RIAU ONLINE, PEKANBARU – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejumlah wilayah Riau sepanjang malam belum sepenuhnya menghentikan kemunculan Hotspot atau titik panas. Hingga Sabtu, 19 September 2026, sebanyak 91 hotspot masih terdeteksi di Provinsi Riau, termasuk empat titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), empat hotspot tersebut memiliki confidence level 80–100 persen. Tiga titik berada di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), sedangkan satu titik lainnya terdeteksi di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Indah DN, mengatakan keberadaan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi menjadi salah satu indikator yang perlu mendapat perhatian dalam pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, menurutnya, perlu terus dipantau, khususnya di wilayah yang masih menunjukkan kemunculan titik panas meskipun sebelumnya diguyur hujan.
Dari total 91 hotspot yang terdeteksi di Riau, Kabupaten Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 47 titik. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Indragiri Hilir dengan 36 titik panas.
Titik panas lainnya tersebar di beberapa daerah, yakni Kampar 3 titik, Kuantan Singingi 2 titik, Kepulauan Meranti 1 titik, Rokan Hulu 1 titik, dan Kota Pekanbaru 1 titik.
Data tersebut menunjukkan konsentrasi hotspot masih berada di wilayah timur Riau, terutama Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir.
Secara regional, jumlah titik panas yang terdeteksi di Pulau Sumatra pada Sabtu mencapai 2.118 titik. Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 1.656 titik.
Selanjutnya, titik panas terdeteksi di Jambi sebanyak 152 titik, Kepulauan Bangka Belitung 180 titik, Lampung 36 titik, Kepulauan Riau dua titik, serta Bengkulu satu titik.
BMKG terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan cuaca dan sebaran titik panas di wilayah Sumatra, khususnya Riau.
Pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya deteksi dini untuk mengantisipasi potensi karhutla, sekaligus melihat perkembangan kondisi atmosfer dan faktor cuaca yang dapat memengaruhi munculnya titik panas di sejumlah wilayah.

