Gangguan Kesehatan Dampak Karhutla di Pekanbaru Tembus 4.566 Kasus

ilustrasi-gangguan-kesehatan-saat-karhutla.jpg
Ilustrasi gangguan kesehatan akibat karhutla (AI Gemini)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menunjukkan ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat di Kota Pekanbaru. Hingga 15 September 2026, Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru mencatat sebanyak 4.566 kasus gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan karhutla.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Hazli Fendrianto, mengatakan ribuan kasus tersebut terdata sejak 25 Agustus 2026 dan dihimpun dari 50 unit fasilitas pelayanan kesehatan yang menjadi titik pelaporan.

“Total kasus masyarakat Pekanbaru yang terdampak karhutla sebanyak 4.566 kasus. Paling banyak adalah ISPA sebanyak 4.091 kasus,” kata Hazli kepada Riau Online, Selasa 15 September 2026.

Selain ISPA, gangguan kesehatan yang ditemukan meliputi asma, iritasi kulit, konjungtivitis atau gangguan pada mata, hingga pneumonia.

Berdasarkan data Diskes Pekanbaru, tercatat 334 kasus asma dan iritasi kulit, 117 kasus konjungtivitis, serta 24 kasus pneumonia. Data tersebut dihimpun dari 21 puskesmas dan 29 rumah sakit di Kota Pekanbaru.

Hazli menyebut lonjakan kasus cukup signifikan terjadi pada periode pemantauan. Salah satu peningkatan tertinggi tercatat pada 1 September 2026 dengan 341 kasus. Sementara pada 10 September 2026, kembali tercatat peningkatan sebanyak 299 kasus.

“Lonjakan paling banyak itu memang pada 1 September, sebanyak 341 kasus. Kemudian peningkatan kasus juga terjadi pada 10 September sebanyak 299 kasus,” ujarnya.

Hazli menegaskan, berdasarkan pemantauan hingga saat ini, ancaman kesehatan akibat paparan karhutla di Pekanbaru masih berada pada tingkat yang perlu diwaspadai.

Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan paparan asap yang berlangsung secara fluktuatif namun terjadi dalam kurun waktu beberapa pekan.

“Kesimpulan kita sampai hari ini, ancaman kesehatan akibat karhutla di Kota Pekanbaru tentu berada pada tingkat waspada tinggi, mengingat paparan berlangsung secara fluktuatif namun konstan selama beberapa minggu,” jelasnya.



Selain kasus ISPA yang mendominasi, Diskes Pekanbaru juga memberikan perhatian khusus terhadap peningkatan kasus pneumonia dan asma.

“Ancaman serius yang membutuhkan penanganan rawat inap atau lanjutan adalah peningkatan kasus pneumonia. Per hari ini sudah ada 24 total kasus, kemudian asma 144 total kasus,” kata Hazli.

Ia mengatakan kelompok rentan menjadi perhatian utama dalam kondisi kabut asap, terutama balita, ibu hamil, lanjut usia (lansia), serta masyarakat yang memiliki penyakit kronis.

“Kelompok yang paling terdampak ini adalah balita dan lansia. Ini yang harus kita lindungi,” tegasnya.

Mengantisipasi dampak kesehatan yang semakin meluas, Diskes Pekanbaru mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara belum sepenuhnya membaik. Jika aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari, masyarakat diminta menggunakan masker.

“Pertama, masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah. Kalau memang terpaksa beraktivitas di luar ruangan, kami mengimbau wajib memakai masker,” ujar Hazli.

Masyarakat juga diminta menutup rapat pintu dan ventilasi rumah agar asap dari luar tidak mudah masuk ke dalam ruangan. Selain itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga dinilai penting untuk menjaga kondisi tubuh selama terpapar asap.

“Di samping itu kita tetap minta masyarakat menerapkan PHBS dan pola hidup sehat, seperti mencuci tangan, banyak minum air putih dan makan sayuran,” katanya.

Diskes Pekanbaru juga terus melakukan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat melalui jaringan puskesmas. Edukasi terutama diarahkan kepada kelompok rentan, termasuk anak-anak usia sekolah yang saat ini mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat kondisi udara.

Hazli meminta orang tua ikut memastikan anak-anak tetap berada di rumah selama pelaksanaan PJJ dan tidak melakukan aktivitas di luar ruangan yang tidak diperlukan.

“Kepada anak-anak usia sekolah, kalau memang mereka melakukan PJJ, harus betul-betul berada di rumah. Kami minta orang tua bisa bekerja sama memantau anak-anaknya,” ujarnya.

Selain edukasi, Diskes Pekanbaru juga terus membagikan masker kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya perlindungan selama kondisi kabut asap masih berlangsung.

“Kita intens melakukan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pemakaian masker. Kita juga membagikan masker kepada masyarakat setiap hari karena kita tidak tahu kondisi ini sampai kapan,” kata Hazli.

Diskes Pekanbaru, lanjutnya, akan terus memantau perkembangan kasus gangguan kesehatan akibat karhutla. Evaluasi akan dilakukan secara berkala untuk melihat perkembangan dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh paparan asap.

“Kita akan evaluasi lagi apa akibat dari karhutla ini terhadap kesehatan masyarakat,” pungkasnya.