bersedia mengirimkan plastik ke Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST), sehingga sisa organik bisa diolah menjadi pupuk cair dan produk lain yang juga sudah mereka hasilkan.

Tantangan dan Harapan

Mesin bekerja lancar, namun tantangan terbesar ada pada pemasaran

“Banyak masyarakat belum tahu kalau plastik bisa jadi bahan bakar. Kadang mereka tidak percaya, sampai kami tunjukkan hasilnya,” kata Aldi.

Sampah jadi SolarUji coba Petasol dari sampah pada mobil pikap. (RAHMADI DWI PUTRA/RIAU ONLINE)

Bagi Aldi, tumpukan sampah yang biasanya menjadi masalah bisa berubah menjadi sumber energi yang membantu petani, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan tentu saja mengurangi pencemaran lingkungan.

“Kalau dulu plastik hanya jadi beban, sekarang bisa jadi penyelamat,” ujar Aldi sambil tersenyum.